Ujian kesabaran di segala kondisi


Tidak akan pernah kebaikan dn kejahatan menjadi satu, melebur hingga kita tak lagi merasa perlu adanya orang-baik dan tak risih dengan kehadiran orang jahat. Baik dan buruk adalah dua hal yang sudah jelas sangat berbeda, ia tak bisa dibuat seolah-olah menyatu. Bahkan dalam keseharian kita pun, baik dan buruk selalu hadir meski tak datang bersamaan.

Saat kebaikan sedang menjadi perisai diri kita, saat itu pula keburukan sedang kecewa karena tak bisa menguasai manusia. Setan-setan akan kecewa di saat setiap hamba taat kepada Tuhannya, dan mereka juga akan gembira saat manusia lupa dan ingkar pada Tuhannya.

Perjalanan hidup kita yang diselingi baik dan buruk menjadi sebuah medan yang menantang untuk menunjukkan siap diri kita dan apa yang sebenarnya kita harapkan setelah kita mati nanti. Menjadi tantangan yang menarik karena kehidupan kita ini menguji kesabaran seberapa lama kita bertahan untuk tetap berada dalam kebaikan yang juga berarti seberapa lama pula kita jauh dari keburukan. Hidup yang menjadi kumpulan kesabaran ini juga menjadi ujian, seberapa kuat iman yang ada dalam hati kita. Rapuhkah ia atu justru semakin kokoh dengan ujian-ujian yang datang menerpa.

Naik-turun. Begitu sering kita dengar untuk menggambarkan kondisi iman seseorang. Bisa jadi pagi ia baik, siang berbuat jahat, sore berbuat baik dan malam kembali jahat. Seminggu menjadi orang baik, seminggu menjadi orang jahat. Sebulan menjadi orang yang bersyukur dan sebulan lagi kufur.

Ujian keimanan itu tak ada yang pernah tahu akan seberapa dahsyat ia menghampiri kita. Tak pandang bulu. Semuanya akan diuji. Karena Allah menginginkan hamba-hambaNya naik derajat di sisiNya.

Ujian kesabaran.. Itulah kenapa Allah memberi pesan kepada manusia lewat firmanNya, “Innallaha ma’ashshabiriin”.. karena itulah yang teramat berat untuk kita jalani. Saat berada dalam lingkungan baik dengan teman-teman baik dan kultur yang baik, bisa jadi kita mampu bertahan dalam segala macam bentuk ujian. Namun bila salah-satu yang selama ini menyokong kita untuk menjadi baik itu hilang, disitulah letak ujiannya. Seberapa kuat, dan seberapa lama daya tahan yang dimiliki untuk bisa menghindar dari keburukan-keburukan akhlaknya.

Fa alhamaha fujuraha wa taqwaha ” ( QS 91:8)

Ada potensi baik dan juga ada potensi buruk. Saat kita selalu terjaga dalam lingkungan yang islami, teman-teman aktivis yang penuh semangat, kajian-kajian berlimpah yang tinggal pilih saja, disitu mungkin potensi baik kita yang akan muncul. Sedangkan potensi buruk akan lama-lama terpendam dan tak berdaya. Namun, tak selamanya kondisi itu ideal, kondisi realita yang sebenarnya justru akan lebih banyak kita hadapi dari pada kondisi idealnnya.

Sudah siapkah kita menghadapi kondisi tidak ideal itu?

Seseorang mungkin bisa bertahan baik dalam kondisi ideal, namun daya tahan itu belum teruji dengan baik bila ia belum pernah merasakan berada dalam kondisi tidak ideal. Padahal, ideal-tidak ideal akan terus dipergilirkan dalam kehidupan ini.

 

Cilegon, 30 Oktober 2013

About jupri supriadi

unzhur maa qaalaa walaa tanzhur man qaalaa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: