Puzzle #3: Insan ke-tiga


“INSAN” …. ini Insan ke-3 yang menjadi bagian dalam kehidupan saya. “Insan” pertama adalah sebuah komunitas kecil yang telah mengantarkan saya menuju “insan” kedua. Dan ternyata, hanya selang setahun setelah meninggalkan “insan” kedua, saya sudah dipertemukan dengan “insan” ke tiga.

Islamisasi Ilmu. Itulah tema yang diberikan oleh penguji kala penilaian lulus atau tidaknya saya menapaki insan ke-3. Berkompetisi dengan orang-orang hebat untuk bisa menempati sebuah asrama di pinggiran kota. Semuanya hebat. Semuanya cerdas. Dan semuanya memiliki kesempatan yang besar untuk bisa lolos. Namun, dalam hati kecil saya masih bertanya, “adakah kesempatan itu akan diberikan pada saya lagi?”

Tepat sepekan sebelumnya, sebuah pertemuan forum keilmuan yang ada di kampus mengambil tema serupa dengan tema yang sedang diujikan kali ini. Entah kebetulan atau tidak. Yang pasti saya meyakini bahwa di setiap guguran daun, hempasan angin dan putaran waktu yang terus bergulir ada kuasaNya yang menjadikan segala sesuatu tunduk mengikuti perintahNya. Kali ini, seolah saya hanya meng-copy paste apa yang didapatkan dari pertemuan pekan lalu itu ke dalam sebuah ujian presentasi terkait tema yang sama. Persis.

Detik berlalu, menit terus melaju. Dan seakan semuanya sudah dipersiapkan dengan teks tertulis yang lengkap. Selesailah momen ujian itu. Bergiliran, satu per satu melakukan hal serupa. Dan saya yakin ke-15 orang yang akhirnya terpilih itu akan mengalami hal serupa, dengan cara dan perantara ilmuNya yang berbeda.

Serba guna dan tahan lama. Kalimat yang selalu teringat dalam hati kami selama 2 tahun berada dalam insan ke-3. Tiap ba’da subuh, sebuah persidangan kecil selalu di agendakan untuk menginterogasi seluruh penghuni asrama. Bertanya seputar kuliah, organisasi, IP, tentang kamar mandi, tentang piring-piring yang berserakan di ruang tamu, tentang televisi, tentang jam malam, tentang bolos kajian bahkan tentang menu makan pagi yang akan disantap setelahnya.

Sebuah cuplikan kata-kata yang tak ada bosannya terucap mendentangkan gendang telinga kami di pagi hari….

Kalian harus selesai dengan diri kalian sendiri…!!!

Tidak peduli apakah itu ketua BEM, ketua KS, ketua SKI, ketua Partai, ketua HM. Tidak peduli itu teknik, tidak peduli itu kedokteran. Semuanya harus selesai dengan diri sendiri. Kalau kalian tak bisa mengatur dan disiplin pada diri sendiri, bagaimana mungkin bisa mengatur dan mengelola orang lain dalam jumlah yang banyak? Apatah lagi bila kalian nanti mengelola negeri ini???

Tasikmalaya, 15 April 2013

22.20 WIB

Iklan

Tag:,

About jupri supriadi

unzhur maa qaalaa walaa tanzhur man qaalaa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: