#Bakar 2: Menyelesaikan masalah tanpa masalah


Ada satu jargon dari salah satu BUMN yang menurut saya cukup mengena dan menjadi energi postif ketika terus menerus disebarluaskan dan dijadikan prinsip dasar kinerja mereka. “Mengatasi masalah tanpa masalah.” mengajarkan kepada kita untuk bisa keluar dari kungkungan masalah tanpa harus terjebak kembali dalam masalah lain yang bisa saja lebih besar efeknya.

Terkadang salah penyikapan dan keliru dalam pengambilan keputusan bisa mengakibatkan tribulasi masalah akan menggelinding menjadi tumupukan-tumpukan masalah baru yang seharusnya tidak terjadi namun muncul akibat kesalahan kita dalam menyikapinya.

Kunci awal dalam penyelesaian masalah adalah identifikasi masalah itu terlebih dahulu. Seorang dokter misalnya, sebelum ia merekomendasikan resep yang harus di beli dan dikonsumsi oleh si pasien, tentunya dokter tersebut harus mampu mendiagnosa penyakit apa yang sedang di derita oleh pasien tersebut. Apakah termasuk kategori ringan, sedang ataupun berat. Seorang dokter pasti harus berhati-hati melakukan diagnosa atau identifikasi penyakit yang diderita sang pasien. Gejala-gejala yang muncul dikumpulkan dan dianalisis, barulah kemudian sang dokter bisa merekomedasikan obat yang tepat untuk penyembuhan penyakitnya.

Jika di tahap pertama ini gagal. Salah diagnosa. Maka kemungkinan besar obat yang diberikan kepada pasien tidak akan berdampak baik bagi kesembuhan penyakit si pasien, bahkan bisa jadi kesalahan pendiagnosaan ini menjadi sebab munculnya penyakit-penyakit yang lebih berbahaya lagi.

Bicara masalah diagnosa masalah, suatu hari seorang ustadz pernah berkata, “kalau kamu menemukan lantai dalam keadaan basah dan kotor, apa yang akan kamu lakukan?” Tentu pemikiran spontan yang biasa terucap adalah mengepel lantai tersebut sampai kering. “Salah..” ustadz itu pun kemudian menyanggah. “Kalau kalian melihat lantai yang basah, jangan langsung di pel. Coba lihat dulu apakah di sekitar lokasi lantai yang basah itu ada sebab-sebab yang menyebabkan lantainya menjadi basah. Apakah ada genteng yang bocor? Jangan sampai kamu tiap hari selalu membersihkan dan mengeringkan lantai yang basah namun tidak mengetahui penyebab basahnya lantai tersebut. alhasil apa yang kamu lakukan tiap hari hanya menjadi peredam masalah, bukan penyelesaian masalah.”

Kalau kita sudah tahu inti dari masalah tersebut , maka itulah yang harus diselesaikan terlebih dahulu. Bukan pada faktor-faktor turunannya. Bergerak pada faktor-faktor turunan hanya akan menyelesaikan masalah sementara waktu, bahkan bisa jadi akan menimbulkan masalah baru lainnya yang lebih rumit. Fokus pada inti persoalan adalah langkah awal untuk bisa bergerak efektif dalam setiap penyelesaian masalah-masalah yang akan kita hadapi. “Afalaa Tatafakkaruun….”

2 Ramadhan 1434 H

22.35 WIB

About jupri supriadi

unzhur maa qaalaa walaa tanzhur man qaalaa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: