Archive | Februari 2014

Jika benar itu iya… (2)


Jika benar itu iya…
syukurku terucap dalam lirih getar suara.
merendah hati, menyapa seluruh semesta.

Jika benar itu iya…
Hilanglah semua kelu yang selama ini membisu.
Hilang pula sendu, mungkin juga pilu.
 
Jika benar itu iya…
Terukir indah, Senyum merekah.
Tersibak tabir, merenda hikmah.
 
Jika benar itu iya…
terjawab sudah do’a yang dilantunkan.
dalam tasbih khusyuk di sepertiga malam.
 
Jika benar itu iya…
ini bukan tentang angan-angan.
tapi tentang harapan dan keyakinan.
 
Jika benar itu iya…

-Jupri.Supriadi
23 Februari 2014, 22.00 WITA

Iklan

Kalau memang bukan iya… (1)


Kalau memang bukan iya…
Diri inipun sudah bersiap, jika pada akhirnya tidak.
Menyiapkan ruang kecewa, agar tak ada dinding hati yang retak.

Kalau memang bukan iya…
Hati ini pun selalu berusaha meyakini.
Bahwa ada takdir terbaik yg sedang menanti.

Kalau memang bukan iya…
Bukan alasan pembenaran untuk menjadi sedih.
Bukan pula berkata bahwa duka ini perih.

Kalau memang bukan iya…
Tak perlu lama lara berpanjangan.
Karena terlalu mahal tetes air mata berjatuhan.

Kalau memang bukan iya…
Ini bukan tentang kepasrahan.
Tapi tentang keteguhan dan keikhlasan.

Kalau memang bukan iya…

-Banjarmasin, 00.58 WITA
Masjid SDIT Ukhuwah

Karena Bu Risma


Islam is Fun

Bismillahirrahmanirrahim..

Oke, sebetulnya kontributor sontoloyo ini belum ijin sama empunya blog buat ngisi. Cuman desakan lingkungan *caelah* udah sangat kuat. (1) teman sebaya yang ngojok-ngojokin buat nulis di laman ini lagi; (2) kasus di lapangan *emang mau nulis apaan sampe bawa kasus segala* yang udah menggila, ntar diceritain; (3) abis nonton Mata Najwa edisi Bu Risma sampe meleleh air mata, jadi pengen berjuang bareng semampu yang saya bisa; (4) kemaren kakak kelas ngeshare video dan kayaknya saya nemu benang baru (dari kasus yang ntar saya ceritain) dan penting buat saya tulis ulang supaya bisa saya runut benangnya biar ga kusut dikepala (kepentingan pribadi).

videonya ada disini :

Cukup sekian aja yang bikin saya bulet untuk nulis lagi disini. Dan sebenernya saya rada2 ragu tadi, mau nulis disini atau di blog pribadi, tapi karena nilai yang saya bawa bakal kental banget dengan prinsip hidup, saya pilih disini karena saya memposisikan diri…

Lihat pos aslinya 4.589 kata lagi

Menyiapkan ruang kecewa


Harapan dan keinginan itu berakhir pada dua ujung, kepuasan dan kekecewaan. Besarnya rasa kecewa biasanya berbanding lurus dengan seberapa besar harapan yang telah terpatri sebelumnya.

Jika pada akhirnya apa yang kita inginkan tak sesuai kenyataan, maka ada ruang di hati yang harus bersiap untuk kecewa. Setiap orang pasti pernah merasakannya.

Sebenarnya tidak masalah orang kecewa, selama itu hanya mampir sebentar. Karena ikhlas itu juga butuh proses kan? Tinggal bagaimana kita memiliki antisipasi atas harapan yang tak terwujudkan itu.

Jika ada harapan, pastikan ada ruang di hati yang siap menampung rasa kecewa. Agar tak terlalu sedih, agar tidak terlalu kaget dengan realita sebenarnya. Jangan sampai kita berhenti berharap hanya karena takut kecewa.

