tutup telinga


beberapa hari terakhir, ramai pemberitaan terkait seorang anak tokoh intelijen bersama seorang seleb mengolok-olok santri yang menutup telinga mereka ketika sedang antri vaksinasi. Santri itu merasa tidak nyaman dengan suara musik yang diperdengarkan.

mereka yang katanya mengasong kebebasan, justru mencibir kebebasan santri itu untuk bersikap. padahal, itu adalah hak santri jika tidak ingin mendengarkan musik. lepas dari perdebatan halal haram musik itu sendiri. santri-santri itu tidak meminta musik itu dimatikan, karena ada hak orang lain juga yang nyaman dengan suara musik itu. mereka hanya bersikap memprotect diri mereka sendiri, tanpa mengurangi hak orang lain.

tutup telinga. lebih jauh lagi bila dilihat dalam konteks yang lebih luas adalah sebuah bentuk perlawanan. melawan arogansi. tak ingin mendengarkan hal-hal tak berguna bagi dirinya. tak ingin ikut campur dengan ruang pembicaraan yang memang bukan haknya. Kita tidak bisa mengatur orang berbicara, tapi kita bisa mengatur apa yang pantas untuk kita dengar.

tutup telinga. adalah sebuah pesan, bahwa kita tak peduli lagi dengan apa yang mereka bicarakan, seperti mereka yang tak peduli apa yang kita rasakan.

daripada hanya mendengar kata dan pesan menyakitkan, yasudah tutup telinga saja, masih banyak untaian kata bermanfaat yang perlu kita dengarkan.

16/09/21

About jupri supriadi

unzhur maa qaalaa walaa tanzhur man qaalaa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: