Archive | Agustus 2012

Bismillah, lagi nulis yg lain


Liat tulisan sebelumnya: masih postingan tanggal 7 Agustus 2012, liat postingan di kompasiana masih segitu-gitu aja… di dakwatuna padat merayap apalagi yg di fimadani udah lama banget nggak nulis……….ada apakah ini???

Dan kali inipun hanya sebait kata di atas yg bisa tertulis. Bismillah, lagi nulis yg lain… 🙂

Iklan

Dilema #1: Dialog Petani dan Pendaki


Seorang petani sedang berpeluh dalam keringatnya.. membajak sawah menaburkan benih dan memperbaiki irigasi di sekelilingnya…. di kejauhan tampak terlihat gunung yang begitu Indah. Pesonanya mirip sekali seperti gambar anak-anak SD ketika diminta menggambar pemandangan oleh gurunya…

Sang Pendaki, ternyata dulu juga adalah petani, pernah merasakan teriknya mentari di tengah sawah, kubangan lumpur yang membasah dan tetes keringat yang tercurah.

Dua kondisi yang berbeda…. yang satu hanya bisa melihat gunung dari kejauhan.. di bawah… yang satu lagi bisa menjejak hingga bukit gunung. dan terlebih lagi sang pendaki bisa melihat hamparan sawah yang begitu indah, begitu luas dengan undak sengkedang berlapis-lapis.

Seketika keheningan berubah jadi amarah…

“Hei pak tani…. yang bener dong mengurusi sawahnya itu banyak padi menguning yang belum dipanen, banyak  lahan yang belum dibajak, banyak irigasi yang mampet, banyak lahan justru gagal panen… ngapain saja sih kerjaanmu?”

“Hai, bung engkau tidak tahu bagaimana sulitnya menggarap lahan berhektar-hektar ini dengan petani yang SEDIKIT, engkau tidak mengerti bagaimana kami dipusingkan dengan hama-hama dan cuaca yang tak menentu.”

“Lho, buktinya dulu saat aku jadi petani, aku bisa bisa saja tuh mengurusi lahanku, padinya tumbuh baik, hasil panenpun meningkat, tak ada hama-hama yang menghantui.”

“iya, itu DULU, beda dengan SEKARANG.”

Memang sih, seorang pendaki, dia ada di bukit yang tinggi, bisa melihat dari ketinggian yang mampu melihat kondisi keseluruhan pemandangan yang ada di bawahnya, tapi ia yang di ketinggian itu tak mampu memahami detail kondisi di lapangan, betapa sulitnya kondisi saat ini saat cuaca semakin tak menentu, saat penyakit-penyakit tanaman semakin beranekaa ragam… masalah yang lebih kompleks dibandingkan zaman dahulu… Sang petani menyadari, dia masih di pematang sawah, yang dilihatnya tak seluas cakrawala sang pendaki, tapi hanya satu yang diminta seorang petani itu.. PENGERTIAN… itu saja sudah cukup

sekian ah, random banget tulisan ini… hanya sebagian kecil mungkin yang mengerti maknanya…

malam ke-17 ramadhan

Kontrakan yang semakin sepi ditinggal penghuninya

Damba CintaMu


tak ada kata yang pantas terucap dari lisan saya saat ini selain kata Alhamdulillah yang terus menerus harus diucapkan.

alhamdulillah…. saya masih bisa bertemu bulan yang teramat istimewa.. bahkan bulan ramadhan ini bulan ramadhan paling istimea sepanjang hidup saya. Allah memberikan begitu banyak tarbiyah-Nya lewat berbagai kejadian penting yang sayangnya tak dpat saya tuiskan seperti rangkaian kisah ramadhan tahun sebelumny.

alhamdulillah…. saya masih bisa merasakan betapa kasih sayaNya begitu nyata merasuk kedalam setiap rangkaian perjalanan hingga pertengahan ramadhan ini. pintu-pintu taubat, ruang-ruang kasih sayang dan jendela hidayah terasa amat besar IA berikan dibulan ini.

alhamdulillah… rezeki yang tak terduga selalau ia berikan pada hambaNya yang membutuhkan, saya tak bisa menyangk, betul-betul tidak menyangka bahwa Ia masih menitipkan rezeki yang begitu berharga pada saya hingga saat ini.

alhamdulillah… meski tak sempat menulis tiap hari, tapi tarbiyah-Nya benar-benar membuat saya tertegun, menyadari bahwa ini memang benar-benar bulan yang sangat istimewa,

alhamdulillah… sekali alhamdulillah ya rabb… engkau masih memberikan pada hamba kesempatan untuk merasakan indahnya ramadhan tahun ini. bantu hamba untuk terus istiqomah di jalanMu, bantu hamba untuk terus memperjuangkan syariatMu, bantu hamba untuk senantiasa bersyukur padaMu, karena ridho dan kasih sayangMu lebih berarti dari dunia dan segala isinya.

alhmadulillah… meski seringkali hamba kufur atas nikmatMu, tapi Engkau masih teramat sayang pada hamba… memberi hamba kesempatan untuk menjadi pribadi yang lebh baik dan menyadari bahwa hakikat hidup ini adalah mengabdi padaMu.

alhamdulillah… meski Kau tak butuh targetan-targetan yang hamba canangkan, tapi bersyukur hamba masih bisa memenuhhi targetan itu dan sedang berproses untuk tidak mengurangi kesalahan-kesalah di waktu yang lalu.

alhamdulillah… cintaMu begitu dekat terasa…

Tuhanku ampunkanlah segala dosaku
Tuhanku maafkanlah kejahilan hambaMu

Ku sering melanggar laranganMu
Dalam sedar ataupun tidak
Ku sering meninggalkan suruhanMu
Walau sedar aku milikMu

Bilakah diri ini kan kembali
Kepada fitrah sebenar
Pagi ku ingat petang ku alpa
Begitulah silih berganti

Oh Tuhanku Kau pimpinlah diri ini
Yang mendamba cintaMu
Aku lemah aku jahil
Tanpa pimpinan dariMu

Ku sering berjanji depanMu
Sering jua ku memungkiri
Ku pernah menangis keranaMu
Kemudian ketawa semula

Kau Pengasih Kau Penyayang Kau Pengampun
Kepada hamba-hambaMu
Selangkah ku kepadaMu
Seribu langkah Kau pada ku

Tuhan diri ini tidak layak ke syurga Mu
Tapi tidak pula aku sanggup ke neraka Mu

Ku takut kepadaMu
Ku harap jua padaMu
Moga ku kan selamat dunia akhirat
Seperti rasul dan sahabat

Jogja,16 ramadhan 1433 H,  23.00WIB

selepas  acara dari jogja untuk rohingya di maskam ugm