Arsip | Insan Cendekia RSS for this section

Pendaftaran Siswa Baru MAN Insan Cendekia tahun 2011


Informasi mengenai penerimaan peserta didik baru Madrasah Aliyah Negeri Insan Cendekia tahun 2011 dapat dilihat pada file-file berikut.

1. Pengumuman PPDB MAN Insan Cendekia Tahun 2011

2. Panduan Pendaftaran

3. Formulir Pendaftaran

4. Petunjuk Pengisian Formulir

5. Contoh Surat Keterangan

Jika komputer yang Anda gunakan tidak dapat membuka file-file di atas, silakan download dan instal aplikasi pembaca file PDF berikut: PDF Reader.

Informasi lebih lanjut silakan menghubungi:
Panitia Penerimaan Siswa Baru MAN Insan Cendekia
Telepon: 021-7563578
Faks: 021-7563582
Email: ppdb@ic.sch.id


Terbanglah Anak-anakku


oleh: Bpk. Kusen

Terbanglah sejauh yang dapat kau tempuh, anak-anakku. Selagi mentari masih pagi buatmu. Jelajahi Jerman sebagaimana Pak Habibi dulu menjelajahinya. Selami dan pelajari kehebatan Amerika sehingga kau bisa menimba banyak akan kehebatnya. Akrabi dan teladani semangat juang dan mental keilmuan Jepang yang pantang menyerah. Dekati dan gauli kecanggihan Korea, Belanda, Inggris, Kanada, dan Rusia. Menyatu dan mengambil sebanyak mungkin keluhuran Mesir, India, Timur Tengah, dan Cina. Jangan spelekan kemajuan negara tetangga kita seperti Singapura dan Malaysia.

Pergilah generasi mudaku. Kelak kalianlah yang akan meneruskan estafet kepemimpinan negeri ini. Insya Allah, kalian menjadi insan-insan yang cendekia. Sebagaimana yang kita cita-citakan dulu. Selamat berjuang anak-anakku! Dan, kembalilah bila telah cukup bekal untuk membangun negeri ini.

tentang Franchise Insan Cendekia


Akhir-akhir ini memang saya sering mempublish tema-tema yang berhubungan dengan almamater saya. Mengingat dalam beberapa bulan terakhir ini, saya melihat dikoran-koran dan media elektronik lainnya, nama Insan Cendekia sering disebutkan dan dibahas dalam rubrik khusus. Salah satu poster yang terpampang di sebuah koran nasional mengiklankan sekolah-sekolah unggulan mulai dari SD sampai SMA yang semuanya memakai label “insan cendekia.”  Padahal saya sendiri baru tahu kalau sekolah “insan cendekia” sudah memiliki cabang yang banyak. (apa saya sendiri yang kuper ya? ^^). Berikut ini  saya kutipkan pernyataan salah seorang guru kami yang dulu menjadi Pembina Asrama saya, sekaligus penggati orang tua di asrama selama 3 tahun.
“Sebenarnya secara substansial franchise tidak perlu dipersoalkan, bahkan harus dikembangkan.Dari awal saya sudah mengingatkan bahwa IC harus bermanfaat bagi madrasah-madrasah sekelilingnya sesuai cita-cita awalnya yakni sebagai Magnet School.Makanya bentuk yang paling tepat bagi IC bukan semata-mata menjadi sekolah unggulan, melainkan menjadi Lab School. Di laboratorium pendidikan inilah segala penemuan baru dalam bidang pendidikan diuji kesahihannya. Untuk selanjutnya didesseminasikan ke sekolah-sekolah lain. Dengan demikian IC bisa berperan sebagai ganda, baik sebagai media pengembangan inovasi dalam bidang pendidikan, juga sebagai sekolah unggulan.Cita-cita Jahya Umar (Dirjen Depag yang dulu), jadilah IC sebagi flag Ship bagi madrasah. Namun yang terjadi saat ini IC sangat sibuk bersolek bak gadis cantik yang aduhai. IC menjadi sebuah aquarium besar yang dikunjungi berbagai sekolah di Indonesia. Namun sayang sepulangnya dari IC tak ada manfaat yang bisa mereka dapatkan untuk dikembangkan di sekolah mereka masing-masing. Kenapa ? Karena yang kita perlihatkan adalah hal-hal yang bersifat fisik. Gedung dengan segala fasilitasnya yang luar biasa. Mereka hanya bisa berkata,”Kalau sekolah kita dikasih dana 17 milyar setahun, ya … kita juga bisa kayak gini”. Akhirnya yang lahir justru kecemburuan. Apa hak IC mendapatkan keistimewaan dari Depag Pusat dengan pembiayaan yang sedemikian besar ? Itukan tidak adil, IC melakukan pemborosan uang negara. Sebelum sistem beasiswa diberlakukan, IC sudah bisa running dengan mengambil dana dari orang tua siswa sekitar 2.000.000 per bulan. (Dihitung dari SPP 1.500.000 per bulan plus uang pangkal 17.000.000 dibayar satu kali ketika masuk). Dengan dana DIPA 17 milyar per tahun, kalau dibagi 360 siswa, maka perbulannya seolah-olah siswa membayar hampir 4.000.000 rupiah. Inilah yang sudah saya ingatkan dalam rapat bersama guru-guru dengan bagian perencanaan Kanwil Depag Banten Pak Sahlan bahwa IC tidak perlu dikucuri dana sebesar itu. Bisa berbahaya bagi IC sendiri. Kini IC kebingungan bagaimana mencairkan dana sebesar itu tanpa bertabrakan dengan aturan yang berlaku. Terjadilah tumpang tindih pembiayaan yang sebenarnya sudah dibayar lewat gaji. Dimana gaji PNS serta tunjangan sertifikasi sebenarnya sudah mengcover Tupoksi (tugas pokok dan administrasi) yang sudah seharusnya dilakukan oleh seorang guru. Dana sebesar ini juga rawan dari orang-orang yang kritis dan tahu ttg pengelolaan IC. Pak Menteri Agama yang sekarang ini saja sudah mewacanakan IC kembali lagi fifty-fifty, artinya pemerintah hanya berani membiayai setengahnya saja. Selebihnya IC harus bisa cari dana sendiri. Kalau saya sih usulnya, biarlah IC dapet dana secukupnya saja, asal jangan terus-terusan diganggu dengan berbagai macam perubahan kebijakan dari Depag Pusat. Tapi yah apalah artinya seorang Iskandar. Teriak sekeras apapun gak akan ada yang mau denger. Guru-guru IC sudah terlalu nyaman. Makanya jadi lupa kalau IC sedang dalam bahaya. IC in the DANGER. WOW
Ya. Itulah sekelumit dari kondisi almamater saya saat ini. Di bilang sekelumit, karena masih banyak lagi yang menjadi bahan diskusi terutama setelah sekolah tersebut di ‘ambil’ oleh Departemen Agama.
Wallahu a’lam

Beberapa Informasi tentang Insan Cendekia


Jadi begini yang saya dapatkan dari beberapa guru di MANICS setelah obrolan santai dan panjang tempo hari.

 

Singkat cerita, Insan Cendekia awalnya dikelola oleh BPPT sampai pada akhirnya diambil alih oleh Departemen Agama dan dijadikan sebagai madrasah model. Hal ini sejalan dengan apa yang dicita-citakan oleh pencetus konsep sekolah ini yaitu Bapak Habibie dengan visi besar yaitu pada akhirnya nanti, Insan Cendekia sebagai sekolah model, menularkan sistemnya ke seluruh Indonesia, sehingga di setiap provinsi, ada Insan Cendekia di situ. Dengan diambil alihnya IC oleh Depag sebagai sekolah model, maka peluang untuk terwujudnya hal ini sangat besar. Sebagai madrasah model, pasti ada maksud dari Depag untuk membuat sekolah2 lain dengan konsep seperti insan cendekia ini.

 

Niat menyebarkan sistem IC pun difollow up oleh ICMI, sebuah ormas yang beranggotakan cendekiawan2 muslim, yang dahulu sempat dikepalai oleh Pak Habibie juga saat membangun IC pertama kali. Akhirnya, disusunlah sebuah memo kesepakatan (MoU, perjanjian, atau apapun namanya) yang berisikan bahwa, ya, sistem IC akan disebarkan sebanyak2nya ke seluruh Indonesia, di mana ICMI berperan sebagai agen penyebar, sementara IC serpong, sebagai pemilik hak nama Insan Cendekia, dan bertanggung jawab dalam mengembangkan sistem sekolah bekerja sama dengan ICMI.

 

Implikasinya, lahirlah sebuah sekolah bernama Insan Cendekia Al-Kautsar. Itu lah produk pertama yang mungkin sempat kita lihat bersama seperti apa perkembangannya. IC Alka ini lahir dengan kerjasama yang intensif dari IC Serpong, ICMI, dan yayasan Al Kautsar. Dari mulai rekruitmen dan pelatihan guru, penyusunan kurikulum, sistem, dan puncaknya dengan diutusnya salah satu guru ICS yaitu Pak Gatot sebagai kepala sekolah IC Alka tersebut.

 

Ya, berjalan lancar semuanya. Kerja sama sangat erat, bahkan beberapa kali IC serpong dan IC Alka mengadakan acara bersama, saling bersilaturahmi, dan bertukar informasi.

 

Namun, sekitar tahun 2005 (lupa tepatnya), terjadilah pergantian dirjen Depag. Dirjen yang baru ini ternyata memiliki pemikiran yang agak berbeda dengan dirjen sebelumnya, dengan IC serpong, sehingga dengan cita-cita besar untuk memberikan pendidikan yang baik untuk santri2 khususnya dari pondok pesantren, maka dibuatlah kebijakan yang cukup signifikan. Sejak angkatan 13, sistem penerimaan murid baru di IC mengalami sebuah perubahan besar yang positif. Ujian masuknya dilakukan di berbagai penjuru Indonesia. Kesempatan yang sangat besar bagi lulusan pesantren dan MTs karena ada chance lebih besar bagi mereka untuk lulus tes. Ditambah lagi, semua santri yang lulus tes diberi beasiswa penuh selama 3 tahun, tidak ada sepeser pun yang dikeluarkan. Tampaknya, dirjen yang baru ini benar2 menganakemaskan IC serpong.

 

Di samping kebijakannya itu, ada satu kebijakan lain yang menurut saya menjadi awal permasalahan yang mungkin banyak dibahas selama ini. Dirjen Depag merasa MoU yang dibuat antara ICS dan ICMI tidak relevan, dan akhirnya, MoU itu pun dibatalkan. Sejak ini, terjadilah konflik antara ICMI dengan Depag dan secara tidak langsung dengan IC. Ya, itu masalah politik, saya tidak terlalu ingin membahasnya. Implikasinya, seharusnya, tidak akan ada lagi usaha penyebaran nama dan sistem Insan Cendekia, setidaknya untuk beberapa waktu ini. Perjanjian yang awalnya mengatakan bahwa ICMI sebagai agen penyebar serta ICS sebagai pengembang sistem, tidak bisa dilaksanakan lagi. Walhasil, Alkautsar dan ICS pun memutuskan hubungan kerja sama sehingga IC ALkautsar umurnya tidak sampai 3 tahun (kalau tidak salah).

 

Kalau pada proses yang ideal, pengembangan IC – IC lain dilakukan dengan mekanisme yang baik, di mana kontrol dan pembinaan dari IC Serpong yang baik dengan mengirimkan beberapa orang perwakilan MANICS untuk mengembangkan sekolah yang baru tersebut. Lalu, nama Insan Cendekia pun disematkan pada sekolah baru itu.

 

Tapi, yang ada ternyata, setelah MoU itu dibatalkan, justru bermunculan sekolah-sekolah dengan embel2 nama Insan Cendekia di berbagai tempat. Proses penyebaran ini nyatanya masih berlanjut. Mungkin pernah dengan Insan Cendekia sekar kemuning di cirebon, di jambi, di kuningan, dan puncaknya adalah lahirnya SMA INSAN CENDEKIA di BSD, bahkan di kecamatan yang sama dengan IC Serpong. Ada apa gerangan ini?

 

Setelah dicari informasi yang lebih detail, ternyata diketahui bahwa ada satu (atau beberapa) guru yang mengembangkan sistem IC di sekolah lain, namun bukan sebagai perwakilan MANICS. Mengembangkan kurikulumnya, menyusun sistemnya, dan pada akhirnya, menyematkan nama Insan Cendekia di sekolah itu tanpa pemantauan dan sepengetahuan jajaran MANICS. Kalau teman-teman sudah tau kabarnya, akhirnya satu orang guru pun, dimutasi untuk mengajar di tempat lain. Penyebabnya, di samping hal yang sudah saya sebutkan di atas, sebenarnya karena kesibukan membangun sistem IC di sekolah lain sehingga kinerja dan produktivitas di ICS pun menurun. Hal ini yang juga menjadi pertimbangan dalam pengambilan keputusan mutasi tersebut.

 

Dilema. Itu yang saya tangkap. Di satu sisi, Insan Cendekia dibangun dengan sebuah cita2 besar untuk menyebarkan sistem pendidikan yang menyeimbangkan antara IPTEK dan IMTAQ ke seluruh Indonesia. Cita2 mulia itu tentunya harus diwujudkan. Namun, di sisi lain, agak kurang bijaksana jika cita2 ini diwujudkan dengan cara yang kurang baik. Kondisinya sekarang, ICS di bawah tanggung jawab Depag, 100%, bahkan 200, 300% dana nya berasal dari Depag. Jadi, kebijakan tertinggi memang ada di Depag. Selama belum diambil alih oleh pihak lain, sudah sepantasnya ICS mengikuti kebijakan yang disusun oleh Depag.

 

Saya sangat yakin, semua guru berharap cita2 mulia tersebut dapat terwujud pada akhirnya. Namun, mungkin tidak semua guru menganggap cara yang dilakukan dengan kurang resmi ini sebagai cara yang baik. Di sisi lain, memang banyak yang harus dikorbankan ketika memilih untuk melakukan upaya penyebaran tanpa dukungan dari Depag.

 

Pada akhirnya, seperti apa pun keputusan yang diambil guru2 kita, saya yakin itu lah hasil pemikiran guru2 yang bijaksana dan berdedikasi tinggi terhadap pendidikan, seperti yang telah kita rasakan. Tidak ada langkah yang sepenuhnya salah.

 

Doa saya hanya satu : semoga semua peristiwa ini tidak terlalu membebani pikiran guru2 kita, sehingga mendidik tetap menjadi orientasi utamanya, upayanya mencetak generasi2 emas tidak terganggu dengan konflik2 seperti ini. Biar lah yang memegang tampuk strategis saja yang memikirkan. Biar yang mengajar, tetap mengajar dengan perhatian. Yang membina di asrama, tetap membina dengan cinta.

 

Yang berada di luar sistem dan ingin membantu, bantu lah dengan memberi semangat, inovasi, dan masukan untuk pendidikan yang lebih baik di Insan Cendekia. Karena menurut guru2, itu lah yang saat ini paling dibutuhkan. Mendidik anak2 dari latar belakang yang sedikit berbeda memang membutuhkan effort lebih. Dari pada menghujani mereka dengan pertanyaan2 yang mengganggu, semoga kita bisa memberikan sumbangsih sesuai yang sudah kita pelajari saat ini.

 

Itu sejauh yang saya pahami. Kalau ada yang salah, mohon dikoreksi.

*copas note fb kak Yasir

Insan Cendekia Summit 2011


Welcome to Insan Cendekia Summit 2011

A country’s excellence depends on the quality of its human resources. The excellent and competitive human resource trait will throw a huge added value into a country’s growth.

Several infrastructures, to which the aforementioned matters are related, are going to be needed, one of which is education. Human resource expansion through education can be achieved through promoting science mastering among people.

However, education could not and must not stand alone in this strive of excellence, thorough understanding and implementation of religion teaching must be installed correctly on the core of education in order to produce human resources with good manner, pious, trustworthy, and other good qualities. By doing so, the process of obtaining scientific values and knowledge on education will thoughtfully bring advantages for mankind good.

Insan Cendekia Summit 2011 aims to give wider and deeper perspective on balancing science-faith aspects within education performance. Education must support no dichotomy on that matter.

Insan Cendekia Summit 2011 will be promoting three sub-themes:

“Excel as a country through science and knowledge”
The importance of science and knowledge for producing excellent and competitive human resource, prepared for global competition.

“Excel country’s culture values through religion”
The importance of thorough understanding and implementation of religion to excel education process and progress.

“Excel Science-Faith balance”
The importance of mastering science side-by-side with thorough understanding and implementation of religion.

Goals
Broadens perspective on the importance of education with balancing science and thorough understanding of religion

  • Promotes the expansion of education communities
  • Promotes trend spreading on new innovation of education

Registration: Please click http://www.insancendekia.org/summit/reservation/?actsummit=register

Daftar Sebaran Alumni Insan Cendekia Serpong Angkatan 13


Berikut adalah data sebaran alumni MAN Insan Cendekia Angkatan 13 “Nozomi Hikari” tahun pelajaran 2009/2010.
Alumni IPA

Alumni IPS

sumber: http://ic.sch.id

Dan ‘Atid pun menangis (bagian 1 dari 2)


Di malam yang sepi, di mana Fulanah sedang tidur,
Rakib dan Atid tetap terjaga untuk terus berzikir dan bermunajat kepada Allah seraya memanjatkan puja dan puji bagi Sang Pemilik alam semesta raya.
Di keheningan malam, hewan dan tumbuhan mendengarkan zikir mereka,
mengalun syahdu sambil menunduk, mengakui bahwa mereka hanyalah makhluk.
Hanya senyap yang tersisa,
di antara hingar bingar siang yang panas terasa.
Di antara zikir mereka, Rakib bergumam, “Wahai Atid, mengapa dulu kita diharuskan menyembah Adam, padahal mereka adalah orang-orang yang fasik?”
“Ah, hal itu karena hanya merekalah yang sanggup menjadi khalifah di muka bumi ini. Gunung pun menyerah ketika harus menjadi pemimpin. Hanya makhluk berakal sajalah yang patut menjadi pemimpin, Rakib!”
“Tapi aku tahu, engkau tidak buta Atid. Lihatlah catatanmu, penuh dengan catatan-catatan kejelekan yang Fulanah lakukan. Padahal, kita baru menukar dengan catatan yang baru saat Sya’ban menjelang dan dibersihkan oleh Allah kembali saat Syawal. Sekarang sudah Dzulhijjah dan kulihat tulisanmu lebih banyak daripada tulisanku. Aku percaya kalau janji Allah itu pasti benar tapi…” Rakib memutus perkataannya.
Atid pun terlihat bingung,”Iya, benar juga katamu tadi. Baiklah, bagaimana kalau esok hari kita buktikan bahwa janji Allah itu benar adanya. Kita buktikan, apakah manusia pantas menjadi sosok khalifah di bumi atau tidak. Sekarang lebih baik kita lanjutkan zikir kita yang terputus tadi.”
Pukul 00.00.
Gemerlap kota yang masih tersisa,
tidak menyurutkan semangat mereka untuk merasakan dekat dengan Allah.
Dekat dengan Sang Khalik, Sang Maha Pencipta yang Agung.
Sementara di samping mereka,
Fulanah tidur dengan pulas,
terbang dengan mimpinya,
melintasi waktu dan tempat,
melupakan realita yang menunggu di balik kelopak matanya yang terpejam.
Menunggu hingga azan Subuh menjelang…
Pukul 04.00
“Laa ilaaha illallah…”
“Teet… teet… teet…”
Bunyi bel asrama membangunkan Fulanah. Dengan terburu-buru, ia menuju kamar mandi dan berpakaian. Bergegas, menuju Masjid agar tidak mendapat poin.
Dan Rakib pun bertanya, “Inikah yang pantas menjadi khalifah, yang ketika bangun tidur tidak mengucap syukur kepada Allah dan berangkat menuju Masjid hanya karena poin, bukan karena mengharap ridha Allah semata?”
Atid terdiam. Ia tidak sanggup berkata apa-apa.
Di Masjid, saat pembacaan wirid.
Fulanah yang masih terkantuk-kantuk meraih kertas catatannya,
membaca catatan tersebut alih-alih memohon ampun kepada Allah,
karena akan ada TB pada jam pertama.
Sementara di samping kiri dan kanan,
semua orang khusyu’ menikmati setiap kata dari doa yang dipanjatkan.
Sambil berharap mendapatkan kemudahan yang Allah janjikan dalam hidup mereka.
Dan Rakib pun bertanya, “Inikah yang pantas menjadi khalifah, yang ketika waktu untuk mengingat Allah tersedia sekalipun, ia tetap menggunakannya untuk urusan duniawi?”
Atid terdiam, ia tidak sanggup berkata apa-apa.
Pukul 05.00
Semua orang sedang mengantre di kantin untuk mendapat sarapan.
Saling menyapa dengan cerah, secerah sambutan fajar pagi yang bersinar di ufuk timur.
Saling melempar senyum, saling melempar tawa bersama.
Begitupun dengan Fulanah.
Dengan riang ia dan teman-temannya duduk menghadapi meja panjang.
Mengoper bakul nasi, mengoper botol kecap.
Sembari mengobrol, bersenda gurau melempar bahan candaan.
Seakan-akan keadaan seperti itu akan berlangsung selamanya.
Tibalah saat di mana mereka selesai sarapan.
Teman-teman Fulanah terus mengobrol,
tanpa menyadari bahwa ada yang terjadi di sana.
Fulanah tidak menghabiskan makanannya.
Padahal sejak mengambil, ia tahu itu adalah makanan yang ia tidak sukai.
Namun ia tetap mengambilnya.
Entah apa yang ia pikirkan, hanya Allah yang tahu.
Dan Rakib pun bertanya, “Inikah yang pantas menjadi khalifah, yang menyia-nyiakan pemberian Allah, padahal di luar sana berjuta-juta orang memohon, menangis kelaparan demi sesuap nasi?”
Atid terdiam, ia tidak sanggup berkata apa-apa.
Pukul 06.45
Sampailah Fulanah di apel pagi.
Lagi-lagi sapaan riang menyambut udara pagi.
Bertanya tentang PR, berbagi cerita,
apa saja.
Danton menyuruh mereka untuk berdoa,
agar hari itu mereka dirahmati oleh Allah.
Dan doa pun berlangsung dengan khidmat.
Namun ada satu yang mengganggu.
Fulanah tertawa cekikikan bersama teman-temannya.
Tidak besar namun cukup menyebalkan.
Saat ada teman yang mendiamkan,
mereka malah tertawa dan melanjutkan bercerita.
Dan Rakib pun bertanya, “Inikah yang pantas menjadi khalifah, yang harusnya mengemban amanah sebagai khalifah untuk seluruh makhluk di muka bumi namun untuk menjadi teladan bagi teman-temannya saja ia tidak mampu? Ia malah mencontohkan hal yang buruk! Bercanda di mana teman-teman yang lain sedang menghadap Allah! Allah, Atid! Bukan orang tuanya, bukan gurunya, bukan temannya, bukan siapa-siapa! Allah, Atid! Menghadap Sang Pencipta mereka dan Sang Pemilik tubuh mereka! Mengapa ia begitu sombong, Atid? Mengapa?
Atid pun terdiam, ia tidak sanggup berkata apa-apa.
Pukul 09.00
Kala guru menerangkan pelajaran,
semua sibuk menyimak.
Tak ada suara, tak ada canda tawa.
Mendengarkan ilmu yang diberikan oleh guru,
demi berjihad di jalan Allah,
demi memajukan Islam dan mengembalikan kejayaannya seperti zaman dahulu.
Fulanah pun demikian.
Ia menyimak, mencatat,
dan menguap sesekali apabila setan datang menggoda.
Kemudian guru tersebut keluar karena ada sesuatu.
Dan Fulanah berbicara,
sungguh kasar bicaranya tentang guru tersebut.
Sambil menjulukinya dengan sebutan yang tidak pantas bagi seorang guru,
kembali ia tertawa bersama dengan teman-temannya.
Ia tidak sadar,
sungguh ia tidak menyadarinya,
bahwa Rakib dan Atid selalu setia mengawalnya hingga liang lahat.
Dan Rakib pun bertanya, “Inikah yang pantas menjadi khalifah, yang tidak menghormati gurunya sendiri padahal guru tersebut adalah pintu ilmu baginya? Ia menjadi tahu karena adanya guru. Padahal Sayyidina Ali bin Abi Thalib yang begitu hebatnya mau menjadi budak bagi seseorang yang mengajarinya satu huruf. Ia adalah orang yang merugi karena tidak memuliakan guru! Bukankah begitu, wahai temanku Atid?”
Atid terdiam, ia tidak sanggup berkata apa-apa.
Pukul 09.45
Bel istirahat berbunyi.
Tanda melepas lelah dan penat setelah belajar.
Fulanah pergi ke luar kelas untuk jajan,
tentu saja seperti teman-teman yang lain.
Oh, ternyata ia lupa membawa dompet.
Kemudian ia berkeliling,
mencari temannya yang mempunyai uang lebih untuk ia pinjami.
Ketika ia menemukannya dan mengutarakan maksudnya,
kening sang teman berkerut.
Maksudnya apa?
Bukankah kemarin Fulanah baru meminjam uang yang cukup besar pula?
Lalu, sembari lalu Fulanah berkata,
bahwa ia lupa dan ia meminta maaf untuk itu.
Tapi ia harus meminjam uang lagi saat ini,
karena ia lapar sekaligus akan menggantinya dengan hutang yang lalu.
Temannya dengan setengah ikhlas akhirnya meminjamkan.
Ia mendesah dan membuka dompetnya.
Kalau orang sudah berjanji seperti itu, mau dibilang apa lagi?
Dan di antara kerumunan orang yang sedang jajan,
Di antara canda tawa yang tiada putus,
Dua makhluk ciptaan Allah dari cahaya itu tetap berzikir,
sembari berzikir mereka tetap melaksanakan tugas mereka.
Dan Rakib pun bertanya, “Inikah yang pantas menjadi khalifah, yang lupa akan janjinya sendiri dan menyusahkan orang lain padahal orang lain sangat membutuhkan janjinya tersebut? Inikah orang yang pantas menjadi khalifah padahal sedari pagi ia lupa menyapa Allah? Inikah makhluk itu, Atid? Inikah makhluk itu? Engkau harus jawab pertanyaanku, Atid!”
Atid terdiam, ia tidak sanggup berkata apa-apa.
(…to be continued)

(Ini adalah edisi terakhir Qawat di semester ganjil ini, so nantikan edisi selnjutnya dari Qawat di semester depan ya!)

Insan Cendekia Serpong, 2006