Pernikahan: Peristiwa Peradaban


“Kita seringkali menganggap bahwa pernikahan itu adalah peristiwa hati. Tapi pada dasarnya pernikahan itu adalah peristiwa peradaban.” ~ Anis Matta

Pernikahan itu bukan sekedar peristiwa dari sepasang manusia yang jatuh cinta lalu meresmikan cintanya itu dalam bentuk akad. Ini adalah satu peristiwa peradaban yang mengubah komposisi demografi manusia secara keseluruhan. Dan kita sebagai ummat Islam mengagung-agungkan peristiwa ini karena ia adalah peristiwa hati dan juga peristiwa peradaban. Sehingga kalau kita bisa mengatakan bahwa insya Allah, salah satu sebab penyebaran umat Islam di dunia ini nanti sebagian besar karena faktor pernikahan

تَزَوَّجُوا الْوَدُوْدَ الْوَلُودَ فَإِنِّي مُكَاثِرٌ بِكُمُ الْأُمَمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Nikahilah wanita-wanita yang penyayang dan subur, karena aku akan berbangga dengan banyaknya jumlah kalian –pada hari kiamat- di hadapan umat lain.” (Dishahihkan oleh al-Albani dalam Irwa’ al-Ghalil no. 1784).

di sisi lain peradaban barat yang sudah rusak karena sex bebas dan aborsinya semakin lama semakin menurunkan persentase kelahiran generasi baru. Penduduk Eropa, diperkirakan akan menurun 14 persen antara tahun 2013 dan 2100. Karenanya, tak perlu ada perang dunia yang baru untuk bisa menaklukkan peradaban barat. tapi kita perlu memperbanyak peristiwa pernikahan. Heuheu..

Setelah menikah, seorang manusia akan memiliki tempat tinggal baru untuk menjalani kehidupan bersama dengan pasangannya. Rumah itu adalah satu sayap dalam kehidupan manusia. Sayapnya yang lain adalan dunia pekerjaan. Kalau ia gagal dalam rumah tangga hampir bisa dipastikan ia akan mengalami kesulitan dalam bekerja, tapi kalau ia sukses dalam rumah tangga hampir juga bisa dipastikan insya Allah ia akan sukses di dunia di luar rumahnya. Rumah adalah benteng jiwa kita semua. Kalau di dalam benteng itu kita mendapat energi yang memadai, insya Allah di luar benteng itu kita akan menjadi sangat produktif.

Sejak awal, Islam menjadikan rumah tangga sebagai basis sosial yang paling kokoh. Perlu dirawat, perlu diperbaiki, dan perlu dijaga. Karena dari sinilah seseorang akan mendapatkan sumber energi. Kata sakinah berasal dari kata sakan yang artinya tempat tinggal (menetap). Yang menunjukkan stabilitas. Kalau kita tidak stabil kita tidak bisa menghadapi goncangan dalam kehidupan berumah tangga.

Dunia pekerjaan adalah dunia yang penuh goncangan. Apakah kita akan menjadi pengusaha, politisi, pekerja sosial. Apapun pekerjaan kita di luar rumah itu pasti akan dipenuhi dengan goncangan yang dahsyat. Dan kita akan kuat kalau kita punya sakan, tempat tinggal, tempat jiwa kita menetap, tempat hati kita menemukan stabilitasnya. Dan itu ada di dalam rumah kita. Kalau kita tidak menemukannya di dalam rumah kita, kita tak akan kuat menghadapi goncangan-goncangan tersebut.

Dari awal, Islam tidak hanya memberikan anjuran untuk menikah, tapi juga memberikan tools bagaimana menjadikan rumah itu sebagai sumber stabilitas. Bukan sekedar tenang. Sebab ketenangan itu seperti air yang teduh di atasanya, tetapi ada gelombang yang dahsyat di dalamnya. Ada orang yang tenang, tapi tenang lalai. Bukan ini yang dimaksud. Akan tetapi tenang yg lahir dari awareness. Ketenangan yang lahir dari keasadaran, tenang yang lahir dari kemantapan hati. Dan manusia akan menjadi tenang manakala kebutuham-kebutuhannya akan terpenuhi secara komprehensif.

Yang membuat kita bisa bertahan dalam beban yang panjang adalah persepsi awal yang kita bangun saat akan menikah, dan persepsi awal ini terutama terkait tentang cara kita mempersepsikan cinta. Kalau cinta kita pahami sebagai rasa ketertarikan, ini pasti cepat pudar. Sebab begitu beban datang, yang teruji itu bukan fisik tapi jiwa. Apakah kita rela memikul lebih banyak ataukah ingin memikulkan beban ini kepada orang lain lebih banyak. Yang diuji itu apakah kita jenis manusia pemikul beban atau justru sumber beban. Karena itu definisi cinta yang paling mendalam adalah dorongan memberi yang tidak pernah habis kepada orang yang kita cintai.

*Habis denger khutbah nikahnya Anis Matta di pernikahan salah satu alumni Insan Cendekia

Tag:

About jupri supriadi

unzhur maa qaalaa walaa tanzhur man qaalaa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: