Archive | September 2012

Skripsi adalah cinta… dan cinta akan meminta segalanya darimu…


Skripsi adalah cinta. Dan cinta akan meminta segalanya darimu. Mulai dari berjalan, duduk dan tidurmu. Bahkan isi mimpimupun tentang skripsi. Tentang wisuda yang selalu dinanti. #SemangatSkripsi

Iklan

Press Release


Engkau boleh kagum pada seseorang, engkau boleh suka padanya, tapi simpan rasa cintamu hanya untuk dia yang nantinya akan benar-benar menjadi pendamping hidupmu selamanya.

Allah penyimpan segala misteri, kita tak pernah tahu apa kehendaknya nanti. boleh jadi ia akan mempertemukan kita dengan seseorang yang sama sekali belum pernah kita mengenal namanya, belum pernah bertemu dengannya.

Karenanya, minta, harap dan mohonlah CintaNya, agar ia mempertemukan dengan setetes cinta di dunia ini pada seseorang dan waktu yang tepat.

Dilema #7: Saat kerja kita tak pernah dihargai…


ada 3 grup ‘pembantu’ di sebuah rumah mewah pejabat. yang satu dibagian security penjaga pintu gerbang, yang satu bagian ruang tamu dan penyiapan segala akomodasi perjamuan untuk para tamu dan yang terakhir di bagian dapur dan masak-memasak…ketiganya terikat kontrak untuk menyelesaikan tugasnya kepada agen yang telah mempekerjakannya di rumah tersebut,,

pembantu bagian security tugasnya menjaga keamanan rumah dan menjadi garda terdepan dalam penyambutan tamu, artinya sebelum ada tamu yang masuk, pasti akan berinteraksi dengan bagian security. pun begitu juga bagian reservasi ruang tamu yang sering menyambut  di pintu ruang tamu, mempersilahkan masuk dan tak jarang ikut bersamaan dengan sang majikan saat mempersilahkan jamuan makannya. Beda lagi dengan pembantu yang ada di dapur,, mereka tak terlihat. kerja-kerjanya sunyi…. tak terlihat oleh tamu, tak terlihat oleh majikan, hingga wajarlah bila tamu tak mengenali mereka.

Hingga suatu ketika, saat ada tamu penting di rumah itu terdengar celetukan,

“kok sayurnya hambar ya?” 

“kok tiap kami bertamu ke sini menunya ini terus ya?”

“kok nasinya belum matang ya?”

… dan kok kok yang lain hingga si tuan rumah merasa tersindir.

Seketika tamu itu sudah pulang, sang tuan rumah kemudian memanggil pembantu bagian dapur hendak dimarahi atas keteledorannya.

“tadi, saya mendengar laporan dari para tamu, kalau….. bla-bla-bla……. Apa saja sih yang kalian kerjakan di dapur, masa tinggal masak aja nggak mampu, kalian sudah diberikan pekerjaan di posisi itu oleh agen kalian.”

“terkait masakan tadi, kami minta maaf tuan atas kecerobohan kami. Jujur kami sudah berusaha maksimal untuk menyediakan masakan yang terbaik, tapi banyak sekali pekerjaan kami di dapur sehingga kami terkejar deadline yang sangat banyak. kami masih harus berurusan dengan kebersihan bagian belakang rumah tidak hanya bagian dapur, kami harus menyiapkan masakan dan menu-menu lainnya dengan waktu yang singkat dan.. satu hal yang perlu tuan pahami, kami yang di dapur ini tak lebih dari dua orang, kami jujur tidak sanggup mengerjakan tugas-tugas menumpuk di dapur dengan kondisi seperti ini. sehingga…. nasi yang seharusnya belum matang benar, terpaksa kami angkat, sehingga …. sayur-sayuran yang kami masak terlupa dimasukkan garam, sehingga…. kami tak sempat membuat menu-menu lainnya yang butuh waktu lama untuk membuatnya. Maaf, tuan sendiri yang pernah bilang… kalau kami tidak mengurusi perihal beli-membeli bahan makanan. tugas kami di dapur hanya MENGELOLA bahan yang sudah tersedia saja.. kami sadari kami memang tidak mampu, kami sadari kami memang banyak salah, tak mampu mengerjakan tugas dengan baik tapi cobalah tuan mengeti kondisi kami. Setiap ada kegiatan bersih-bersih halaman depan dan ruang tamu, kami dilibatkan daan diharuskan untuk ikut, tapi ketika berurusan dengan bagian belakang, hanya kami berdua, tidak lebih. Ketika kelima kawan-kawan kami bekerja di bagian luar, kami sadari pekerjaan mereka juga melelahkan dan sangat berat untuk mengecek agar jangan sampai ada tamu sembarangan yang masuk, supaya keamanan rumah ini terjaga. Kami hormati tugas dan peluh mereka di luar sana. Kami tak butuh belas kasih, kami hanya ingin dimengerti, bahwa tugas kami dan mereka berbeda. meskipun demikian, ada kesamaan komitmen yang ingin kita berikan, bahwa kami mengabdi untuk bekerja di rumah ini sesuai dengan kontrak yang telah kami sepakati bersama. Tuan, sekali lagi kami mohon maaf, selama ini tuan seringnya hanya melewati kawan-kawan kami yang berada di depan dan ruang tamu, tapi jarang sekali tuan melihat kondisi dapur, sehingga kerja-kerja kami tak pernah dilihat dan dihargai… Sekali lagi, kami tak ingin dihargai, karena kami tak butuh penghargaan itu, Tuan hanya melihat kerja-kerja mereka yang terlihat karena tuan dekat dengan mereka, sedangkan kami? ah….”

“ah.. alasan….”

“maaf tuan, kalau tuan tak menerima alasan kami, lebih baik kami mengundurkan diri saja dari pekerjaan ini, kami tak akan lagi menggunakan hak-hak yang selama ini tuan berikan.”

“nggak bisa, kalian harus berbenah. kalian sudah saya kontrak di awal sampai setahun ke depan”

“dengan kondisi dan tuntutan seperti ini?.”

“iya….”

“tapi tuan………..”

kadang, untuk membuat orang lain menghargai kerja kita, kita harus mengerjakannya langsung di hadapan mereka. jika tidak, semuanya ‘sia-sia’….. ya,,, ‘sia-sia’ di mata manusia, tapi insya Allah takkan pernah sia-sia di hadapanNya….

Ya Rabb… jika ini adalah ujian bagi kami, berikan kami hati yang lapang untuk menerimannya. Jika ujian itu berat, berikan punggung yang kuat bagi kami untuk memikulya. Jika ujian ini terlalu lama, berikan keistiqomahan kami untuk terus berada di jalanMu… lillah, fillah, ilallah….

NikmatNya yang manakah yang kan kau dustakan?


NikmatNya yang manakah yang kan kau dustakan?

Jika tiap hari engkau berlimpah rezeki..

NikmatNya yang manakah yang kan kau dustakan?

Jika hati dan pikiranmu masih terpaut untuk mendekat padaNya…

NikmatNya yang manakah yang kan kau dustakan?

Jika Dia masih menutupi aib dan kealpaanmu di hadapan manusia…

NikmatNya yang manakah yang kan kau dustakan?

Jika udaranya masih kau bisa kau hirup, jika dinginnnya malam masih bisa kau rasakan….

NikmatNya yang manakah yang kan kau dustakan?

Jika tiap kata masih mampu terucap dan keluar dari lisanmu..

NikmatNya yang manakah yang kan kau dustakan?

Jika tiap status, tulisan dan kalimat demi kalimat lainnya masih bisa kau ketikkan dengan jemarimu…

NikmatNya yang manakah yang kan kau dustakan?

Jika kakimu masih bisa melangkah ke masjid sementara ada diantara manusia yang lumpuh, namun tak menyurutkan langkahnya ke masjid..

NikmatNya yang manakah yang kan kau dustakan?

Alhamdulillah, hari ini tellah melewati juz yang kata orang juz psikologis…, kalau sudah berhasil melewatinya insya Allah dimudahkan untuk menghafal juz ke-2 ke-3 dan seterusnya…

Allahummar hamna bil Quran
waj’alhu lana imaamau wa nuurau wa hudaw wa rahmah
Allahumma dzakkirna minhu maa nasiina
wa ’allimna minhumaa jahiilna
warzuqna tilaawatahu
aana al laili wa athrofannahar
waj’alhu lana hujjatan
Yaaa rabbal ‘alamiin

Dilema #6 : Selamanya tetap cinta, meski tak ada lagi yang mencinta


sebuah perusahaan multinasional mempunyai jajaran direksi yang berasl dari 3 kampus ternama di Indonesia. Sebut saja kampus X, Kampus Y dan kampus Z…

Hanya ada 20 orang direksi dengan pemilihan yang sangat ketat dan penilaian ekstra agar bisa meloloskan mereka menjadi direksi di perusahaan itu. Kampus X, merupakan kampus tertua yang alumninya sudah tersebar kemana-mana, mulai dari yang jadi menteri, gubernur dan pejabat penting lainnya, bahkan presidennya pun dari kampus X. Kampus Y,  meski agak lebih muda dari kampus X, namun, jebolan alumninya bagus-bagus.. Kualitas melobi dan leadership di perusahaan itu cukup baik, bahkan bisa dibilang sebenarnya alumni kampus Y lah yang mengendalikan laju perusahaan tersebut. Kampus Z, nah ini… dibilang kampus paling muda diantara 3 kampus yang alumninya ada di perusahaan tersebut

Dari 20 jajaran direksi ini , ada 10 alumni kampus X, 8 alumni kampus Y, dan 2 alumni kampus Z. Mereka berkerja sama menentukan arah gerak perusahaan.

Wajarlah, dengan asal kampus yang berbeda-beda pasti pola pikir dan cara bagaimana mereka melihat sebuah masalah juga berbeda. Masing-masing punya karakeristiknya… Itulah manajemen..  interdisipliner .

TAPI, problem mulai muncul ketika, akan terjadi regenerasi direksi, mereka yang sudah hampir pensiun dari kerjaannya berusaha sebaik mungkin agar alumni dari kampusnya masing-masinglah yag bisa mengisi pos-pos di direksi itu. Wajar lagi,, memang seperti itu kondisi riilnyaa…

‘saya merekomendasikan si A untuk bisa menggantikan saya nantinya.”

saya merekomendasikan bla-bla-bala….

begitulah, tiap-tiap orang berusaha agar teman ‘terdekatnya’ bisa masuk ke jajaran direksi meski sebenarnya sudah ada sistem yang mengatur. Namun, tetap saja keekatan personal juga berperan penting dalam menentukan keputusan tersebut. Tiba saatnya alumni kampus Z mengusulkan nama:

“saya merekomendasikan agar si B bisa masuk menggantikan saya.”

Mayoritas anggota direksi mengernyitkan dahi, “nggak salah?”

“dia tuh nggak cocok masuk ke sini, nggak ada yg lebih bagus apa?”

“tuan-tuan, menurut saya, si B ini bisa menjalankan tugasnya dengan baik jika terpilih nanti.”

“ah, dia itu bla-bla-bla…………terlalu riskan bila kita masukkan kesini, yasudah cari orang lain saja. Kalau tetap tidak ada, biar alumni dari kampus lainnya saja!”

Sebenarnya, di awal pemilihan direksi sebelumnya jumlah alumni Z ada 3 orang, namun dalam perjalanan, satu orang ini dikeluarkan karena terlalu kritis menyikapi kebijakan-kebijakan perusahaan tersebut, akhirnya karena nggak mau terlalu pusing memikirkan yang satu orang ini, ia dikeluarkan dan diganti dengan yang lain… tetunya dari kampus yang berbeda.

Dua orang tersisa ini, sebenarnya sudah agak jemu, bahkan sudah sangat jenuh ketika menghadiri rapat direksi rutin, dimana mainstream yang berkembang ya apa yang dikatakan alumni X dan Y itulah yang harus dijalankan, ketika ada usul dari alumni kampus Z, seolah-olah didengar sambil lalu saja dan selalu saja dimentahkan. “ini tidak sesuai dengan arah gerak perusahaan kita.”

Hingga seiring berjalannya waktu, dua orang ini tidak begitu aktif menyampaikan ide-idenya, karena sudah yakin…. takkan mampu mengubah mainstream pola pikir direksi itu, semua pendapat yang dikemukakan pasti dianggap menyalahi etos kerja perusahaan. Keberadaan kampus Z semakin tersingkir, peran yang diharapkan dari kampus Z semakin tenggelam, karena mereka sudah begitu kesal dengan perlakuan direksi yang lain dalam menilai alumni-alumni kampus Z, dibilang ini-itulah, tidak berkontribusi. Padahal, mayoritas alumni kampus Z yang ada di perusahaan tersebut memang tidak ditempatkan di posisi-posisi strategis, mereka hanya karyawan ‘biasa’ yang sulit sekali untuk ‘naik jenjang’ karena faktor egoisme almamater, alhasil, selamanya kampuz Z akan menjadi bahan cibiran dan cemoohan dihadapan alumni kampus lain. Ini bukan alasan, atau apologi… tapi karena memang inputan kampus Z pun memang tidak sebagus kampus X dan Y. Mereka yang masuk kampus Z adalah SISA dari orang-orang yang gagal ujian masuk kampus X dan Y…

Kalau bukan karena kata, tak mungkin dapat kugubah puisi… Kalau bukan karena cinta tak mungkin aku MASIH di sini…

Dan selamanya akan tetap cinta, meski tak ada lagi yang mencinta.
Biarkan Allah saja yang menilai…. Mengharap penilaian manusia itu hanya akan membuat resah.

Dilema #5 : Karena cinta aku masih di sini


Kalau bukan karena kata, tak mungkin dapat kugubah puisi… Kalau bukan karena cinta tak mungkin aku MASIH di sini…

Saya masih cinta, saya masih sayang. Dan akan selamanya cinta. Dan akan selamanya sayang. Biarlah serpihan kisah perjalanan ini menjadi saksi siapa yang benar-benar mencintainya dan siapa yang setengah hati atau pura-pura mencintai. Cinta itu bukan kepura-puraan, bukan kemanjaan, bukan mengharap balasan dari cinta yang diberikan. Tapi hanya ada satu kata cinta, memberi. Biarkan orang lain menilai cinta kita tak berarti, tapi kita sudah beri rasa hati yang dimiliki…

Cukup, Allah sajalah yang berhak menilai cinta kita. Kita sudah berusaha, penilaian Allah itulah yang paling adil dan menentramkan, bukan penilaian manusia yang semu dan kadang penuh ketidakadilan.

Cinta, hanya perlu pembuktian, bukan bermanis kata menutupi diri penuh keaiban….

Dilema #4 : “Sudahlah, kami tak butuh denganmu. Anak tiri selalu menyusahkan.”


Kalau ada agenda-agenda penting keluarga, anak ‘tiri’ tak diikutkan. Anak kandung lebih sering dilibatkan.. bahkan orang tua selalu memanjakannya. Punya ini itu, yang didahulukan adalah anak kandung. Punya uang seratus ribu, yang didahulukan adalah bagaimana kebutuhan anak kandung terpenuhi, kalau ada SISA, baru diserahkan ke anak ‘tiri’.

Anak ‘tiri’ selalu salah dihadapan persepsi mereka. Selalu MEMBANDING-BANDINGKAN… Jika ada salah sedikit, marah luar biasa, dicerca, dicabut uang jajannya. Sedangkan anak yang lain…. ah miris melihatnya.

Oke, dalam hal ini memang si ‘anak’ perlu menunaikan kewajiban terhadap ‘orangtua’nya , tapi ‘anak tiri’ juga butuh hak yang harus dipenuhi, keadilan, perhatian,, bukan pandangan kesinisan.

“Sudahlah, kami tak butuh denganmu. Anak tiri selalu menyusahkan.”

“anak tiri”

selalu dianggap tak penting dibanding yang lain.

selalu diakhirkan dalam tiap pertemuan rutin.

“anak tiri”

sekali menyapa, hanya sambil lalu saja.

sekedar formalitas penggugur rasa.

“anak tiri”

kala meminta lambat dipenuhi.

kala bersalah cepat dihukumi.

“anak tiri”

wujuudihi ka adaamihi…