Dilema #4 : “Sudahlah, kami tak butuh denganmu. Anak tiri selalu menyusahkan.”


Kalau ada agenda-agenda penting keluarga, anak ‘tiri’ tak diikutkan. Anak kandung lebih sering dilibatkan.. bahkan orang tua selalu memanjakannya. Punya ini itu, yang didahulukan adalah anak kandung. Punya uang seratus ribu, yang didahulukan adalah bagaimana kebutuhan anak kandung terpenuhi, kalau ada SISA, baru diserahkan ke anak ‘tiri’.

Anak ‘tiri’ selalu salah dihadapan persepsi mereka. Selalu MEMBANDING-BANDINGKAN… Jika ada salah sedikit, marah luar biasa, dicerca, dicabut uang jajannya. Sedangkan anak yang lain…. ah miris melihatnya.

Oke, dalam hal ini memang si ‘anak’ perlu menunaikan kewajiban terhadap ‘orangtua’nya , tapi ‘anak tiri’ juga butuh hak yang harus dipenuhi, keadilan, perhatian,, bukan pandangan kesinisan.

“Sudahlah, kami tak butuh denganmu. Anak tiri selalu menyusahkan.”

“anak tiri”

selalu dianggap tak penting dibanding yang lain.

selalu diakhirkan dalam tiap pertemuan rutin.

“anak tiri”

sekali menyapa, hanya sambil lalu saja.

sekedar formalitas penggugur rasa.

“anak tiri”

kala meminta lambat dipenuhi.

kala bersalah cepat dihukumi.

“anak tiri”

wujuudihi ka adaamihi…

About jupri supriadi

unzhur maa qaalaa walaa tanzhur man qaalaa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: