Dilema #7: Bayang-bayang “kakak”


Setiap generasi punya masa keemasan produktivitas kontribusinya. Berjalannya waktu menghendaki adanya sebuah regenerasi dan pembaharuan. Baik itu regenerasi person maupun pembaharuan sistem. Setiap masa punya orang-orangnya. Setiap masa punya tantangan berbeda. Setiap masa butuh orang-orang yang pemikirannya mampu mendahului masanya. Berpikir lebih jauh ke depan, bukan nostalgia kenangan keemasan yang lalu.

Pun, begitu juga dengan seseorang bernama maha-siswa. Punya limit waktu yang harus ditepati. Terlebih lagi bagi mereka yang memiliki aktifitas padat diluar dari agenda perkuliahan resmi.

Awalnya saya tidak ingin berkicau tentang masalah ini, namun beberapa sms yang masuk dari adek2 beberapa hari yang lalu membuat saya gatal ingin menulis ini.

Lulus cepat atau lambat itu hak saya. Masing-masing orang kan punya rencana hidupnya sendiri, buat apa toh lulus cepat tapi pada akhirnya belum siap untuk terjun langsung di dunia pasca kampus.”

Mungkin gambaran redaksi di atas sedikit bisa memunculkan pro dan kontra. Yang pro adalah mereka yang saat ini menjadi mahasiswa tingkat akhir sejak beberapa semester, dan yang kontra adalah mahasiswa yang punya prestasi bagus dan lulus cepat. Meskipun saya terhitung sebagai mahasiswa yang telat lulus (4 tahun 2 bulan) namun dalam kesempatan kali ini saya ingin mengambil posisi ‘kontra’ dalam perspektif yang lain. Bukan pada persoalan ‘kuliah’nya akan tetapi pada aktivitas lain diluar agenda kuliah yang sering digeluti oleh para aktifis. Aktif diberbagai lembaga maupun himpunan dan lain sebagainya.

Lama atau tidaknya seorang aktifis di kampus bisa menjadi sebab yang mungkin jarang disadari oleh sebagian orang. Sebagian mungkin menganggap itu adalah betuk heroisme.

Saya masih ada di kampus untuk menyelesaikan tugas-tugas lembaga yang belum selesai. Saya masih berada di kampus untuk menyelesaikan amanah-amanah yang masih menjadi PR besar.”

Secara sepintas, memang ada heroisme di sana. Berkorban untuk telat lulus, berlama-lama di kampus dan masih menjadi pengurus aktif lembaga. Padahal di sisi lain telah ‘menghambat’ kaderisasi anak-anak muda yang sudah saatnya untuk diberikan kesempatan mengarungi medan kampus yang begitu rumit.

Selama sang ‘kakak’ masih ada di kampus, maka sang ‘adek’ pun akan terhambat perkembangannya. Segala keputusan dan ide-ide yang lebih segar dari sang adek pada akhirnya hanya menjadi usulan yang ditentukan jalan atau tidaknya oleh sang kakak.

Kaderisasi terhambat. Kenapa? Karena “sang kakak” masih mengemban amanah untuk menyelesaikan PR-PR nya, padahal sudah seharusnya tugas-tugas itu diberikan kepada sang adek. Bisa jadi, saat masa-masa keemasan “sang adek” justru ia tidak diberdayakan karena semua tugas yang seharusnya ia jalani, masih menjadi otoritas sang kakak.

Si adek pasti perlu belajar. Tidak mungkin ia hanya berada di kelas 5 terus karena ruang kelas tidak mampu lagi menampung siswa di kelas 6, apalagi masih banyak siswa kelas 6 yang tak kunjung lulus. Begitu juga dengan pendistribusian amanah, jangan karena “sang kakak” masih ada di kampus, lalu semua kewenangan dan kebijakan masih menjadi otoritasnya. Si adek perlu naik kelas. Karena dia sudah saatnya naik kelas. Harus ada kesempatan untuk adek-adek yang lebih muda. Bukan meminta amanah. Tapi mereka perlu belajar…..

*sejujurnya ingin melanjutkan hashtag #puzzle dan mengakhiri #Dilema #Ironi  #Manja….

Tasikmalaya, 17 April 2013

About jupri supriadi

unzhur maa qaalaa walaa tanzhur man qaalaa

2 responses to “Dilema #7: Bayang-bayang “kakak””

  1. tettyharahap says :

    actually, saya setuju dengan pos ini.
    itulah kenapa loncat generasi adalah ide yang bagus tapi sayangnya ditolak ‘atasan’😦

    tidakkah mereka rasakan baik adik maupun kakak susah moving on😀 dengan kondisi ini
    *nyenggol komen atas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: