SPIRITUALITAS KADER | Seni Menciptakan Karakter Manusia bag-2


Proses manusia menerapkan nilai-nilai agama di dalam ruang dan waktunya bukan proses sekali jadi, melainkan membutuhkan waktu yang panjang. Pertama-tama dibutuhkan waktu untuk memahami konten panduan tersebut secara benar dan setelah memahaminya dibutuhkan pula waktu untuk memahami cara mengimplementasikannya sesuai dengan ruang dan waktu. Selanjutnya, pada saat pengimplementasiannya, dibutuhkan juga pemahaman tentang realitas ketika konten itu diterapkan dan setelah dipahami realitas pada saat melaksanakannya, mungkin ditemui fakta baru tentang keterbatasan-keterbatasan sebagai manusia. Di saat itulah disadari bahwa mungkin ada pemahaman yang salah tentang konten panduan tersebut, atau bisa juga benar cara memahaminya tetapi salah cara menerapkannya. Atau boleh jadi benar memahaminya dan benar juga cara mengimplementasikannya, tetapi konteks ruang dan dan waktunya tidak sesuai.

Oleh karena itu, istilah ‘amaliyatut tadayyun mengacu pada proses beragama yang berlangsung secara terus menerus. Di dalam Islam penilaian pada diri seseorang bukan hanya pada awal kehidupannya, pertengahannya, atau hanya akhirnya, melainkan dilihat secara total keseluruhannya, walaupun memang derajat yang paling menentukan adalah pada ujung kehidupan seseorang.

Ketika seseorang ditarbiyah dengan cara-cara Islam, maka berarti ia dibantu untuk memahami konten panduan dan cara melaksanakannya serta didorong untuk melaksanakannya. Bila kemudian di lapangan ketika berinteraksi ditemukan fakta bahwa orang tersebut memiliki kesalahan dan kekurangan, maka hal itu menunjukkan bahwa proses beragama itu (‘amaliyatut tadayyun) masih terus berlangsung terus menerus sepanjang hidup sebagai proses pembelajaran (‘amaliyatut ta’allum) juga sepanjang hidup. Oleh karena itu, agama Islam juga menyediakan satu konsep lain yang disebut perbaikan berkesinambungan (ishlaahul mustamir) melalui mekanisme taubat.

Taubat adalah konsep perbaikan berkesinambungan. Selama ini banyak yang salah memahami sehingga menganggap taubat hanya berupa pengakuan dosa. Padahal misalnya, seseorang yang baru saja shalat, juga mengucap istighfar, karena bisa saja pada saat shalat, hatinya tidak khusyu’. Oleh karena itu, walaupun seseorang sedang melakukan suatu amal yang bila dilihat secara fiqih, saqathal waajib, kewajiban selesai tertunaikan, tetap harus beristighfar atas ketidaksempurnaan amalnya. Apalagi Rasulullah SAW bersabda bahwa berapa banyak orang yang shalat, namun tidak mendapatkan dari shalatnya kecuali hanya sepersepuluhnya, maka konsep taubat juga bermakna penyempurnaan amal. ‘Amaliyatyt tadayyun (proses beragama) bukanlah proses sekali jadi, melainkan membutuhkan waktu sebagaimana proses pertumbuhan manusia di dalam rahim ibu juga bertahap. Hal itu pula hikmahnya mengapa nabi diangkat pada tingkat kematangan usia tertentu, yakni di puncak kematangannya.

“Dan tatkala dia cukup dewasa…” (Q.S. Yusuf:22)

Demikian pula manusia tumbuh dan berkembang, sehingga umur 1-20 tahun berbeda dengan umur 20-40 tahun, dan berbeda lagi dengan manusia dari 40 ke 60. Begitu juga ketika seseorang berusaha memahami teks Al Qur’an dan Sunnah yang akan berbeda di setiap fasenya. Sulit misalnya membacakan surat as-Sajadah ayat 16 kepada seorang remaja berusia 15 tahun, bahwa seolah-olah ia tidak boleh tidur.

“tatajaafa junuubuhum ‘anil madhooji'”

Hal itu akan sulit dimengerti oleh remaja tersebut , demikian pula ketika dibacakan ayat tentang makar sebagaimana dalam surat Ali-Imran ayat 54:

“wa makaruu wa makarAllah”

Sebab akumulai pengalaman hidup, bacaan dan pengetahuan, akan mempengaruhi cara seseorang memahami ayat-ayat tersebut. Demikian rumitnya proses ‘amaliyatut tadayyun, sehingga hanya dengan memahami proses beragama itulah, kita akan bisa memahami pula rumitnya ‘amaliyah tarbawiyah (proses tarbiyah) dan ‘amaliyatut takwin (proses pembinaan) yang diterapkan kepada seseorang agar mampu berinteraksi dengan ruang dan waktunya berdasarkan patokan-patokan nilai-nilai agamanya. Terlebih lagi pelakunya adalah manusia dan obyek pembinaanya pun manusia yang memiliki perbedaan-perbedaan, sehingga “output”pun menjadi berbeda-beda. Oleh karena itu, yang lebih perlu kita pahami dan sepakati adalah standar output seperti apa yang ingin dilahirkan oleh Islam melalui ‘amaliyah tarbawiyah tersebut.

~~bersambung

sumber: buku “SPIRITUALITAS KADER” karya Anis Matta

Banjarmasin.05.10.14

19.15 WITA

 
 

About jupri supriadi

unzhur maa qaalaa walaa tanzhur man qaalaa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: