Arsip | labirin waktu RSS for this section

NikmatNya yang manakah yang kan kau dustakan?


NikmatNya yang manakah yang kan kau dustakan?

Jika tiap hari engkau berlimpah rezeki..

NikmatNya yang manakah yang kan kau dustakan?

Jika hati dan pikiranmu masih terpaut untuk mendekat padaNya…

NikmatNya yang manakah yang kan kau dustakan?

Jika Dia masih menutupi aib dan kealpaanmu di hadapan manusia…

NikmatNya yang manakah yang kan kau dustakan?

Jika udaranya masih kau bisa kau hirup, jika dinginnnya malam masih bisa kau rasakan….

NikmatNya yang manakah yang kan kau dustakan?

Jika tiap kata masih mampu terucap dan keluar dari lisanmu..

NikmatNya yang manakah yang kan kau dustakan?

Jika tiap status, tulisan dan kalimat demi kalimat lainnya masih bisa kau ketikkan dengan jemarimu…

NikmatNya yang manakah yang kan kau dustakan?

Jika kakimu masih bisa melangkah ke masjid sementara ada diantara manusia yang lumpuh, namun tak menyurutkan langkahnya ke masjid..

NikmatNya yang manakah yang kan kau dustakan?

Alhamdulillah, hari ini tellah melewati juz yang kata orang juz psikologis…, kalau sudah berhasil melewatinya insya Allah dimudahkan untuk menghafal juz ke-2 ke-3 dan seterusnya…

Allahummar hamna bil Quran
waj’alhu lana imaamau wa nuurau wa hudaw wa rahmah
Allahumma dzakkirna minhu maa nasiina
wa ’allimna minhumaa jahiilna
warzuqna tilaawatahu
aana al laili wa athrofannahar
waj’alhu lana hujjatan
Yaaa rabbal ‘alamiin

Dilema #1: Dialog Petani dan Pendaki


Seorang petani sedang berpeluh dalam keringatnya.. membajak sawah menaburkan benih dan memperbaiki irigasi di sekelilingnya…. di kejauhan tampak terlihat gunung yang begitu Indah. Pesonanya mirip sekali seperti gambar anak-anak SD ketika diminta menggambar pemandangan oleh gurunya…

Sang Pendaki, ternyata dulu juga adalah petani, pernah merasakan teriknya mentari di tengah sawah, kubangan lumpur yang membasah dan tetes keringat yang tercurah.

Dua kondisi yang berbeda…. yang satu hanya bisa melihat gunung dari kejauhan.. di bawah… yang satu lagi bisa menjejak hingga bukit gunung. dan terlebih lagi sang pendaki bisa melihat hamparan sawah yang begitu indah, begitu luas dengan undak sengkedang berlapis-lapis.

Seketika keheningan berubah jadi amarah…

“Hei pak tani…. yang bener dong mengurusi sawahnya itu banyak padi menguning yang belum dipanen, banyak  lahan yang belum dibajak, banyak irigasi yang mampet, banyak lahan justru gagal panen… ngapain saja sih kerjaanmu?”

“Hai, bung engkau tidak tahu bagaimana sulitnya menggarap lahan berhektar-hektar ini dengan petani yang SEDIKIT, engkau tidak mengerti bagaimana kami dipusingkan dengan hama-hama dan cuaca yang tak menentu.”

“Lho, buktinya dulu saat aku jadi petani, aku bisa bisa saja tuh mengurusi lahanku, padinya tumbuh baik, hasil panenpun meningkat, tak ada hama-hama yang menghantui.”

“iya, itu DULU, beda dengan SEKARANG.”

Memang sih, seorang pendaki, dia ada di bukit yang tinggi, bisa melihat dari ketinggian yang mampu melihat kondisi keseluruhan pemandangan yang ada di bawahnya, tapi ia yang di ketinggian itu tak mampu memahami detail kondisi di lapangan, betapa sulitnya kondisi saat ini saat cuaca semakin tak menentu, saat penyakit-penyakit tanaman semakin beranekaa ragam… masalah yang lebih kompleks dibandingkan zaman dahulu… Sang petani menyadari, dia masih di pematang sawah, yang dilihatnya tak seluas cakrawala sang pendaki, tapi hanya satu yang diminta seorang petani itu.. PENGERTIAN… itu saja sudah cukup

sekian ah, random banget tulisan ini… hanya sebagian kecil mungkin yang mengerti maknanya…

malam ke-17 ramadhan

Kontrakan yang semakin sepi ditinggal penghuninya

Damba CintaMu


tak ada kata yang pantas terucap dari lisan saya saat ini selain kata Alhamdulillah yang terus menerus harus diucapkan.

alhamdulillah…. saya masih bisa bertemu bulan yang teramat istimewa.. bahkan bulan ramadhan ini bulan ramadhan paling istimea sepanjang hidup saya. Allah memberikan begitu banyak tarbiyah-Nya lewat berbagai kejadian penting yang sayangnya tak dpat saya tuiskan seperti rangkaian kisah ramadhan tahun sebelumny.

alhamdulillah…. saya masih bisa merasakan betapa kasih sayaNya begitu nyata merasuk kedalam setiap rangkaian perjalanan hingga pertengahan ramadhan ini. pintu-pintu taubat, ruang-ruang kasih sayang dan jendela hidayah terasa amat besar IA berikan dibulan ini.

alhamdulillah… rezeki yang tak terduga selalau ia berikan pada hambaNya yang membutuhkan, saya tak bisa menyangk, betul-betul tidak menyangka bahwa Ia masih menitipkan rezeki yang begitu berharga pada saya hingga saat ini.

alhamdulillah… meski tak sempat menulis tiap hari, tapi tarbiyah-Nya benar-benar membuat saya tertegun, menyadari bahwa ini memang benar-benar bulan yang sangat istimewa,

alhamdulillah… sekali alhamdulillah ya rabb… engkau masih memberikan pada hamba kesempatan untuk merasakan indahnya ramadhan tahun ini. bantu hamba untuk terus istiqomah di jalanMu, bantu hamba untuk terus memperjuangkan syariatMu, bantu hamba untuk senantiasa bersyukur padaMu, karena ridho dan kasih sayangMu lebih berarti dari dunia dan segala isinya.

alhmadulillah… meski seringkali hamba kufur atas nikmatMu, tapi Engkau masih teramat sayang pada hamba… memberi hamba kesempatan untuk menjadi pribadi yang lebh baik dan menyadari bahwa hakikat hidup ini adalah mengabdi padaMu.

alhamdulillah… meski Kau tak butuh targetan-targetan yang hamba canangkan, tapi bersyukur hamba masih bisa memenuhhi targetan itu dan sedang berproses untuk tidak mengurangi kesalahan-kesalah di waktu yang lalu.

alhamdulillah… cintaMu begitu dekat terasa…

Tuhanku ampunkanlah segala dosaku
Tuhanku maafkanlah kejahilan hambaMu

Ku sering melanggar laranganMu
Dalam sedar ataupun tidak
Ku sering meninggalkan suruhanMu
Walau sedar aku milikMu

Bilakah diri ini kan kembali
Kepada fitrah sebenar
Pagi ku ingat petang ku alpa
Begitulah silih berganti

Oh Tuhanku Kau pimpinlah diri ini
Yang mendamba cintaMu
Aku lemah aku jahil
Tanpa pimpinan dariMu

Ku sering berjanji depanMu
Sering jua ku memungkiri
Ku pernah menangis keranaMu
Kemudian ketawa semula

Kau Pengasih Kau Penyayang Kau Pengampun
Kepada hamba-hambaMu
Selangkah ku kepadaMu
Seribu langkah Kau pada ku

Tuhan diri ini tidak layak ke syurga Mu
Tapi tidak pula aku sanggup ke neraka Mu

Ku takut kepadaMu
Ku harap jua padaMu
Moga ku kan selamat dunia akhirat
Seperti rasul dan sahabat

Jogja,16 ramadhan 1433 H,  23.00WIB

selepas  acara dari jogja untuk rohingya di maskam ugm

Rindu


Empat masjid yang entah mengapa selalu memberikan warna tersendiri tiap kali dikunjungi. Masjid Nurul Ashri, Masjid Bahrul Ulum (Puspiptek), Masjid Salman (ITB) dan terakhir yang paling ngangenin adalah Masjid Daarut Tauhid….

Setiap kali kesana pasti membawa ketenangan yang susah dituliskan dalam kata dan dirangkai dalam prosa. Ada sesuatu yang beda, bahkan masjid yang lebih megah dan lebih besar dari itupun tak memberi kesan serupa.

Yupz, paling tidak rasa rindu itu akan terobati jika kita sudah bisa untuk mengunjunginya kembali. Rasa rindu itu pertanda cinta, cinta untuk selalu berada dekat dengannya, dan rindu itu semakin bertambah besar jika semakin jauh jarak dan lama waktu yang memisahkan.

 

Geger Kalong, 17 Juli 2012, 22.15 WIB

H-3 Ramadhan 1433 H

 

Pesan pak Hidayat untuk kita


mau bilang sedih, tp ntar dibilang cengeng… Terharu deh bacanya… terutama buat yang merasakan kerasnya perjuangan di sana.. barakallahu fiikum
Ada saat suatu titik yang mempertemukan kita dalam sebuah jalan perjuangan dan mengisi catatan kehidupan dalam ranah idealisme. Yang mengingatkan kita akan visi perubahan untuk Jakarta yang kita Cintai.
Padatnya aktivitas perjuangan ini mungkin melebihi jadwal ketika bercengkrama dengan keluarga dan itu tak menjadi halangan tuk terus melangkah.
Mempertahankan cahaya nurani agar diri mampu menapak surga. Agar tetap menjadi bintang yang menerangi kegelapan.
Perjuangan ini telah menjadi saksi kehidupan untuk merajut mimpi untuk sebuah perubahan. Mimpi-mimpi menjadi sang al Banna. Yakinlah Batik Beresin Jakarta akan selalu memeriahkan aktivitas kita sampai kapanpun.
Saudaraku adalah sebuah kehormatan dapat mengenal dan berjuang bersama kalian yang dalam lelahnya masih dapat tetap berupaya, tidak hanya bisa bicara tapi juga bekerja. mengkritisi tapi juga memberi solusi tidak merasa rendah ketika dihina, dan tidak merasa tinggi bila dipuji, yang telah menjadikan Perjuangan sebagai urusan keluarganya.
Saudaraku Tetaplah berdiri tegak karena kalian adalah petarung….
Teruslah bergerak karena kalian adalah pejuang….
Masih banyak tugas lain menanti kita….
Terima kasih Sahabat Hidayat + Didik untuk Perjuangan ini, semoga Alloh mencatatkannya sebagai amal bagi kita semua…aamiin
Hidayat Nur Wahid

Ampuni hamba ya Rabb


Sumber Foto: ugeem.com

Kantor Pusat Fakultas Teknik kemarin kembali didatangi oleh salah seorang ‘tokoh’ istimewa. Kalau diingat-ingat berarti baru ada 2 ‘tokoh’ yang menjadi pembicara dalam agenda yang di adakan di selasar KPFT tersebut,Pak Tif (sapaan akrab Tifatul Sembiring) pada tahun ini dan beberapa tahun sebelumnya (klo gk salah thn 2002) Ust. Rahmat Abdullah.

Alhamduliiah, senang bisa melihat jajaran dekanat dan para ketua jurusan bisa ikut agendaa Tarhib ramadhan kemarin. Biasanya kan yang dateng paling cuma dekannya tok, itupun kadang diwakilkan dan cuma ngasih sambutan, selesai sambutan beres… wuzzzz langsung menghilang. Tapi kali ini beda, beberapa ketua jurusan dan jajaran dekanat duduk kalem di shaf paling depan sambil mendengarkan taujih pak Tif (Alhamdulillah lagi).

Pesertanya gimana? Yaah udah bisa ditebaklah, peserta mebludak ampe selasar timur dan barat. nggak seperti kajian-kajian ‘biasa’ yang pesertanya bisa diitung dengan jari. Itupun 4 L. loe lagi-loe lagi.  Bahkan dari berbagai kampus pun juga memadat area selasar KPFT itu (berapa ya klo diitung? *males -__-“). 

Hmm, saya jadi kepikiran kalau kajian-kajian dengan ustadz ‘biasa’ jumlah jamaahnya sedikit, trus ketika yang ngisi adalah ustadz sekaligus tokoh nasional, pada rame-rame tuh berdatangan, bahkan sampai yang jarang ikut kajianpun bisa hadir. Trus, apa iya, kita harus mendatangkan ustadz-ustadz dengan nama besar untuk mendatangkan jamaah dengan jumlah besar?. Apa iya kita baru sadar pentingnya kajian klo yang ngisi adalah seorang tokoh. Trus males2an klo yang dateng itu ustadz kampung atau ustadz lokal?

Satu sisi saya cukup senang karena kemarin bahasa-bahasa dakwah bisa tersampaikan dengan begitu ‘vulgar’ di Kampus, di hadapan birokrat kampus pula. Tapi di sisi lain, ada juga perasaan miris melihat masih lebih banyak lagi di areal kampus yang masih merokok, masih boncengan dengan lawan jenis, masih membuka aurat, dan lain-lain. Apa nggak cukup ustadz yang juga tokoh nasional ini untuk menarik minat mereka? Atau perlu langsung di datangkan malaikat untuk membuat mereka sadar (Astaghfirullah).

Begitupula kita, mungkin, dalam berbagai kondisi kita tak cukup untuk dinasehati oleh seorang kawan, mungkin kita tak cukup ditegur oleh seorang dosen, mungkin kita tak cukup dimarahi oleh pimpinan kita, mungkin tak cukup di dakwahi oleh ustadz biasa, mungkin dan mungkin lagi. Lalu, apakah kita menunggu sampai langsung ditegur oleh ALLAH atas setiap kemalasan kita, apakah kita menunggu dijemput malaikat maut sampai terucap kata taubat atas segala maksiat.  Astaghfirullah… Ampuni hamba ya Rabb

Senin, 9 Juli 2012. 06.15 WIB

Semburat Persepsi


Terkadang keberadaan atau positioning kita juga menentukan seberapa jauh kita bisa mengakses sebuah informasi. Menjadi seseorang yang ‘serba tahu’ ya memang harus berada di dalam sumber informasi. Itu kaidah secara umumnya. *kyk ilmu ushul aja #hehe*

Posisi dimana kita berada, bisa menentukan bagaimana perepsi yang terbentuk dalam alam pikiran. Misalnya saya tergabung dalam organisasi A, maka pola pikir yang terbentu adalah pola pikir yang berdasarkan kriteria A, pola pikir –atau dalam bahasa lainnya cara pandang (world view)– *berattt. Nah, world view inilah yang akan mempengaruhi kebijakan-kebijakan yang kita ambil. Dalam konteks ini, memang penting untuk bergabung dalam organisasi yang memang mengantarkan kita pada pola pikir organisasi yang matang.

Tapi, dalam konteks lain, ada satu hal lain yang perlu diperhatikan, bahwa kita juga perlu menilai diri kita dari sisi orang lain. Atau bisa disebut bagaimana kita menjadi oang lain, dan melihat dengan sudut pandang yang lain. Misal, tadi saya melihat sebuah tugu di Fakultas X, dari jauh kelihatan segitiga, semakin dekat seperti dua segitiga berjajar, dan setalah melihat dari berbagai arah, bentuknya adalah prisma. Atau sederhananya deh, saya melihat si A dari belakang, beda kan dengan melihat di A dari depan. Kalau dari belakang, kita gk tau tuh ekspresi wajahnya seperti apa klo marah, sedih, kecewa. Akhirnya kita ber-presepsi klo si A itu orangnya blab la bla.