Yang di atas itu, konteksnya jika ada hubungannya dg manusia. Berharap si A demikian, si B berubah sikap, si C bisa ini itu.

Namun, Jika berharap pada Allah pasti tak akan kecewa, karena setiap takdir yg menyapa kita itu adalah kehendak  yg terbaik dariNya.

Rumah Tangga Surga – Budayakan Kalimat Positif


1. Masihkah kita tertarik tuk mengetahui kebiasaan penduduk surga agar kita bisa bawa hal itu dalam rumah tangga kita?

2. Kebiasaan penduduk surga tercermin dalam aktivitas bicara. Tak pernah keluar kalimat negatif ataupun kalimat yg sia-sia (QS 56 : 25)

3. Setiap kalimat yg keluar dari lisan mereka selalu positif dan mengandung keselamatan (QS. 56 : 26)

4. Inilah salah satu rahasia knp anggota keluarga senantiasa betah di rmh. Krn penghuninya senantiasa bcr kalimat positif yg tentramkan jiwa

5. Kalimat negatif sebisa mungkin dihindari. Sebab bukan memotivasi justru menghancurkan kepercayaan diri

6. Jika dalam rumah tangga sudah mulai suka mencela, maka hilanglah suasana surga.

7. Jika sudah mulai saling mencaci. Jangan harap cinta tumbuh bersemi

8. Lihatlah kebiasaan penduduk surga sehabis kumpul dari pasar. Disambut istri di depan rumah dgn kalimat “kamu makin tampan aja”

9. Ia pun tak kalah memuji sang istri dgn ucapan “kamu juga ditinggalkan makin cantik”

10. Inilah kebiasaan unik penduduk surga yg disampaikan rasulullah dalam haditsnya yakni suka memuji (HR. Muslim)

11. Maka perhatikan rumah tangga kita, seberapa sering kita memuji amat mempengaruhi suasana surga di dalam rumah
12. Jika istri mulai bertambah usia, perbanyaklah memujinya dgn pujian yg tulus. Bukan justru menyindir kulitnya yang makin keriput
13. Jika badan istri tak lagi selangsing dulu jangan pernah katakan : “kamu makin seksi. Seksi konsumsi, maksudnya” 😀
14. Meski cuma candaan, namun wanita amat sensitif terhadap kalimat yang menyindir usia, penampilan dan berat badan
15. Kepada anakpun begitu juga. Jangan suka mengkritik meski prestasinya tak sesuai yg diharapkan.
16. Kalimat negatif yg sering diucapkan kepada anak justru membuatnya makin tak percaya diri.
17. Anak-anak yg minder dan tak berani tampil bermula dari banyaknya kritikan di masa kecil
18. Ketika ia baru bisa berjalan, ortunya malah berkata : “ah dulu ayah seusiamu bisa lari sambil salto. Itu mah biasa aja”
19. Atau ketika nilai matematikanya menurun, banyak ortu yg berkata : “temanmu Irfan aja bisa, masa’ kamu nggak?”
20. Ingat, anak tak suka dibanding-bandingkan. Sebab setiap anak unik dan istimewa
21. Kita pun akan tersinggung jika anak berkata “ ayahnya arif aja bisa ajak jalan2 ke bali tiap minggu. Kok ayah gak bisa sih?”
22. So, budayakan kalimat positif dalam rumah tangga. Sebab ini tabiat penghuni surga
23. Saat suami baru pulang kantor, istri harus bisa menahan diri tuk bicarakan kenakalan dan perilaku negatif anak
24. Rasa lelah sehabis bekerja, akan membuat emosi memuncak jk awal pembicaraan dimulai dgn sesuatu kalimat yg menceritakan hal negatif anak
25. JIka ada sesuatu hal negatif yg hrs dbicarakan dgn suami, pakailah strategi Ummu Sulaim saat ingin memberi kabar bhw anaknya telah wafat
26. Ia layani dulu kebutuhan perut&“di bawah perut” suami. Ktk syahwat terpuaskan, maka lebih mudah mnerima kritikan atau hal yg tak disukai
27. Memang tak mungkin menghindar dari bicara negatif dalam rumah. Namun semakin sering diucap, makin hilang suasana sakinah
28. Kalimat pujian dan optimis harus lebih sering diucap dibandingkan kalimat kritikan dan pesimis
29. Kalimat positif yg keluar tak perlu pakai embel-embel “tapi”. Sebab pujian yg disertai kata “tapi” justru menyakitkan hati
30. Coba perhatikan kalimat “kamu cantik TAPI cerewet”. Kata terakhir justru yg diingat oleh istri. Menyakitkan bukan?

31. Atau kalimat “kamu hebat nak TAPI badanmu bau”. Justru pujian seperti ini amatlah menyakitkan bagi anak

32. Ibarat mula-mula dinaikkan ke atas langit, untuk kemudian dijatuhkan dari atas monas. Sakit sekali rasanya

33. Gantilah kata “TAPI” dgn kata “dan lebih sempurna lagi kalau”. Ini lebih positif karena ada saran dibandingkan kritikan

34. Misalnya “kamu pintar nak DAN LEBIH SEMPURNA LAGI KALAU rajin mandi”. Lebih indah kan? Ada solusi di dalamnya

35. Daripada mengkritik anak, lebih baik ucapkan kalimat saran sekaligus doa untuknya

36. Jika anak mengesalkan hati, jgn melaknat. Gantilah dgn doa “ semoga sudah besar nanti km jadi orang hebat yg kan melawan kezhaliman nak”

37. Indah bukan? Ada doa yg terhubung ke langit. Dimana berpeluang besar untuk dikabulkan Allah

38. Maka, dari sekarang biasakan kalimat positif di dalam rumah. Semua tentu suka mendengarnya

39. Tentu kalimat positif yg dimaksud bukan kalimat “saya positif sebagai pecandu narkoba”. Ini “positif” yg bikin hancur rumah tangga

40. Semoga keberkahan untuk kita semua. Silahkan share jika ada guna. Salam cinta (bendri jaisyurrahman)

sumber: @AjoBendri

 

Penerimaan Peserta Didik Baru MAN Insan Cendekia / 2014-2015


Penerimaan Peserta Didik Baru MAN Insan Cendekia / 2014-2015 sudah dibuka
Jadwal Kegiatan PPDB

Sosialisasi dan publikasi: 1 Februari – 5 April 2014
Proses pendaftaran: 10 Maret – 5 April 2014
Seleksi berkas: 17 Maret – 12 April 2014
Pengumuman peserta tes tulis: 30 April 2014
Pelaksanaan tes tulis: 17 Mei 2014
Pengumuman kelulusan: 11 Juni 2014
Daftar ulang: 14 – 30 Juni 2014
Awal masuk madrasah: 7 Juli 2014 (tentatif)

selengkapnya buka web resmi di http://penerimaan.insancendekia.sch.id/Gambar

Pernikahan: Peristiwa Peradaban


“Kita seringkali menganggap bahwa pernikahan itu adalah peristiwa hati. Tapi pada dasarnya pernikahan itu adalah peristiwa peradaban.” ~ Anis Matta

Pernikahan itu bukan sekedar peristiwa dari sepasang manusia yang jatuh cinta lalu meresmikan cintanya itu dalam bentuk akad. Ini adalah satu peristiwa peradaban yang mengubah komposisi demografi manusia secara keseluruhan. Dan kita sebagai ummat Islam mengagung-agungkan peristiwa ini karena ia adalah peristiwa hati dan juga peristiwa peradaban. Sehingga kalau kita bisa mengatakan bahwa insya Allah, salah satu sebab penyebaran umat Islam di dunia ini nanti sebagian besar karena faktor pernikahan

تَزَوَّجُوا الْوَدُوْدَ الْوَلُودَ فَإِنِّي مُكَاثِرٌ بِكُمُ الْأُمَمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Nikahilah wanita-wanita yang penyayang dan subur, karena aku akan berbangga dengan banyaknya jumlah kalian –pada hari kiamat- di hadapan umat lain.” (Dishahihkan oleh al-Albani dalam Irwa’ al-Ghalil no. 1784).

di sisi lain peradaban barat yang sudah rusak karena sex bebas dan aborsinya semakin lama semakin menurunkan persentase kelahiran generasi baru. Penduduk Eropa, diperkirakan akan menurun 14 persen antara tahun 2013 dan 2100. Karenanya, tak perlu ada perang dunia yang baru untuk bisa menaklukkan peradaban barat. tapi kita perlu memperbanyak peristiwa pernikahan. Heuheu..

Setelah menikah, seorang manusia akan memiliki tempat tinggal baru untuk menjalani kehidupan bersama dengan pasangannya. Rumah itu adalah satu sayap dalam kehidupan manusia. Sayapnya yang lain adalan dunia pekerjaan. Kalau ia gagal dalam rumah tangga hampir bisa dipastikan ia akan mengalami kesulitan dalam bekerja, tapi kalau ia sukses dalam rumah tangga hampir juga bisa dipastikan insya Allah ia akan sukses di dunia di luar rumahnya. Rumah adalah benteng jiwa kita semua. Kalau di dalam benteng itu kita mendapat energi yang memadai, insya Allah di luar benteng itu kita akan menjadi sangat produktif.

Sejak awal, Islam menjadikan rumah tangga sebagai basis sosial yang paling kokoh. Perlu dirawat, perlu diperbaiki, dan perlu dijaga. Karena dari sinilah seseorang akan mendapatkan sumber energi. Kata sakinah berasal dari kata sakan yang artinya tempat tinggal (menetap). Yang menunjukkan stabilitas. Kalau kita tidak stabil kita tidak bisa menghadapi goncangan dalam kehidupan berumah tangga.

Dunia pekerjaan adalah dunia yang penuh goncangan. Apakah kita akan menjadi pengusaha, politisi, pekerja sosial. Apapun pekerjaan kita di luar rumah itu pasti akan dipenuhi dengan goncangan yang dahsyat. Dan kita akan kuat kalau kita punya sakan, tempat tinggal, tempat jiwa kita menetap, tempat hati kita menemukan stabilitasnya. Dan itu ada di dalam rumah kita. Kalau kita tidak menemukannya di dalam rumah kita, kita tak akan kuat menghadapi goncangan-goncangan tersebut.

Dari awal, Islam tidak hanya memberikan anjuran untuk menikah, tapi juga memberikan tools bagaimana menjadikan rumah itu sebagai sumber stabilitas. Bukan sekedar tenang. Sebab ketenangan itu seperti air yang teduh di atasanya, tetapi ada gelombang yang dahsyat di dalamnya. Ada orang yang tenang, tapi tenang lalai. Bukan ini yang dimaksud. Akan tetapi tenang yg lahir dari awareness. Ketenangan yang lahir dari keasadaran, tenang yang lahir dari kemantapan hati. Dan manusia akan menjadi tenang manakala kebutuham-kebutuhannya akan terpenuhi secara komprehensif.

Yang membuat kita bisa bertahan dalam beban yang panjang adalah persepsi awal yang kita bangun saat akan menikah, dan persepsi awal ini terutama terkait tentang cara kita mempersepsikan cinta. Kalau cinta kita pahami sebagai rasa ketertarikan, ini pasti cepat pudar. Sebab begitu beban datang, yang teruji itu bukan fisik tapi jiwa. Apakah kita rela memikul lebih banyak ataukah ingin memikulkan beban ini kepada orang lain lebih banyak. Yang diuji itu apakah kita jenis manusia pemikul beban atau justru sumber beban. Karena itu definisi cinta yang paling mendalam adalah dorongan memberi yang tidak pernah habis kepada orang yang kita cintai.

*Habis denger khutbah nikahnya Anis Matta di pernikahan salah satu alumni Insan Cendekia