Archive | April 2014

tentang satu janji


sesisa waktu yang kian bergerak. menyapamu penuh kerinduan.

ia kini menanti janjimu.

tentang do’a-do’a penuh harap di sembilan bulan lalu. saat pertama kali kau melangkahkan kaki meninggalkan bulan suci. dari sudut kota kembang itu.

dalam sengguk yang terbata, kau berjanji untuk menyambutnya lebih baik lagi. jauh lebih baik lagi.

 

ah.. ternyata kau juga lupa, ada satu janji lagi yang belum kau tunaikan. lebih tepatnya belum mampu kau laksanakan.

di hadapan adik-adikmu di Habiburrahman.

 

Allahumma baariklanaa fii rajaba wa sya’bana wa ballighnaa ramadhan.

1 Rajab 1435H

 

_Palangkaraya. 30.04.14

Iklan

‘ De Winst ‘ #1


Asiik… Cinta itu tak sekedar dicari, tapi juga ditumbuhkan.

pohon pisang

Tarik menarik saat itu pun terjadi tanpa sepengetahuan diri ini. Aktor utama saat itu adalah Mba dan Mas saya, yaitu Mba Koi dan Mas Wicak. Sebuah pilihan yang sesungguhnya sudah di atur oleh-Nya melalui tangan-tangan mereka. Akhir 2010 hingga awal 2011 pun menjadi saksi sejarah tulisan ini muncul. Kisah antara Cendekia Teknika dan Sosmas BEM KMFT UGM…

Pertemuan sore itu pun diadakan bukan untuk menghadirkan diri ini dan mempertemukan dengan the hobbit. Sebut saja pimpinan forum rumah aceh kala itu adalah Pak Jupri. Sosok pendiam terlihatnya namun lihai berkata dalam fase tulisan hingga 160 karakter. Kala itu diri ini seperti tersihir oleh kata ‘sungkan’ setelah berkali-kali pantang menyerah Mba Koi mengirimkan SMS ke HP ini dari awal 2010. ” Ahh.. rasanya tidak enak tidak pernah hadir agenda CT sekalipun dan nyatanya beliau masih menghabiskan uangnya untuk orang yang sudah tidak peduli ini dengan CT ” Kata ini yang terucap saat…

Lihat pos aslinya 565 kata lagi

kata tanpa suara


kata adalah setengah perwujudan hati..

ia menjadi pendamping bagi lisan yang kelu bicara, terjemah dari sekian rupa gemuruh yang kian mulai meluruh.

ia akan menjelma dalam kata-kata. dengan atau tanpa suara.

apa yang tertulis, merupakan apa yang sedang ia rasakan. apa yang diucapkan juga apa yang memang ingin ia sampaikan.

sayangnya, terkadang suara menjadi tersedak. terdiam. hening. tanpa sedikitpun mampu menggetar kesunyian.

Lalu, dengan apakah kau ungkapkan gemuruh yang kian mulai meluruh itu?

 

masih ada kata tanpa suara.

 

yang merona dalam bait-bait do’a….

dan pada saatnya nanti, kata tanpa suara itu akan berganti menjadi sebuah kata yang amat berat, yang diucapkan.

pada waktu yang paling tepat menurutNya.

26.04.14

masih dalam kata tanpa suara

 

 

 

hanya ruang hampa…


pilihan kita, pada saatnya nanti akan menjadi sebuah jawaban….  tentang apa yang kita rasakan.

saat kita menebang rerimbun hikmah, yang ada hanyalah kesepian hati. saat kita tak lagi memupuk ladang usia dengan do’a, yang ada hanya kegersangan jiwa. saat itu pula, hidup terasa semakin menyengat di bawah tatapan terik baskara. bahkan semilir anginpun kini tak lagi mampu menyejukkan ruang-ruang yang kini hampa.

saat jiwa mendekap gelisah, aku mencoba lari darinya. mencari sebuah ketenangan. tentang apa yang bisa membalikkan keadaan.

aku berlari mengejar waktu. menatap langit yang tersenyum, terdengar lirih bisiknya berkata:

“adakah bara yang padam dalam jiwamu? kembalilah.”

hanya ruang hampa, ketika Dia tak lagi hadir dalam tiap do’a.

 

24.04.14

dalam diam-diam


Ada binar gemintang menyapa di bilik tirai malam ini. Hujan deras sepanjang siang tadi berganti dengan keceriaan di separuh malam. Dalam beberapa jenak waktu, gemericik tetes air dari ujung dedaun masih tersisa bersahutan. Dalam lirih-lirih kecil peraduannya.

Ternyata… tak butuh waktu lama untuk mengubah sendu jadi rindu. Mengantar lara menjadi ceria. Bahkan tak perlu satu purnama berlalu, untuk bisa mengukir langit lebih ceria. Dari sebelumnya ia gulita.

Begitulah. Sedih dan bahagia bisa bertukar posisi dalam waktu yang singkat, kecewa dan bangga dapat berganti, dalam sebuah sebab yang kadang sulit dimengerti. Tapi ia berlari berkejaran dengan waktu. Singkat sekali. Hingga tak siapapun dapat menerka, kapan hati dapat terbolak-balik sesuai fitrahnya. Ia bisa saja berubah. Dalam hitungan detik. Dalam diam-diam.

Seperti sepotong rasa dalam qalbu, ada rindu yang telah lama diperam. Disimpan dalam-dalam. Dalam diam-diam. Ia selalu saja berubah, kadang rindu, terkadang menjauh. Kadang jauh, namun justru semakin merindu.

Meski ada sepetak aksara tempat kata berkumpul jadi satu, atau sejengkal waktu dalam tiap do’a khusyuk saling berpadu.. tetap saja ada rindu. Yang telah lama diperam. Disimpan dalam-dalam. Dalam diam-diam.

22.04.2014

di bawah cerianya langit malam

pada separuh purnama


pada separuh purnama…. di enampuluhtujuh hari menjelangnya

adakah rindu berderak-derak menyambutnya? atau sunyi sudah hati ini dari geletar cinta?

 

Banjarmasin 21.04.14, April yang berlari begitu cepat

negeri (yang) sakit…


berharap ada yang berubah dari layar kaca. tapi sepertinya hanya mimpi belaka.
apalagi dalam satu dua bahkan tiga bulan berikutnya.

hanya ada topeng memenuhi pandangan mata. mengubah setiap lakon cerita menjadi manis adanya. sandiwara.

berjalan kesana-kemari mencari sensasi. untuk sebuah kasta tertinggi di negeri ini. sebuah kursi.

tempat paling nyaman untuk memperkaya diri. juga bagi mereka yang ada di belakangnya membuntuti. para pencuri.

kabarnya pemimpin negeri seberang sudah mulai berdatangan. berharap ia jadi, memang. menang dan meraup simpati dari banyak orang. entah untuk apakah ia punya kepentingan. persekongkolan?

si pemilik tivi pun mulai mendekat. menawarkan dirinya sebagai back-up. khawatir banyak serangan dan perangkap. diapun bersemangat. jangan sampai kesempatan ini lewat. menambah amunisi untuk semakin memikat. rakyat.

tak boleh ada yang menghina. haram baginya sebuah cela. hanya ada puja-puja. bahkan nasi pecelpun jadi sebuah cerita. headline terpampang menghiasi media. sorot kamera tak pernah luput darinya. citra.

lakonpun semakin menarik. berbagai intrik dikemas menarik. hingga semua mata tertuju padanya, melirik. berharap ialah satria piningit. duh, negeri ini sedang sakit.