Archive | November 2014

Keputusan untuk mencintai


komik

Cinta kadang memerlukan jeda. Dengan waktu agar hadirkan rindu, dengan jarak agar kuatkan harap. Namun cinta tak kenal masa. Ketika ia sudah diputuskan untuk hadir membawa harapan dan menepis segala keraguan, ia tak boleh hilang, tak boleh mundur, tak boleh berkurang… bahkan dalam sepi sekalipun.

Syukur dan sabar…. adalah dua kata yang terpatri mengiringi perjalanan ini. Lima bulan meniti tapak-tapak kesungguhan untuk hadirkan sebuah keberanian. Keberanian untuk membuat satu komitmen. Mencintai. Keberanian untuk menanggung konsekuensi logis dari keputusan untuk mencintai itu. Keberanian yang dimulai dalam sebuah sebuah perjanjian yang kokoh (miitsaaqan ghaliiza) dihadapan semesta yang menjadi saksi. Dan setelah itu, hari demi hari akan dilalui sebagai realisasi atas komitmen yang telah diucapkan.

Betul apa kata Anis Matta dalam buku serial cintanya, Para pecinta sejati tak suka berjanji. Tapi begitu mereka memutuskan untuk mencintai. Mereka akan segera membuat rencana untuk memberi. Ketika kita sudah memutuskan untuk mencintai, maka cinta itu telah berubah. Dari sekedar rasa, kini menjadi tindakan nyata untuk memberi.

Banjarmasin.30.11.14

menanti satu purnama untuk merenda kisah bersama

Iklan

Mohon Do’a Restu :)


 

shiva-jupri-08

aku tak kuasa menolak.. bila engkaulah yang telah dipilihkan Nya untukku.

Jupri Supriadi & Shiva Ulya Azizah

 

Keluarga Bahagia Itu Sederhana Saja


Oleh Ust. Abdullah Haidir, Lc.

Keluarga mesra itu sederhana saja; Kalau suami tanpa beban dapat bilang sama istrinya, “Bu pijitin bapak dong.. pegel neh kerja seharian.” Sementara sang istri di lain waktu juga dapat dengan ringan bilang, “Pak, pijitan ibu dong, pegel neh seharian bersihin rumah…”

Keluarga rukun itu sederhana saja; Kalau suami tanpa beban dapat melihat akun FB, Twitter atau HP istrinya tanpa istri merasa dicurigai dan istri dengan ringan dapat melihat akun FB, Twitter atau HP suaminya tanpa suami merasa dimata-matai….

Keluarga hangat itu sederhana saja; Kalau suami dan istri dapat ngobrol panjang lebar berduaan dengan tema apa saja, dapat diselingi joke ringan sampai bercanda hingga ‘tonjok-tonjokan’….

Keluarga damai itu sederhana saja; Kalau suami dengan tulus memuji masakan istrinya yang sedap sedangkan di lain waktu dengan ringan dapat menegur makanannya yang kurang garam…. Sementara istri tidak terlalu khawatir jika makanan yang dia sediakan membuat suaminya marah, atau bahkan dengan ringan suatu saat dia mengatakan, “Pak, hari ini ibu tidak masak, kita beli saja yak…”

Keluarga akrab itu sederhana saja; Kalau suami senang berkunjung ke rumah orang tua istri dan istri riang jika berkunjung ke rumah orang tua suami. Kalau suami senang membantu keluarga istrinya dan istri dengan suka hati membantu keluarga suaminya…

Keluarga terbuka itu sederhana saja; Kalau istri dengan mudah dapat mengetahui isi kantong dan jumlah uang yang terdapat dalam rekening suami, sedangkan suami dengan mudah mengetahui dan memenuhi kebutuhan istri untuk keperluan diri dan urusan rumahtangganya…

Keluarga cinta ilmu itu sederhana saja, jika suami senang istrinya suka mengaji dan suka hati mengantarkannya ke pengajian walau melelahkan, sedangkan istri tidak menggerutu jika suami pulang malam karena menghadiri pengajian atau mereka datang bersama-sama ke pengajian..

Keluarga damai itu sederhana saja; Kalau suami dapat memahami jika sewaktu-waktu sang istri tidak dapat menunaikan kewajiban yang menjadi haknya dan istripun mau mengerti kalau sewaktu-waktu sang suami tidak dapat memenuhi kebutuhan yang diperlukan istrinya…

Keluarga akur itu sederhana saja; Jika istri dengan mudah dapat mengetahui posisi suami dan apa yang dia kerjakan tanpa suami merasa ‘dibuntuti’ sedangkan istri merasa selalu perlu izin suami jika ingin pergi tanpa merasa dikuasai…

Keluarga tenang itu sederhana saja, kalau marahnya suami kepada istri tidak berujung sumpah serapah dan tidak melupakan kewajibannya terhadap istri dan marahnya istri terhadap suami tidak berujung kata-kata keji dan tidak mengabaikan kewajibanya terhadap suami.

Keluarga aktif itu sederhana saja, jika suami merasa tenang dengan lingkungan pergaulan dan aktifitas istri di luar rumah karena sudah dia ketahui positifnya sedangkan istri juga merasa tenang dengan lingkungan pergaulan dan akifitas suami di luar rumah karena sudah disadari kedudukan dan manfaatnya. . ..

sumber: http://manhajuna.com/keluarga-bahagia-itu-sederhana-saja/

SPIRITUALITAS KADER | Seni Menciptakan Karakter Manusia bag-3


Selama ini yang sering disebut-sebut sebagai tujuan tarbiyah Islamiyah adalah menciptakan insan kaamil dan yang disebut al insanul-kamil adalah al-insaanul-mlaaikiyyun. Sementara dalam kenyataanya, tidak ada manusia yang menyerupai malaikat. Sebagian dari sifat malaikat memang ada di dalam diri manusia, namun sebagian sifat setan juga ada. Kedua unsur yang ada dalam diri manusia tersebut terus berusaha untuk saling mengalahkan.

Oleh karena itu, perlu kiranya ditegaskan bahwa output tarbiyah bukanlah insan kaamil melainkan al insaanush-shaalih yang sesuai dengan shalahiyatul Islam li kulli zamaanin wa makaanin. Aplikasi agama ini bisa adaptif terhadap ruang dan waktu, sedangkan orang yang shaalihun, adalah orang yang cocok untuk seluruh ruang dan waktu. Output tarbiyah Islamiyah haruslah juga manusia-manusia shalih yang cerdas untuk tempat dan zamannya.

Perbedaan antara al insaansh-shaalih dan al insaanul kaamil itu sangat mendasar, karena kebaikan tidak bisa berdiri sendiri. Kebaikan mempunyai makna manakala dinisbatkan kepada ruang dan waktunya. Demikian pula halnya dengan akhlak, yang juga tidak bisa berdiri sendiri, karena al akhlaaqul faadhilah atau akhlak-akhlak yang utama juga tidak bisa berdiri sendiri, dan baru mempunyai makna manakala dinisbatkan kepada ruang dan waktunya.

Sebagaimana Allah SWT melukiskan dua karakter orang beriman yang paradoksial:

“asyidda-u ‘alal kuffaar, ruhamaa-u bainahum.”

Sifat asyiddaa dengan ruhamaa lahir dari satu jiwa yang sama, tetapi tertuju kepada objek yang berbeda, dalam ruang dan waktunya yang berbeda, dan dalam konteks yang juga berbeda. JIwa yang sama melahirkan respon yang berbeda kepada obyek-obyek yang berbeda.

Oleh karena itu, sifat keras tidak bisa serta merta dibilang semata-mata baik atau sebaliknya buruk, melainkan harus dilihat sesuai dengan obyeknya dan konteks ruang dan waktunya. Ada saat seseorang harus bersikap keras, dan justru malah salah jika bersikap lembut. Sebaliknya pada saat seseorang harus bersikap lembut, maka akan salah jika bersikap keras. Artinya akhlak mengacu pada fungsi, sehingga seseorang tidak menjadi baik dengan sendirinya jika karakternya hanya satu, yakni lembut sepanjang masa. Atau sebaliknya, keras terus sepanjang masa. Manusia harus mengatur bagaimana memfungsikan seluruh karakter itu. Manusia beriman yang diinginkan sebagai produk tarbiyah harus mempunyai mekanisme instruksional di dalam dirinya yang akan membantu mengeluarkan sifat-sifat tersebut berdasarkan ruang dan waktunya, sehingga ketika obyeknya berbeda, maka penyikapannya pun berbeda.

 

 

~bersambung

sumber: buku “SPIRITUALITAS KADER” karya Anis Matta

Merindu Jiwa


Jiwa-jiwa itu sedang merindu

Menjalani hari dengan selaksa harapan

Menghias waktu bercengkrama riang dengan sang karib

Sesekali sepi itu datang, sang jiwa kerontang merindu

 

Jiwa-jiwa itu sedang merindu

Sesekali ingin mengetuk-ngetuk pintu Lauh Mahfudz

Biar saja melodi waktu yang mengaturnya

Untuk sebuah pertemuan..berujung barakah

 

Jiwa-jiwa itu sedang merindu

Yang kini keduanya sedang sibuk menyamakan gontai

Alunannya tengah berdesir menuju hempasan suatu muara

Ia akan tergenapkan..jika sang jiwa telah mengiyakan amanah

 

Jiwa-jiwa itu sedang merindu,

merindu untuk tergenapkan

Untai doa tiada keluh mengalir..beharap..melukis asa

Tangan-tangan itu menengadah..mengiba kesempurnaan dien

 

Ia akan datang, pasti akan datang

Membawa cahaya bintang di jelaga hati

Mengukir pualam mega pada desah jiwa

 

Ia akan datang dan pasti akan datang

Diiringi kepakan sayap para malaikat suci yang mengangkasa pada Arasy

Memberitahu pada penduduk langit

Bahwa sang Fulan telah menemukan serpihan jiwa

Sang Khalik pun tersenyum, menghendaki derajat sang Fulan meninggi dihadapanNYA

Memberi ruang padanya untuk mengokohkan pilar-pilar bersyurga

 

sumber: http://kolikolifamily.blogspot.com/2013/08/merindu-jiwa.html

monolog


siang tadi perjalanan darat Banjarmasin-Hulu Sungai hampir 5 jam, diselimuti mendung dan hujan lebat sepanjang perjalanan.

padahal sudah hampir lebih dari dua bulan kota ini tak diguyur hujan. belum pernah selama dan sederas ini.

dalam hati, akupun bertanya: “wahai langit, mengertikah kau dengan yang ku rasa hari ini?”

 

Hulu Sungai, 7.11.14

23.55 WITA