Dilema #7: Saat kerja kita tak pernah dihargai…


ada 3 grup ‘pembantu’ di sebuah rumah mewah pejabat. yang satu dibagian security penjaga pintu gerbang, yang satu bagian ruang tamu dan penyiapan segala akomodasi perjamuan untuk para tamu dan yang terakhir di bagian dapur dan masak-memasak…ketiganya terikat kontrak untuk menyelesaikan tugasnya kepada agen yang telah mempekerjakannya di rumah tersebut,,

pembantu bagian security tugasnya menjaga keamanan rumah dan menjadi garda terdepan dalam penyambutan tamu, artinya sebelum ada tamu yang masuk, pasti akan berinteraksi dengan bagian security. pun begitu juga bagian reservasi ruang tamu yang sering menyambut  di pintu ruang tamu, mempersilahkan masuk dan tak jarang ikut bersamaan dengan sang majikan saat mempersilahkan jamuan makannya. Beda lagi dengan pembantu yang ada di dapur,, mereka tak terlihat. kerja-kerjanya sunyi…. tak terlihat oleh tamu, tak terlihat oleh majikan, hingga wajarlah bila tamu tak mengenali mereka.

Hingga suatu ketika, saat ada tamu penting di rumah itu terdengar celetukan,

“kok sayurnya hambar ya?” 

“kok tiap kami bertamu ke sini menunya ini terus ya?”

“kok nasinya belum matang ya?”

… dan kok kok yang lain hingga si tuan rumah merasa tersindir.

Seketika tamu itu sudah pulang, sang tuan rumah kemudian memanggil pembantu bagian dapur hendak dimarahi atas keteledorannya.

“tadi, saya mendengar laporan dari para tamu, kalau….. bla-bla-bla……. Apa saja sih yang kalian kerjakan di dapur, masa tinggal masak aja nggak mampu, kalian sudah diberikan pekerjaan di posisi itu oleh agen kalian.”

“terkait masakan tadi, kami minta maaf tuan atas kecerobohan kami. Jujur kami sudah berusaha maksimal untuk menyediakan masakan yang terbaik, tapi banyak sekali pekerjaan kami di dapur sehingga kami terkejar deadline yang sangat banyak. kami masih harus berurusan dengan kebersihan bagian belakang rumah tidak hanya bagian dapur, kami harus menyiapkan masakan dan menu-menu lainnya dengan waktu yang singkat dan.. satu hal yang perlu tuan pahami, kami yang di dapur ini tak lebih dari dua orang, kami jujur tidak sanggup mengerjakan tugas-tugas menumpuk di dapur dengan kondisi seperti ini. sehingga…. nasi yang seharusnya belum matang benar, terpaksa kami angkat, sehingga …. sayur-sayuran yang kami masak terlupa dimasukkan garam, sehingga…. kami tak sempat membuat menu-menu lainnya yang butuh waktu lama untuk membuatnya. Maaf, tuan sendiri yang pernah bilang… kalau kami tidak mengurusi perihal beli-membeli bahan makanan. tugas kami di dapur hanya MENGELOLA bahan yang sudah tersedia saja.. kami sadari kami memang tidak mampu, kami sadari kami memang banyak salah, tak mampu mengerjakan tugas dengan baik tapi cobalah tuan mengeti kondisi kami. Setiap ada kegiatan bersih-bersih halaman depan dan ruang tamu, kami dilibatkan daan diharuskan untuk ikut, tapi ketika berurusan dengan bagian belakang, hanya kami berdua, tidak lebih. Ketika kelima kawan-kawan kami bekerja di bagian luar, kami sadari pekerjaan mereka juga melelahkan dan sangat berat untuk mengecek agar jangan sampai ada tamu sembarangan yang masuk, supaya keamanan rumah ini terjaga. Kami hormati tugas dan peluh mereka di luar sana. Kami tak butuh belas kasih, kami hanya ingin dimengerti, bahwa tugas kami dan mereka berbeda. meskipun demikian, ada kesamaan komitmen yang ingin kita berikan, bahwa kami mengabdi untuk bekerja di rumah ini sesuai dengan kontrak yang telah kami sepakati bersama. Tuan, sekali lagi kami mohon maaf, selama ini tuan seringnya hanya melewati kawan-kawan kami yang berada di depan dan ruang tamu, tapi jarang sekali tuan melihat kondisi dapur, sehingga kerja-kerja kami tak pernah dilihat dan dihargai… Sekali lagi, kami tak ingin dihargai, karena kami tak butuh penghargaan itu, Tuan hanya melihat kerja-kerja mereka yang terlihat karena tuan dekat dengan mereka, sedangkan kami? ah….”

“ah.. alasan….”

“maaf tuan, kalau tuan tak menerima alasan kami, lebih baik kami mengundurkan diri saja dari pekerjaan ini, kami tak akan lagi menggunakan hak-hak yang selama ini tuan berikan.”

“nggak bisa, kalian harus berbenah. kalian sudah saya kontrak di awal sampai setahun ke depan”

“dengan kondisi dan tuntutan seperti ini?.”

“iya….”

“tapi tuan………..”

kadang, untuk membuat orang lain menghargai kerja kita, kita harus mengerjakannya langsung di hadapan mereka. jika tidak, semuanya ‘sia-sia’….. ya,,, ‘sia-sia’ di mata manusia, tapi insya Allah takkan pernah sia-sia di hadapanNya….

Ya Rabb… jika ini adalah ujian bagi kami, berikan kami hati yang lapang untuk menerimannya. Jika ujian itu berat, berikan punggung yang kuat bagi kami untuk memikulya. Jika ujian ini terlalu lama, berikan keistiqomahan kami untuk terus berada di jalanMu… lillah, fillah, ilallah….

About jupri supriadi

unzhur maa qaalaa walaa tanzhur man qaalaa

5 responses to “Dilema #7: Saat kerja kita tak pernah dihargai…”

  1. maisyarahpradhitasari says :

    aamiin..
    semua dilema sampai yang ke 7 ini, super sekali🙂
    semangat paak!

  2. jupz says :

    hmm…. ada deh.

  3. Indra Gunawan says :

    Memang tidak mungkin mengandalkan penghargaan dari manusia.
    kecuali kalau kita mencintai manusia tersebut, bekerja apapun demi bisa melihat manusia itu dari dekat, menerima uang dari manusia tsb… dst.

    Dari pada begitu, lebih baik bekerja untuk sesuatu yang kekal, tidak pernah lupa, selalu memberi penghargaan dan sanggup memberi balasan yang setimpal.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: