Archive | Maret 2013

Jumatan bersama Syeikh Saad Al Gomidi


Siang tadi Alhamdulliah Allah memberikan kesempatan langsung kepada saya untuk bisa shalat berjamaah dengan Imam Haramain, yaitu Syeikh Saad Al Gomidi. Beliau menjadi Imam Shalat Jumat di Masjid at Taqwa, Kebayoran Baru. Berangkat jam setengah 9, ternyata pas jam 10 nyampe sana masjidnya udah penuh. Udah banyak mobil polisi juga yg jaga-jaga. Tapi Alhamdulillah, msh sempet berada di shaf pertengahan.

Jamaah shalat jumat terlihat begitu sangat menanti-nanti bisa diimami oleh Imam Masjidil Haram dan Masjid Nabawi tersebut. Berharap semoga suatu saat nanti bukan hanya bersama Imamnya saja, tapi juga bisa shalat langsung di tanah suci itu.

Ustadz Yusuf Mansur, selaku Khatib menyampaikan khutbah yang begitu menyentuh hati. Bener… serius,, sampe saya menitikkan air mata.. (eh ini gk cengeng yak…). Beliau menyampaikan betapa kita harus bersyukur, didatangkan langsung seorang Imam yang biasanya mengimami ratusan ribu tamu Allah di tanah suci. Dan kini,, di sebuah masjid yang mungkin jarang begitu di dengar publik… Allah memberikan kesempatan kepada jamaah untuk bisa shalat jumat berjamaah langsung dengan sang imam. Aamiin…

Emang bener ya, kalau orang baik itu, kata-katanya selalu dirindukan, bacaan qur’annya jleb banget, sampe masuk ke hati dan tiap tatap matanya terkandung aura keshalehan. Sesuatu yang sangat dirindukan dari syeikh.

Rakaat pertama, surah Al- a’la dan rakaat kedua dengan surat al Ghasiyyah sukses membuat para jamaah menitikkan air mata. Bahkan tak sedikit yang tak kuasa menahan isak tangisnya. Lagi-lagi ini bukan lebay ya, emang beneran kok.. Seolah-olah jamaah tersebut terbayang sedang shalat beneran di Masjid Nabawi.

Setelah shalat jumat berakhir, syeikh al Ghomidi kemudian memberikan tausiyah singkat terkait keutamaan surat al Ashr. Seluruh jamaah dipimpin untuk membaca tartil surah tersebut dan gemuruh suara jamaah yang berada di lantai 1 dan 2 mengikuti lantunan bacaan sang Imam.

Terakhir, ada satu permintaan dari ustadz Yusuf Mansur kepada Syeik al Ghomidi, yaitu meminta beliau keluar masjid tidak lewat pintu mimbar, tapi berjalan ditengah-tengah para jamaah dengan kondisi semua jamaah diharuskan untuk tetap duduk di tempat agar bisa memandang wajah sang imam.

Aduh, jarang banget bisa liat Imamnya langsung, padahal ketika di Masjid Nabawipun, kata Ustadaz YM sulit sekali bertatatapan wajah langsung dengan Syeikh al Gomidi….

Termakasih ya Allah untuk hari ini…

ini ada rekaman Khutbah Jumat Ust. Yusuf Mansur dan Syeikh Al Ghomidi saat memimpin shalat Jumat –>

https://soundcloud.com/deddi-nordiawan/imam-al-ghomidi-memimpin?utm_source=soundcloud&utm_campaign=mshare&utm_medium=twitter&utm_content=http://soundcloud.com/deddi-nordiawan/imam-al-ghomidi-memimpin

Iklan

Kutipan Taujih M. Taufiq Ridha


Parpol punya keterbatasan karena dia dibatasi oleh bemacam perundang-undangan. Padahal dakwah itu tidak ada batasnya, dalam semua sisi kehidupan kita harus masuk. Oleh sebab itu, kegiatan-kegiatan yang sifatnya politik itu hanya sebagian kecil saja dari dakwah yang kita lakukan. Karena dakwah lebih besar dari partai politik atau kegiatan-kegiatan yang besifat politis. Oleh sebab itu, parpol tidk bisa menjangkau semua sisi/medan kehidupan dakwah. Oleh sebab itu hal-hal yang tidak bisa dijangkau dari sisi-sisi itu, maka dimainkanlah bermacam-macam waijhah (wasilah). Wasilah bisa bermacam-macam. Dan kalau kita sudah berbicara wasilah, maka sifatnya adalah feksibel, jangan berpikir hanya satu-satunya. Yang penting adalah bagaimana kita melihat marketnya dulu, kira-kira wajihah apa yang cocok dengan marketnya. Kenapa? Karena kadang-kadang kita bikin wajihah ternyata tidak cocok dengan pangsa pasarnya. Jadi, kalau kita berbicara wasilah dakwah, maka fleksibilitas (cocok dengan karakter market dakwah) harus menjadi sebuah prinsip. [M. Taufiq Ridha]

_Cimuncang, 27 Maret 2013

17.53 WIB

Saya baru paham sekarang….


Saya baru paham sekarang kenapa dulu ‘tercebur’ dalam organisasi yang dulunya sama sekali tak menjadi minat saya….

Saya baru paham sekarang kenapa dulu hanya sedikit kaum adam yang ada di medan tempat saya berkecimpung…

Saya baru paham sekarang kenapa dulu saya dipindahkan dari pos satu ke pos yang lain…

Saya baru paham sekarang kenapa dulu tiap pekan bahkan hampir tiap hari ada rapat-rapat beruntun (a.k.a syuro) yang dijalani….

Saya baru paham sekarang kenapa dulu dipaksa membuat laporan rutin tiap bulan, laporan perkembangan, laporan evaluasi dan lain sebagainya…

Saya baru paham sekarang kenapa dulu hidup berasrama hampir 5 tahun…

Saya baru paham sekarang kenapa dulu harus menunda kerja praktek dan mengubah judul skripsi…

Saya baru paham sekarang kenapa dulu harus menunda kepulangan lebih lama untuk terus berada di kampus…

Saya baru paham sekarang kenapa dulu mengalami tribulasi amanah yang begitu deras…

Saya baru paham sekarang kenapa dulu harus dioper kerja prakter hampir ke tiga tempat…

Saya baru paham sekarang kenapa saya ditakdirkan kuliah di jogja, kota budaya kota pendidikan…

Saya baru paham sekarang kenapa bisa terpilih dari ribuan pendaftar sekolah Insan Cendekia…

Saya baru paham sekarang kenapa dulu dipertemukan dengan… ah terlalu banyak yang baru saya mengerti sekarang….

Dan… mungkin.. apa yang terjadi pada saat ini, baru akan saya mengerti pula dikemudian hari. Kuncinya…. Sabar… Ikhlas… Ridho…. atas segala ketetapanNya. 

Meski terkadang amat berat, aku tetap percaya bahwa hidup ini tidak hanya kau kehendaki, tapi juga kau atur demi kebaikanku. Biarlah kehendakMu yang selalu terjadi, bukan keinginanku.

Bandung, 25 Maret 2013

Hujan deras menemani dinginnya malam

Hadapilah


Seiring berjalannya waktu, manusia dihadapkan pada permasalahan dimana waktu menuntutnya untuk belajar bersikap. Menuntut dirinya untuk mengambil keputusan yang terkadang sulit dilakukan dalam masa-masa yang sempit. Hambatan, tantangan, persoalan setiap manusia berbeda kadar dan jenisnya disetiap jenjang waktu yang ada. Kondisi hari ini, akan jauh berbeda dengan hari kemarin. Pun, begitu juga esok hari. Kita memiliki kesempatan untuk terus belajar memaknai hidup, dan mengambil hikmah untuk terus memperbaiki sikap dalam menghadapi segala persoalan tersebut.

Manusia, dengan segala jenis kareakternya harus mampu melewati perjalanan waktu semasa hidupnya dalam kesuksesan menghadapi setiap persoalan. Ketika ia datang, lari dari masalah bukanlah pilihan yang tepat. Karena bila kita menghindar dari satu masalah, kitapun akan bertemu dengan masalah yang lain. Lalu, apakah hidup ini kumpulan masalah?? Bukan… bukan itu yang saya maksud.

Hidup memang dihiasi denngan beragam bentuk warna dalam rangkaian keping-keping skenarioNya. Semua kepingan itu pasti baik menurutNya, meski kadang dalam pandangan manusia kurang baik. Begitu juga dengan masalah. Mungkin, bagi sebagian manusia, persoalan hidup yang membelitnya adalah jurang kehancuran yang melumat asa hidupnya. Tapi, justru di sebagian manusia lain, persoalan-persoalan hidup yang mereka hadapi menjadi batu loncatan untuk melangkah lebih jauh, melompat lebih tinggi dan menatap kehidupan yang penuh tantangan dengan optimisme.

Ada satu hal yang membuat kita bertahan dalam menghadapi ujian dan tantangan hidup. Ridha. Ikhlas menerima semua ketetapanNya dan ikhlas menjalani setiap proses yang dikehendakiNya. Biarlah keinginanNya yang mewarnai setiap jejak langkah hidup kita, bukan keinginan nafsu yang mengendalikan diri. Setiap perisetiwa pasti ada hikmahnya. Tere Liye, dalam Novel Rembulan Tenggelam di Wajahmu mengajarkan kita untu ikhlas dan ridha dalam menjalani hidup ini. Semua yang terjadi pada diri kita, pasti ada sebab akibat yang sejatinya merupakan pilihan terbaik untuk hambanNya.

 

Walau hujan badai, kan terus menerpa

Walau amuk gelombang, tak henti menerjang

Walau kelam mencekam

Walau mentari kan membakar

Jangan letih menapaki kehidupan

 

Ujian bagaikan terik sinar sang surya

Hadir ke dunia bersama berjuta karuni

Janganlah bertekuk lutut dalam pelukan putus asa

Janganlah bersimpuh di hadapan duka

 

Hadapilah segala tantangan

Sambutlah harimu dengan suka cita

 

~Hadapilah | Shoutul Harokah

 

 

_siap-siap menuju Bandung

Senin, 25 Maret 2013

Pukul 06.03 WIB

… ada yang terbaik yang telah disiapkan untukmu…


Mengapa manusia sering gelisah? Tak pernah tenang menghadapi perjalanan hidup yang sedang ia jalani?

Mengapa manusia tak pernah bersyukur atas segala keputusan dan peristiwa yang mewarnai garis kehidupannya?

Mengapa, ia yang katanya makhluk paling sempurna tak juga mengerti bahwa ada begitu banyak sekali hikmah yang diturunkanNya bersama beragam bentuk skenarioNya?

Mungkin, ada satu penghalang mereka seperti itu. Mereka?? Ah jangan-jangan aku juga. Aku yang sering tidak bersyukur, aku yang sering mengeluh, aku yang sering tidak puas, aku….. yang dhaif dan banyak dosa ini…… Seringkali tak mampu membaca makna disetiap tanda-tanda kekuasaanNya.

 

Dulu…. Dulu… sekali. Ada seorang remaja yang sangat memimpikan melanjutkan sekolah di SMA terbaik di kota seberang. Nilai ujiannya sudah sangat cukup. Uang? Meski tak mampu membiayai sendiri, ada orang yang berbaik hati menawarkan, “sudah daftar dulu saja, nanti masalah biaya kami yang mencarikan.” Namun, takdir berbicara lain.. akhirnya remaja itu ‘hanya’ bisa melanjutkan SMA di ‘sekolah kampung’.

Hati kecilnya bertanya, “Mengapa aku tak diizinkan untuk sekolah disana?”

Dalam keheningan ada sayup-sayup suara meyentuh bilik hati, “ada yang terbaik yang telah disiapkan untukmu.”

Benarkah?? Entahlah.. Hari demi hari berlalu. Melewati beragam peristiwa yang mewarnai perjalanan hidupnya. Selang satu tahun kemudian, pertanyaan pertama itu terjawab. Oh.. rupanya benar apa yang ia dengar sayup-sayup di bilik hati kala itu,, “ada yang terbaik yang telah disiapkan untukmu.”

Ia tak hanya diberikan sekolah terbaik di kota itu, tapi Madrasah terbaik negeri ini. Madrasah peringkat pertama di negeri ini. Madrasah kebanggan ummat dan bangsa yang konon katanya didirikan oleh bapak presiden yang jenius itu.

Ah, rupanya ia masih belum sadar. Ia masih melamun. Mencerna. Apakah ini jalan yang sudah ditetapkan baginya. Jalan yang mengantarkannya pada sebuah takdir lain yang menjadi jawaban atas kegelisahannya kala gagal masuk SMA impian. Ia menyadari, bahwa kegagalannya dulu merupakan penundaan atas jalan hidup yang lebih baik dariNya.

Jalan Allah memang yang terbaik. Skenario Allah merupakan yang sempurna. Manusia sering tidak bersyukur dan mengambil hikmah disetiap jalan hidup yang dialami. Padahal, disetiap guguran daun dan tetes hujan pun mengandung pesan-pesan tersirat yang menjadi pelajaran manusia. Saat kita gagal meraih mimpi, saat kita gagal menggapai cita, yakinlah bahwa kegagalan itu merupakan keberhasilan kita melewati proses dengan baik, justru ketika kita tak mau berusaha, ketika kita tak mau berproses, itulah kegagalan yang sebenarnya.

Ada banyak pertanyaan-pertanyaan yang baru akan kita temui jawabannya suatu saat nanti. Entah sebulan, setahun, dua tahun, bahkan bertahun-tahun….. Sikap kita sebagai hambaNya diuji saat mendapati takdir yang menurut kita kurang baik. Gagal masuk SMA impian, Gagal masuk PTN impian, Gagal diterima Perusahaan impian, Gagal mendapat Beasiswa, Gagal menang lomba, Gagal lulus tepat waktu dan kegagalan-keggalan lainnya. Lagi-lagi… mungkin itu definisi kegagalan yang kita artikan sendiri. Allah Maha Mengetahui atas semua masa depan kita. Dia yang telah mengatur jalan hidup ini. Berbuatlah yang terbaik, maka kitapun akan diberikan yang terbaik pula.

Disetiap ‘kegagalan-kegagalan’ itu selalu tersimpan makna “ada yang terbaik yang telah disiapkan untukmu.”

Saat kamu gagal masuk SMA Impian,,, ada yang terbaik yang telah disiapkan untukmu.

Saat kamu gagal masuk PTN Impian,,, ada yang terbaik yang telah disiapkan untukmu.

Saat kamu gagal diterima kerja di perusahaan impian,,, ada yang terbaik yang telah disiapkan untukmu.

Saat kamu gagal mendapat beasiswa studi lanjut,,, ada yang terbaik yang telah disiapkan untukmu.

Saat kelulusanmu tertunda hingga berbulan-bulan,,, ada yang terbaik yang telah disiapkan untukmu.

Saat amanahmu membuatmu harus berbagi pikiran antara kampus dan oganisasi,,, ada yang terbaik yang telah disiapkan untukmu.

Saat… Saat setiap peristiwa yang menyapamu tak sesuai keinginan,,, ada yang terbaik yang telah disiapkan untukmu.

Pun.. saya berpesan pada hati ini bahwa ada yang terbaik yang telah disiapkan untukmu.

 

_senja gerimis di pinggiran Jakarta

Sabtu, 23 Maret 2013 | 17.00 WIB

Pahami dan camkan…


Di jaman modern saat ini, boleh jadi wanita tidak butuh perlindungan siapapun, mereka bisa menjaga diri.

Kalau mereka memang butuh, maka boleh jadi dia butuh perlindungan justeru dari ketidakpastian, berlama-lama, plintat-plintut, ragu-ragu, ketidaksiapan, ketidakberanian dari laki-laki yang mengaku mencintainya. Mereka butuh perlindungan dari laki-laki yang hanya berani pacaran saja, tidak jelas tujuannya, kecuali asyik dekat2 pada gerbang pergaulan bebas.

Pahami dan camkan.

–Tere Liye

lagi-lagi…. dan SELALU…


Akhir-akhir ini saya sulit untuk mendefinisikan rasa yang sesungguhnya ada di dalam hati. Entah beberapa peristiwa yang terangkai begitu sempurna telah diskenariokan. Saya sempat bingung, heran atau mungkin lebih tepatnya takjub atas semua peristiwa yang terjadi.

Ketika dihadapkan pada sebuah realita, kita mungkin sering membanding-bandingkan dengan apa yang disebut impian. Kadangkala impian yang sudah mati-matian diupayakan, namun terhenti begitu saja tanpa ada bekas terlihat dari keseluruhan prosesnya. Terkadang, realita menjadi sesuatu yang sangat menakutkan bila mereview kembali apa idealita yang dulu diperjuangkan.

Namun, Allah memberikan jalanNya yang sangat indah kepada siapa saja yang Dia kehendaki. Beragam sekenario manusia, hasrat dan nafsu yang meliputi segala upaya manusia mengejar mimpinya akan mudah terpatahkan dengan “kun” Nya. Ketika Dia berkehendak jadi, maka jadilah ia. Domain manusia menjadi poin penting dari keseluruhan aktivitas kehidupannya adalah sesuatu bernama proses.

Rezeki, jodoh, maut adalah takdir Allah yang memang sudah disiapkan bagi setiap hamba-hambaNya di muka bumi. Setiap diri sudah memiliki jatah usia, porsi rezeki dan waktu kapan ajal akan datang menjemput. Dari keseluruhan takdir-takdir tersebut, Allah memerintahkan kepada manusia untuk senantiasa memperbagus setiap amalnya, memperbaiki akhlaknya dan menjaga keistiqomahan dalam menjalani kehidupan ini. Pernah seorang ustadz berkata kepada saya, “Rezeki itu nggak perlu dicari. Setiap manusia sudah memiliki catatan rezekinya masing-masing. Yang harusnya dicari adalah keberkahan rezeki itu sendiri. Disini bukan berarti menjadikan manusia pasrah namun melihat dalam sisi lain bahwa memang yang perlu kita utamakan adalah keberkahan rezekinya. Bukan nilai nominal.”

Ada banyak manusia yang hartanya berlimpah, mobil mewah dan perhiasan indah lainnya dimiliki, namun harta yang ia perolah tak sediktpun memberikan ketenangan kepadanya. Justru, ia semakin resah dan khawatir kehilangan harta benda yang selama ini dipuja dan dibanggakannya. Juga di sisi lain, seorang yang berpenghasilan secukupnya, mampu mendapatkan ketenangan lahir bathin atas setiap rezeki yang ia peroleh. Tak pernah ada keluhan, pesimisme dan ketidaksabaran dalam menerima rezeki secukupnya itu. Bagi saya, definisi rezeki secukupnya, bukan berarti mengecilkan nilai rezeki yang Allah berikan, namun pada bagaimana seorang mensyukuri berapapun rezeki yang ia dapat. Dikala berlimpah, kesyukuran menjadi pengiring kenikmatannya, namun saat ia sedang susah, kesabaran menjadi pelindungnya dari kekufuran.

Jodoh, hampir mirip dengan rezeki. Dia sudah menggariskan takdir pada siapa hati ini akan berlabuh. Pada siapa ikatan suci ini akan disematkan. Dan pada siapa tanggung jawab diri akan diberikan untuk saling berbagi dan menguatkan. Allah sudah mencatatnya. Usaha manusialah yang akan semakin memperindah saat-saat dimana Allah mempertemukan dua insan yang ‘terpisah’ bertahun-tahun. Layaknya puasa seorang insan, jadwal berbuka sudah pasti, tatkala adzan magrib sudah berkumandang. Allah akan melihat dan menilai amalan apa saja yang sudah ia lakukan selama masa menunggu berbuka itu. Apakah amalan yang akan menambah pahala puasa, atau justru malah menguranginya?

Malam semakin larut, hujan mulai menderas,, dan mata mulai sayup-sayup menatap keyboard. Sepertinya saya tak bisa berpanjang kata melanjutkan tulisan ini, meski masih terpotong, namun satu pesan singkat yang ingin saya sampaikan adalah… lagi-lagi…. dan SELALU… skenario ALLAH begitu S.E.M.P.U.R.N.A..

Pesanggrahan, Jaksel 20 Maret 2013