Archive | Oktober 2012

sepenggal surat


…..

Barokallohu fiikum, Selamat Berjuang di dunia nyata Akhi Jupri.

Terimakasih banyak atas perhatiannya dan masih ingat ke kami,
Tentunya kamipun masih ingat dan merasa bangga walaupun kontribusinya kami tidak sepadan dengan hasil yang antum peroleh.
Setelah ke Wilayah Jakarta kembali, kapan mau silaturahim ke IKPT ?
Kami sangat senang dapat bersua langsung.

Semoga Allah Senantiasa Melindungi Segenap Aktifitas Antum.
Jazakumullah khairon katsiro.

……

Masih ingat waktu itu, pertengahan tahun 2005 bersama seorang murabbi pertama harus menjelajah hiruk pikuknya jakarta hingga sampai pada sebuah masjid kecil nan megah di bilangan Mampang. Di hari kerja, saat rekan-rekannya masih aktif di kantor, ia menyempatkan waktu untuk datang ke masjid itu dan menyambut kami. Seseorang yang telah menjadi jalan pembuka hingga akhirnya saya bisa melanjutkan sekolah ke sebuah madrasah yang biaya masuknya puluhan juta itu.

Dan.. itu adalah email darinya setelah hampir 7 tahun tak pernah bersua dan bertegur sapa.

Semoga saat kembali ke kampung halaman nanti, bisa segera bertemu dengan mereka meski hanya untuk mengucap terimakasih. Jazakumullah khairan katsiraa,

Iklan

Tetap disyukuri yaa..


“pak, ada ukuran yang lebih kecil lagi nggak?”

“itu tuh yang S, coba dipake.”

“udah dicoba pak, tapi masih kebesaran.”

“waduh, kamu tuh cocoknya pake seragam wisuda TPA.”

Jleb… sebegitu kecilkah saya -___-“. sampai-sampai semua ukuran baju wisuda yang dicoba selalu kebesaran. Padahal kalau pasa pulang ke rumah orang-orang rumah dan tetangga bilang, ya Allah kamu udah gede banget. 

Tapi, setelah dipikir-pikir.. eh bukan ding maksudnya di perhatikan, dibandingkan, disejajarkan dengan teman-teman sekelas memang saya ini paling kecil plus agak sedikit lebih rendah ukuran tinggi badannya (baca: pendek). Makanya setelah saya perhatikan kok, disetiap foto-foto resmi yang ada pengaturan tinggi badannya saya selalu ada di bagian paling depan dan tengah. Ini salah satu keuntunganny sih. hehe..

Saat wisuda SMA, panitia wisuda pun memberikan ‘kehormatan’ pada saya untuk berada dibarisan paling depan dan di tengah-tengah diantara 120 orang wisudawan yang lain. keren kan? 😀 kalau foto bareng pasti paling keliatan apalagi waktu itu sama para pejabat.

Anyway, nggak masalah deh kalau cuma kecil plus tinggi badannya nggak sesuai standar minimal (kekeuh nggak mau bilang pendek) yang penting tetap bersyukur atas apa yang diberikanNya pada saya. Toh itu memang yang terbaik. Fabiayyi aa-laa-i rabbikuma tukadzdzibaan,..

Memang yah, kadang manusia jarang banget bersyukur. Saya pun sering banget lupa atas karuniaNya yang begitu melimpah selama ini. Astaghfirullah. udah banyak yang dikasih, tapi tetep aja minta yang lain Udah banyak yang diberi masih aja kurang bersyukur..

Kalau hidup hanya dipenuhi oleh keinginan-keinginan, mungkin kita lupa pada kewajiban. Allah sudah memberi begitu banyak hal yang kita butuhkan, tapi kita sendiri yang sering melupakannya, bahkan menganggap itu semua buah dari jerih payah usaha sendiri. Jadi teringat pesan seorang adik, “kak, Apapun yang diberikan Allah, itu yang terbaik dan yang kita butuhkan.”

Jika hidup tak pernah disyukuri, yang ada hanya penyesalan dan kekecewaan karena segala inginnya tak terpenuhi. Allah memang akan mengabulkan do’a hamba-hambanya. Ia mungkin takkan memberi semua yang kita inginkan, tapi ia pasti akan memberi apa-apa saja yang kita butuhkan.

Hidup memang kumpulan amanah…


Sering, saya atau bahkan kita pun merasakannya, masalah demi masalah datang bergiliran seolah-olah hidup ini penuh masalah. Amanah demi amanah datang menghampiri seolah tak ada waktu untuk sekedar ‘beristirahat’, atau tumpukan tuntutan demi tuntutan yang senantiasa menagih janji untuk segera ditunaikan.

Ada seorang adik yang bertanya,

“kak, sampai kapan kita terus berlelah-lelah mengurusi ‘hak’ orang lain, padahal hak kita sendiri kadang terabaikan?”.

“maksudnya apa dek?”

“seringnya amanah yang saya terima justru membuat diri saya tidak ‘terurus’, akademik kacau, waktu untuk keluarga semakin sedikit, bahkan saking banyaknya tuntutan itu saya sering lupa bahwa diri ini sebenarnya tidak begitu kuat untuk menampung semua amanah intu. Hanya bermodal kenekatan dan keinginan untuk memberi lebih pada orang lain.”

Saya pun kadang- atau bisa dibilang sering- merasakannya, seseorang dituntut untuk multitasking tapi ia sebenarnya tak begitu kuat untuk menyelesaikannya dalam satu waktu. Ada banyak tipe-tipe manusia dengan beragam krakteristiknya dan bermacam kemampuan menyelesaikan amanah dengan cepat dan selesai dengan baik. Namun ada pula diantara mereka yang porsi pembelajarannya masih begitu besar ketimbang porsi aktualisasi diri, butuh waktu sedikit lebih banyak untuk belajar menyelesaikan segala tuntutan yang dihadapinya.

Di samping amanah, mungkin ada lagi ‘PR-PR’ yang harus diselesaikan. Masih ada banyak tanggungan di luar ‘amanah formal’ yang harus segera tertunaikan. Amanah itu akan menjadi masalah jika tak disikapi sebagai bentuk penghambaan kita padaNya. Amanah memang akan terasa berat saat tak ada punggung yang kuat tempat memikul dan bersandar saat lelah mendera. Masalah demi masalah memang datang silih berganti, namun beragam cara Allah selalu memberikan jalan keluar pada hambaNya yang hanya bersandar dan mengadu padaNya.

Sebelum masalah datang, kadang kita menganggapnya seperti gulungan ombak berlapis-lapis, tapi ketika kita hadapi dengan tenang, jalani penuh keikhlasan ia akan seperti riak-riak kecil bak buih berhamburan.

Jika Allah selalu dilibatkan dalam setiap urusan kita, insya Allah semua amanah, segala beban dan setumpuk masalah akan dapat terlewati dengan sempurna. Selesai dengan baik dan berbuah surga di akhirnya. Pertolongan Allah inilah yang pada akhirnya akan selalu memberikan ketenangan dalam setiap aktifitas yang kita jalani, karena Ia selalu dihadirkan dan sebagai tempat bersimpuh dalam segala kondisi, baik susah ataupun senang.

“Dan Dialah yang menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin untuk menambah keimanan atas keimanan mereka (yang telah ada). Dan milik Allah lah bala tentara langit dan bumi, dan Allah Maha Mengetahui Maha Bijaksana.” (al Fath:4)

 

Blimbingsari-Depok-Sleman

14 Zulhijjah 1433 H

Download Rekaman Kajian Rutin Pagi Hari (KRPH) Masjid Mardliyyah Kampus UGM-Oktober 2010


 “Jelajah Hati: Manajemen Stres” oleh Ust. Syatori Abdur Rauf Download Durasi (01:32:04)

“Ruh baru dan kualitas strategi dakwah bag-1.” Oleh Ust. Salim A. FillahDownload Durasi (01:18:47)

“Ruh baru dan kualitas strategi dakwah bag-2.” Oleh Ust. Salim A. FillahDownload Durasi (01:58:53)

“Sejarah Pergerakan Perlawan Palestina.” Oleh Ust. Abdullah SunonoDownload Durasi (01:20:35)

“Beda masyarakat Islam dan kafir dalam memandang seni, Persaudaraan, kemerdekaan dan Humanisme.” Oleh; Ust. Didik Purwodarsono Download Durasi (01:36:27)

“Pakaian, Perhiasan dan hukum memandang Aurat.” Oleh Ust. Ghozali Mukri Download Durasi (01:41:40)

“Tafsir Surat Al-Fath.” Oleh: Ust. Nashir Harits Download Durasi (01:31:31)

Random se random-randomnya..


saat sedang mengerjakan revisi skripsi, tiba-tiba ada sms masuk,

 

“btw, kapan nikah kak?”  | #Jleb, ini anak frontal banget ya -__-”

“emangnya kenapa?”

“mau ngejodohin kakak sama temenku.” | ini lagi, malah tambah frontal

 

zZzzz…. ini akhirnya jadi malah ngeblog bukan malah nyelesein revisi.  Ditanyain sesuatu yang bahkan belum ada rencana dalam waktu dekat ini. Tapi, kalau dipikir-pikir, pertanyaan itu emang bener juga ya. Sekarang pembebanan amanah bukan lagi hanya memikirkan ‘dunia’ yg selama ini mungkin sempit, tapi harus segera beralih pada amanah yang jauh lebih besar.

Waktu yang semakin merangkak meninggalkan masa kini juga harus disikapi dengan persiapan yang lebih matang untuk menatap masa depan. Iya sih, saat ini memang saya pun belum kepikiran ke arah sana, tapi seharusnya kan sudah ada persiapan dari sekarang.

 

“Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain.” (QS. 94:7)

“rahasia”


biarkan orang lain menyimpan rahasia… toh pada akhirya Allah akan membuka semuanya..

derajat manusia tak diukur dari seberapa banyak rahasia yang disimpan dan diketahuinya…

biarkan manusia tersebut hanya bergaul dengan sesama pemegang ‘rahasia’, kemudian menganggap teman, sebagai musuh yang harus di jauhi.

biarkan manusia merasa bahwa ialah raja diraja atas segala informasi..

tapi.. yang pasti Allah menggunakan parameter taqwa untuk menilai hambaNya

istirahat fisik dan ruhiyah.


Ada satu masa di mana sedetikpun begitu berarti. namun terkadang puluhan jam berlalu sia-sia untuk sekedar melepas lelah. Pelajaran demi pelajaran mulai terpahamkan bahwa kelelahan fisik itu tidak serta merta dapat dihilangkan dengan istirahat fisik. Kadang, bahkan memang seharusnya kelelahan fisik itu juga harus diterapi dengan rehat ruhiyah.

Hmm, terkadang fisik menuntut untuk diistirahatkan, tapi kita lupa bahwa terapinya ada pada ruhiyah yang sesungguhnya, bahkan rasulullah pernah berkata pada bilal, “Wahai Bilal, istirahatkan kami dengan SHOLAT…