Dilema #2: Bidukku sedang terbakar api


Diam…Terdiam di sudut geladak kapal. Merenung, menahan emosi yang semakin membuncah. Perjalanan berbulan-bulan mengarungi samudera biru itu ternyata salah arah.

“Bukan kesana, tapi kalian harusnya ke arah sebaliknya.” 

Sontak, statement itupun membuat sang ABK (Anak Buah Kapal) geram.

“Bukankah dulu ketika masih di dermaga, semua ABK bahkan nahkoda sekalipun diinstruksikan  untuk ke arah yang sedang kami tuju?”  Lalu dengan mudah instruksi di dermaga berubah.

“Maaf, yang dulu kalian dengar itu salah, ini instruksi pimpinan tertinggi.”

Sampai berapa kali kami harus mendengar kalau ini instruksi pimpinan tertinggi, kalau tiap hari, tiap minggu, tiap bulan selalu ada instruksi yang berbeda. Dari pimpinan tinggi yang berbeda pula.

“Lalu gimana tuan nahkoda, apa kita harus berbalik arah menelusuri jejak berbulan-bulan yang telah kita lewati, atau kini menantang badai yang sudah menanti di depan?”

***

Siluet jingga diufuk barat nampak begitu indah. Di ujung haluan kapal ABK itu berdiri menatap ujung bumi di kejauhan. Hari-demi hari, para ABK yang tak tahan terombang-ambing di tengah lautan memutuskan untuk kembali ke dermaga, sebagian ada yang sampai, sebagian lagi hilang entah kemana.

Ya, kapal ini memang sudah tak layak disebut kapal perang, para ABK nya sudah diambil satu persatu oleh kapal perang yang lain. Senjatanya mulai dipindahkan ke kapal lain yang lebih bagus, bocor di sana-sini yang tadinya kecil namun berubah menjadi semakin besar. Dan kini hanya SEGELINTIR saja ABK yang masih ada di dalam kapal.

“Menunggu ajal”, ah rasanya bukan suatu hiperbol bila berkata seperti itu. Jumlah ABK dan teknisi yang ada kini tak lagi cukup untuk mengatasi kebocoran di seluruh dinding kapal. Navigator pun kini sudah kewalahan mengendalikan kapal dengan derasnya ombak dan badai yang menerjang. Ditambah, ocehan dari kapal-kapal lain untuk segera membakar kapal ini. Argggh,, Sempat terbersit harap, seandainya dulu sang ABK tidak naik ke dalam kapal itu, dan berlayar di kapal lain. Tapi,, tak pantas bila harus berandai-andai.

“Kita berdiam disini saja, biarpun ada badai, tapi tak sekencang badai yang ada di puluhan kilometer di depan kita.” titah sang nahkoda.

“Apa?? Berdiam diri disini hanya untuk mencari ‘ketenangan’ , sementara kita butuh perbekalan, mungkin saja beberapa kilometer lagi ada daratan”

“Tidak, kita di sini saja. Tak usah menantang badai”

***

Tubuhku lelah sekali
Berdayung tak pernah pasti
Bidukku layarnya kertas
Yang sedang terbakar api 

(Layar Kertas)

*Random lagi,,, Semoga Kapal itu bisa terselamatkan… atau diselamatkan..

Sabtu, 21 Syawwal 1433 H

Iklan

Tag:

About jupri supriadi

unzhur maa qaalaa walaa tanzhur man qaalaa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: