Dilema #6 : Selamanya tetap cinta, meski tak ada lagi yang mencinta


sebuah perusahaan multinasional mempunyai jajaran direksi yang berasl dari 3 kampus ternama di Indonesia. Sebut saja kampus X, Kampus Y dan kampus Z…

Hanya ada 20 orang direksi dengan pemilihan yang sangat ketat dan penilaian ekstra agar bisa meloloskan mereka menjadi direksi di perusahaan itu. Kampus X, merupakan kampus tertua yang alumninya sudah tersebar kemana-mana, mulai dari yang jadi menteri, gubernur dan pejabat penting lainnya, bahkan presidennya pun dari kampus X. Kampus Y,  meski agak lebih muda dari kampus X, namun, jebolan alumninya bagus-bagus.. Kualitas melobi dan leadership di perusahaan itu cukup baik, bahkan bisa dibilang sebenarnya alumni kampus Y lah yang mengendalikan laju perusahaan tersebut. Kampus Z, nah ini… dibilang kampus paling muda diantara 3 kampus yang alumninya ada di perusahaan tersebut

Dari 20 jajaran direksi ini , ada 10 alumni kampus X, 8 alumni kampus Y, dan 2 alumni kampus Z. Mereka berkerja sama menentukan arah gerak perusahaan.

Wajarlah, dengan asal kampus yang berbeda-beda pasti pola pikir dan cara bagaimana mereka melihat sebuah masalah juga berbeda. Masing-masing punya karakeristiknya… Itulah manajemen..  interdisipliner .

TAPI, problem mulai muncul ketika, akan terjadi regenerasi direksi, mereka yang sudah hampir pensiun dari kerjaannya berusaha sebaik mungkin agar alumni dari kampusnya masing-masinglah yag bisa mengisi pos-pos di direksi itu. Wajar lagi,, memang seperti itu kondisi riilnyaa…

‘saya merekomendasikan si A untuk bisa menggantikan saya nantinya.”

saya merekomendasikan bla-bla-bala….

begitulah, tiap-tiap orang berusaha agar teman ‘terdekatnya’ bisa masuk ke jajaran direksi meski sebenarnya sudah ada sistem yang mengatur. Namun, tetap saja keekatan personal juga berperan penting dalam menentukan keputusan tersebut. Tiba saatnya alumni kampus Z mengusulkan nama:

“saya merekomendasikan agar si B bisa masuk menggantikan saya.”

Mayoritas anggota direksi mengernyitkan dahi, “nggak salah?”

“dia tuh nggak cocok masuk ke sini, nggak ada yg lebih bagus apa?”

“tuan-tuan, menurut saya, si B ini bisa menjalankan tugasnya dengan baik jika terpilih nanti.”

“ah, dia itu bla-bla-bla…………terlalu riskan bila kita masukkan kesini, yasudah cari orang lain saja. Kalau tetap tidak ada, biar alumni dari kampus lainnya saja!”

Sebenarnya, di awal pemilihan direksi sebelumnya jumlah alumni Z ada 3 orang, namun dalam perjalanan, satu orang ini dikeluarkan karena terlalu kritis menyikapi kebijakan-kebijakan perusahaan tersebut, akhirnya karena nggak mau terlalu pusing memikirkan yang satu orang ini, ia dikeluarkan dan diganti dengan yang lain… tetunya dari kampus yang berbeda.

Dua orang tersisa ini, sebenarnya sudah agak jemu, bahkan sudah sangat jenuh ketika menghadiri rapat direksi rutin, dimana mainstream yang berkembang ya apa yang dikatakan alumni X dan Y itulah yang harus dijalankan, ketika ada usul dari alumni kampus Z, seolah-olah didengar sambil lalu saja dan selalu saja dimentahkan. “ini tidak sesuai dengan arah gerak perusahaan kita.”

Hingga seiring berjalannya waktu, dua orang ini tidak begitu aktif menyampaikan ide-idenya, karena sudah yakin…. takkan mampu mengubah mainstream pola pikir direksi itu, semua pendapat yang dikemukakan pasti dianggap menyalahi etos kerja perusahaan. Keberadaan kampus Z semakin tersingkir, peran yang diharapkan dari kampus Z semakin tenggelam, karena mereka sudah begitu kesal dengan perlakuan direksi yang lain dalam menilai alumni-alumni kampus Z, dibilang ini-itulah, tidak berkontribusi. Padahal, mayoritas alumni kampus Z yang ada di perusahaan tersebut memang tidak ditempatkan di posisi-posisi strategis, mereka hanya karyawan ‘biasa’ yang sulit sekali untuk ‘naik jenjang’ karena faktor egoisme almamater, alhasil, selamanya kampuz Z akan menjadi bahan cibiran dan cemoohan dihadapan alumni kampus lain. Ini bukan alasan, atau apologi… tapi karena memang inputan kampus Z pun memang tidak sebagus kampus X dan Y. Mereka yang masuk kampus Z adalah SISA dari orang-orang yang gagal ujian masuk kampus X dan Y…

Kalau bukan karena kata, tak mungkin dapat kugubah puisi… Kalau bukan karena cinta tak mungkin aku MASIH di sini…

Dan selamanya akan tetap cinta, meski tak ada lagi yang mencinta.
Biarkan Allah saja yang menilai…. Mengharap penilaian manusia itu hanya akan membuat resah.

About jupri supriadi

unzhur maa qaalaa walaa tanzhur man qaalaa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: