Arsip | Catatan Harian RSS for this section

Sampai Jumpa… Bandung


26 November:  hari dimana saya dikabari untuk mengemban amanah baru (a.k.a harus pindah). Pindah dari kota yang sudah menjadi bagian penting dalam perjalana hidup 3 tahun kebelakang. Bandung.

30 November: Dapat info resmi mengenai rencana awal rotasi via email. Tapi belum bisa memastikan dan menyampaikan ke teman-teman.

5 Desember: Dapat informasi lebih detail kapan dan apa yang harus disiapkan 1bulan kedepan.

8 Desember: Serasa waktu begitu cepat, meeting K3 terakhir dengan admin. dan untuk pertama kalinya saya sampaikan secara resmi ke teman-teman.

24 Desember: Handover dimulai.

2 Januari: Pamitan ke Cimuncang, tapi ga ada orang, huhu. dan hari itu juga dapat kabar mengejutkan bahwa tanggal 4 sudah harus ke luar kota untuk tugas perdana (Tj. Pinang). Rencana awal, baru akan pindah tanggal 6 jadi masih ada waktu utk pamitan ke tmn2. Untungnya sudah diagendakan jauh hari bahwa malam tgl 2 januari farewell dengan admin dan logistik. Foto Studio dan Makan-makan di Jonas Bubat. Dapat kenangan yang gak akan sy lupakan.

3 Januari: Hari terakhir bertugas di Bandung. huhu. Briefing terakhir. Tak kuasa menahan apa yang dirasa saat briefing. Menjadi momen paling cengeng saya di bandung. Pamit ke semua tim di Kopo, habis itu ritual penting. Foto-foto di Jonas Banda. Selesai, hrs kembali ke kopo menyelesaikan tugas terakhir. 17.15 pulang dengan kondisi belum menyiapkan apa-apa untuk berangkat ke jakarta.

Sampai rumah 17.45. Tiba-tiba bingung harus mulai darimana. Masih ada waktu kurang lebih 1.5 jam untuk prepare. Untungnya baju dan perlengkapan sudah disiapkan istri. Tinggal mengkondisikan Izzan supaya ga nangis ditinggal jauh dan lama. Ngajak ke warung dulu, beli cemilan kesukaannya. Yupi. Beli banyak sekalian biar ga rewel saat ditinggal. Sedih ga? Ga usah ditanya. Hanya hati yang bisa menjawabnya.

Tepat 19.45 berangkat dari rumah. Kereta pukul 20.50, Bandung-Jakarta. Alhamdulillah persis 20.46 menduduki kursi yang sudah dipesan. fiuuh… Perjalanan Cileunyi (rumah) sampai stasiun Bandung dikebut kurang dari 1 jam.

4 Januari: Pukul 01.30 dinihari tiba di Jakarta. Istrirahat untuk melanjutkan perjalanan ke Tj. Pinang esok paginya.

Selesai sampai disini?

Pergolakan hati belum selesai, tapi takdir sudah berjalan. Semua harus diterima. Amanah harus dijalankan. Dan Perjalanan selanjutnya dari episode kehidupan ini akan dimulai di Jakarta. Mulai hari ini.

=====

Teruntuk teman-teman Paragonian Bandung. saya ga bisa mengungkapkan kata-kata panjang lebar lagi, akan terlalu mengulang kembali memori perpisahan kemarin :(. cukup satu kata buat kalian: “Terimakasih”.

Terimakasih sudah mengisi hari-hari 3 tahun terakhir saya di Bandung. Sampai jumpa kembali di lain waktu.

Buat istriku, izzan, harika. Sabar ya. Sebulan lagi insya Allah kita akan bersama-sama lagi.

Jakarta, 5 Januari 2019

img_20181225_070509

 

 

 

 

tak menyapa bukan berarti lupa


masa lalu adalah romantisme. masa depan adalah harapan.

melupakan masa lalu tidak mungkin. apalagi kembali ke masa lalu.

memang banyak kenangan, banyak keindahan, banyak kesukacitaan yang ingin diulang atau atau paling tidak bertemu berjuma aktor-aktor dibalik setiap kejadian masa lalu. mereka kini entah dimana, ada yang masih aktif di media sosial, juga ada yang hilang dari peredaraan jagad maya yang tak bisa ditelusuri berada dimana.

kini, kita punya waktu hanya saat ini dan masa depan. waktu kini yang pasti dan masa depan yang masih tertutup tabir sampai kapan akan dijalankan.

terimakasih untuk semua kenangan, setiap kebaikan, canda tawa, kehangatan untuk orang-orang yang pernah singgah dalam hidup saya sejak kecil hingga kini. do’a terbaik untuk kalian semua yang telah memberi arti bagi hidup saya.

tak menyapa bukan berarti lupa, hanya saja tak mengerti mulai dari mana. karena mungkin kalian sudah punya dunia sendiri.

 

Bandung.21.10.18

 

 

 

 

 

 

mengejar waktu


waktu begitu cepat berlalu.  entah karena selama ini ia tak dihargai, hingga perputarannya menyisakan penyesalan. atau karena perubahan-perubahan itu bergerak melaju tak diimbangi dengan kesiapan diri.

satu hal yang pasti, setiap waktu mengukirkan cerita. suka maupun duka. terkadang pahit di masanya, namun bisa menjadi pemanis kisah yang indah untuk dikenang.

waktu yang menjadi penanda pertemuan, ia juga yang megharuskan perpisahan. satu bulan, dua bulan, setahun, dua tahun, bahkan bertahun-tahun lamanya, ia hanya bisa bercerita lewat lembaran hitam putih dalam potret kehidupan.

meskipun tak bisa terjelaskan dengan pasti, apa rasa yang terkandung didalamnya. ada kerinduan, muncul kegelisahan.

jika waktu sudah berlalu pergi menjauh, sementara diri terdiam meratapi jejak langkah yang telah dilalui. maka langkah terbaik adalah memulai mengejar waktu itu.

mengejar tapak demi tapak jarak yang tertinggal, detik-demi detik jarum yang berputar.

hingga saatnya nanti kau bertemu waktu itu, jangan siakan. jangan lepaskan.

 

“Demi masa, sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam keadaan merugi (celaka), kecuali orang-orang yang beriman, beramal shalih, saling menasehati dalam kebenaran, dan saling menasehati dalam kesabaran.” (Al ‘Ashr: 1-3)

 

 

cengkerama


pagi ini baru selesai interview beberapa orang. dan interview merupakan tempat belajar dari orang lain. tempat bermuhasabah, evaluasi, mencuri info yang bisa dijadikan pelajaran untuk diri sendiri.

bahwa di tempat yang lain, orang lain, mungkin tidak seberuntung kita. bahwa ditempat lain bisa jadi ada orang-orang yang usahanya lebih keras namun tidak mendapatkan hasil “fisik” yang setara dengan kita.

terkadang, cerita-cerita bahkan curhatan seseorang bisa membuat kita belajar mensyukuri hidup. belajar untuk tidak kufur atas segala nikmat yang telah Dia berikan kepada kita.

dan pagi ini, saya belajar bahwa ada orang tua yang sudah selayaknya kita ingat jasa-jasanya. ada orang tua yang sudah lama tak melihat wajah anaknya. ada orang tua yang butuh bercengkrama dengan anaknya.

seseorang itu menangis, menitikkan air mata. ia yang kehidupannya tinggal bertiga dengan kedua orang tua. setelah kehilangan 2 adiknya yang meninggal. ternyata juga harus kehilangan waktu bercengkerama dengan kedua orang tuanya yang sama-sama bekerja. mencari nafkah kebutuhan keluarganya. hingga harus kehilangan kehangatan malam bersama kedua orang tua dan harus rela terlambat berangakat kerja karena pagi itu adalah satu-satunya waktu untuk bertemu mereka.

“iya, saya terlambat. karena kangen dengan orang tua. ingin bercengkerama dulu dengan mereka yang seharian bekerja.”

lalu

“pernah terbersit niat untuk menggantikan beban mereka?”

dan hening pun mengakhiri cengkerama pagi ini.

Bandung.03.10.16

 

 

 

Begini kalau sudah menikah?


sebuah teori antah berantah menyatakan, “semakin banyak populasi jomblo dalam grup WA, maka grup itu semakin aktif. Semakin sedikit populasi jomblo, grup WA cenderung sepi.”

dulu, ada teman yang rameee banget di grup WA, tiap apa aja yg muncul langsung dikomenin, eh setelah menikah tiba-tiba menghilang. jarang komentar lagi di grup.

dulu, ada teman yang rajin banget update status, hampir tiap aktifitasnya diupdate. lagi ngapain, mau apa, pergi kemana, dll. tapi setelah menikah, jarang lagi tuh bikin status-status fenomenal.

dulu, ada teman yang statusnya galau-galau, temanya tentang cinta terus. mengundang orang lain untuk komentar. setelah menikah, hmm.

coba deh perhatikan, ada gak yang seperti itu di lingkungan sekitarmu?

*sambil lihat cermin*

 

 

ngepo berujung perenungan


Salah satu cara mengingat masa lalu dan orang-prang yang pernah menjadi bagian penting dalam hidup kita adalah dengan kepo. Ngepoin medsosnya yang juga sama-sama sudah usang tak ada update-annya. Ah mungkin orang-orang juga sudah jenuh dengan medsos. Ada yang dulunya aktif mendsos , ngeblog, twitteran, fb-an, instagraman pas zaman waktu masih di kampus. Tapi sekarang dunia seperti sudah berubah. (termasuk ngelirik diri sendiri).

Dulu, ketika awal fb booming, hampir tiap hari ada yang update status, tiap jam bahkan, eh bahkan 5 menit sekali ‘nyetatus’. Pas twitter booming juga sama, sampe bikin kultwit panjang dengan hestek khas yang mengundang orang untuk kepo lebih lanjut. Namun sekarang, entah sayanya yang kurang update apa  gimana ya, makin kesini makin sepi medsosnya. hoho.

Termasuk blog ini yang ga keurus sama sekali. Dulu mah tiap malem nongkrongin laptop. Entah sekedar bikin coretcoretan yang ga jelas, atau sekedar update -update yang ga jelas juga sih.

Eh balik lagi ke awal kalimat di atas, jadi dg membuka-buka kembali ‘aktivitas’ di medsos yang lama udah ga kepake kita bisa jadi termotivasi. si ini sekarang udah dimana, udahjadi apa, udah punya anak berapa #eh, udah punya bisnis apa, udah kemana-mana dan udah-udahan yang lainnya.

… akhirnya kepo pun berujung perenungan.

dan saya, udah jadi ‘apa’ sekarang?

 

Bandung.15.03.16

 

 

 

 

 

Hormati yang tidak puasa


sering terdengar di telinga, atau bertebaran di media-media sosial ketika Ramadhan tiba,

“Hormatilah yang tidak puasa.”

“jangan karena ibadahmu, mereka yang tidak puasa sulit mencari warung makan, bla-bla-bla.”

bahkan mereka yang bilang seperti itu adalah dari kalangan kita sendiri yang sudah tersuap dollar dan beasiswa.

Lalu sekarang, di Desember ini, masih lantangkah mereka berkata yang serupa?

Mungkin harta dan asupan diperutnya sudah membutakan hati mereka!