Archive | Desember 2012

Manja #3: Masalah Besar dan Kecil


Ia berkata, “Sudahlah ini hanya masalah kecil, masih ada masalah lain yang lebih besar yang harus kita selesaikan.”

Lalu….

Si dia yang lain berkata, “Kalau pada masalah kecil saja kau tak peduli, bagaimana engkau bisa menyelesaikan masalah-masalah besar. Maaf Jika engkau tak sanggup menyelesaikan yang kecil itu apatah lagi yang lebih besar.”

Iklan

Media #2: Pencitraan Dakwah


Suatu kejahatan bisa dicitrakan sebagai sosok pahlawan karena bangunan media. Sebaliknya, para pelaku kebaikan bisa dicitrakan sebagai sosok pecundang karena opini media. Sangat banyak pelajaran dan hikmah yang bisa diambil dari para aktivis dakwah, namun seringkali tenggelam tidak banyak diketahui publik, karena tidak adanya unsur publisitas. [Cahyadi Takariawan]

 

Muncul pertanyaan, apakah publisitas bertentangan dengan makna keikhlasan? Apakah amal yang ikhlas harus selalu disembunyikan? Al Qur’an memberikan gambaran dua kondisi shadaqah (sedekah), yang keduanya bernilai baik dan lebih baik. Tidak ada yang dicela atau disalahkan. Perhatikan ungkapan ayat berikut:

Jika kamu menampakkan sedekah(mu), maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu. Dan Allah akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu; dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan” (Al Baqarah : 271).

Dari ayat di atas, kita mendapatkan beberapa pelajaran fiqih dakwah sebagai berikut:

1.   Dibolehkannya menampakkan amal

Al Qur’an menyatakan, “Jika kamu menampakkan sedekah(mu), maka itu adalah baik sekali”. Suatu sedekah atau pemberian kepada orang-orang yang memerlukan dengan menampakkan atau mempublikasikan adalah suatu tindakan yang dibolehkan, tidak dilarang. Bahkan dikatakan sebagai “baik sekali”, bukan saja baik. Dalam hal ini, sedekah yang ditampakkan bukanlah sesuatu yang tercela atau dilarang.

Al Qur’an juga menyebut umat Nabi Saw sebagai sebaik-baik umat yang dihadirkan untuk seluruh manusia:

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah” (Ali Imran: 110).

Kebaikan ini akan memiliki makna yang memberikan banyak dorongan motivasi dan inspirasi bagi masyarakat luas, jika ditampakkan, bukan disembunyikan.

2.   Menyembunyikan amal karena menghindari riya’

Ada kalanya sedekah harus disembunyikan, jika dengan menampakkan akan menimbulkan riya dan menyakiti perasaan orang-orang yang mendapatkan bagian sedekah tersebut. Al Qur’an menyatakan, “Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu”.

Riya’ adalah berkembangnya motivasi semata-mata ingin mendapat pujian dari manusia atas apa yang dilakukannya. Namun menyembunyikan amal tidak identik dengan ikhlas, karena ikhlas bukanlah soal teknis menampakkan atau menyembunyikan. Ikhlas adalah dorongan yang kuat dalam jiwa, yang menjadi sumber motivasi dalam melakukan sebuah amal atau dalam meninggalkan amal tersebut.

Sebagian ulama salaf menyatakan, “Beramal karena manusia itu syirik, sedangkan meninggalkan amal karena manusia itu riya”. Ini menandakan bahwa ikhlas itu bermakna dorongan yang menyebabkan melakukan atau meninggalkan suatu amal semata-mata karena Allah, apakah amal itu ditampakkan atau disembunyikan.

3.   Keharusan bekerja dengan ikhlas

Semua aktivitas yang kita lakukan hendaknya didasari dengan niat yang ikhlas karena mengharap ridha dan pahala dari Allah, bukan dari manusia. Cukuplah kita yakin, bahwa semua yang kita lakukan berada dalam pengawasan dan pengetahuan Allah, sebagimana firmanNya, “dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan”.

Syaikh Hasan Al Bana menegaskan, “Yang  dimaksud dengan ikhlas ialah seorang muslim menunjukkan segala perkataan, amal  dan jihadnya semata-mata mencari ridha Allah dan  ganjaran baik-Nya, tidak memandang keuntungan duniawi, kedudukan, pangkat, gelar, dan semacamnya. Karena itu ia akan menjadi manusia pembela cita-cita  dan  aqidah, bukan  kepentingan  (interest)  pribadi.”

4.   Menampakkan amal tidak menghilangkan keikhlasan

Kebolehan menampakkan sedekah ini menandakan, amal yang ditampakkan tidak berarti menghilangkan nilai keikhlasan atau merusakkannya. Yang membuat rusaknya amal adalah sikap riya dan mengharap keridhaan manusia dengan jalan memamerkan berbagai aktivitas kebaikan. Berbangga-bangga dengan pujian manusia dan melalaikan hakikat niat yang tulus ikhlas mengharap ridha Allah.

Sebagaimana telah dinyatakan di depan, bahwa menyembunyikan amal itu tidak identik dengan ikhlas, maka menampakkan amal juga tidak identik dengan riya atau tidak ikhlas. Dengan demikian, jika publisitas adalah upaya untuk memberikan informasi yang positif, memberikan inspirasi kebaikan, memberikan motivasi beramal salih, dan memberikan pencitraan positif bagi dakwah, maka hal itu adalah sebuah keharusan.

 

sumber: hasanalbanna.com

Manja #2: Sebab-akibat


Adakalanya saya merasa begitu sulit membedakan antara mana yang merupakan sebab dan mana yang merupakan akibat. Keduanya terkadang memiliki peran ganda. Ada saat dimana sebab berubah makna menjadi akibat, atau di saat yang lain akibat berperan menjadi sebab. Ahh.. mungkin hanya diri saya saja yang tak mampu membacanya.

Sesuai ritme perputaran waktu, kedua kata tersebut memenuhi ruang-ruang pikiran hingga sulit untuk diketemukan titik awal permulaannya. Saya pun tak tahu apakah sebenarnya ada yang namanya ‘karma’, yang menjadi sebab terjadinya suatu peristiwa lain. Allahu a’lam. Masih begitu rendah pemahaman saya, layaknya kesulitan dalam menjawab sebuah pertanyaan retoris antara ayam dan telur. Siklusnya hendak dicari dan terus dipertanyakan permulaannya.

“Sebab”… mungkinkah itu yang pertama kali terjadi? Ataukah munculnya sebab ini karena akibat dari sebab-sebab yang lain? makin lieur? Saya juga…

Bukankah memang dalam hidup ini selalu ada saja sebab-akibat. Misalkan, ada sebuah ungkapan.. Seseorang yang tidak menghargai tidak akan dihargai. Si A tidak menghargai si B lantaran si B tidak menghargai si A. Namun si B berdalih perilakunya tersebut disebabkan karena si A duluan yang tidak menghargai si B.

Ada siklus lingkaran setan yang akan terus berputar kalau kita terus mencari-cari penyebabnya ketika masalah itu hanya disempitkan sebagai sebuah hubungan sebab-akibat saja.

Adapula satu kondisi dimana si X enggan merespon setiap undangan si Y, dengan dalih bahwa ketika si X mengajak si Y, si Y itu tak pernah merespon dengan baik. Akhirnya untuk kemudian terus berulang kembali dan begitu seterusnya.

Ketika ada adek-adek susah digerakkan, coba tanyakan lagi apakah dulu ketika status sang ‘kakak’ menjadi adek itu juga mudah digerakkan oleh kakaknya yang lain?

Ketika mengajak adek ikut acara XYZ begitu sulit, coba tanyakan lagi saat dulu ketika status sang ‘kakak’ sebagai adek itu juga malas menghadiri acara XYZ yang diajak oleh ‘kakak’ kita yang lain?

Ketika seseorang enggan membalas sms yang kita kirimkan, coba cek lagi apakah kita yang memulai duluan mengabaikan sms-sms darinya?

“Karma”.. Allah a’lam… lagi-lagi saya tak begitu mengerti apakah sebenarnya ‘karma’ itu ada atau tidak.
Seharusnya memang tak perlu ‘balas dendam’.. dengan mengatakan,
“dulu saya diperlakukan ‘begitu’, maka sekarang saya akan memperlakukan ‘begitu’ pula.”
“dulu setiap saya sms beliau tak pernah dibales, maka sekarang saya tak akan pernah membalas sms beliau pula.”

“dulu… dulu… dan dulu..”

Ketika semua orang berpikiran manja seperti itu, maka takkan ada habisnya, saling melempar tanggung jawab, saling menyalahkan. Sudahlah tak perlu manja lagi. Memang sulit, tapi coba untk teruslah belajar. Membalas keacuhan dengan kepedulian, membalas kesinisan dengan penghargaan, membalas setiap gunjingan dengan doa.