Cara membaca atau cara meihat kita terhadap sesuatu itu mengantarkan kita pada persepsi yang berbeda. Dan persepsi akan megantarkan pada pilihan sikap yang kita ambil.

Menjadi orang lain dalam menilai aktivitas yang kita lakukan bukan berarti mencari penghargaan di hadapan orang lain. Akan tetapi berupaya untk me-muhasabah sudah sejauh mana sih aktivitas yang kita lakukan itu benar-benar bermanfaat menurut kita. Terkadang sih, manusia itu merasa bahwa apa yang dilakukannya sudah bermanfaat bagi orang lain, tapi justru dalam kenyataannya aktivitas tersebut NIHIL  dari manfaat yang dirasakan lingkungan sekitarnya. Lah, kan yang penting niat gue udah bener? Kenapa mesti melihat apa kata orang lain?

Iya benar, seharusnya memang kita tak peduli apa kata orang lain, kalau niat udah ikhlas sih, insya Allah segala yang kita lakukan bermanfaat. Tapi, apa bener aktivitas kebaikan (baca: dakwah) yang kita lakukan sudah efektif? Bukankah masalah penerimaan dakwah itukan domainnya Allah, bukan domainnya manusia?.

Hmm, gini aja deh. Misal ya, ada seorang X (baca: ustadz) *lah kenapa disensor… Beliau rutin membacakan hadits-hadits tiap ba’da zuhur, tapi bacaannya itu lho gk nahan (bacaannya gk jelas, kecil pula suaranya). Sekecil-kecilnya suara saya masih lebih kecil lagi yang ini. Nah, udah gitu baca haditsnya puanjaaang bener, ampe  jamaahnya pada gelisah (yg ini agak lebay). Padahalkan cukup baca 2 atau tiga hadits kayaknya udah bisa jadi ilmu yang bermanfaat tuh. Nggak mesti harus baca berlembar-lembar. Kan gk enak, klo meninggalkan barisan shaf klo ada yg lagi ngisi taushiyah gitu.

Secara, meskipun isi yang disampaikan itu bener, sang ustadz juga harus memperhatikan apakah jamaahnya itu menerima dengan baik apa yang disampiakannya. Lho kan yg penting ikhlas? .Duh, nanya itu terusss, tadi kan udah saya bilang kali ini saya nggak berbicara masalah niat ya.. Karena insya Allah (asumsi) niatnya udah pada beres #hehe. Lillahi ta’ala.  Yang menjadi poin utama kali ini adalah efektivitas dakwah yang kita lakukan.

Seberapa efektif sih dakwah yang kita lakukan selama ini? Ini harus terus di riset. Bisa jadi, ada yang merasa dakwahnya sudah “wah”, tapi kenyataannya yang menerima manfaat itu hanya segelintir orang saja. Parahnya lagi, jika yang menjadi objek dakwahnya itu-itu terus. Mereka yang memang sudah paham akan dakwah. Mereka yang baru atau masih ‘ammah gimana?.

Ya itu tadi, coba sekali-kali kita belajar menjadi diri mereka. Belajar melihat agenda-agenda dakwah dari sudut pandang mereka. Belajar menilai dan mengevaluasi akivitas kebaikan kita dari sudut pandang orang lain.

Karena itu, jangan terjebak pada persepsi diri sendiri. Dakwah itu kan pada intinya mengajak orang lain pada kebaikan. Kalau yang di ajak gk respect lagi terhadap metode yang kita lakukan, ya kita perlu mempelajarai lagi objek karakteristik objek dakwah itu. Karena tiap generasi punya karakter yang berbeda, oleh karenanya butuh metode yang berbeda untuk mendekatinya. Belajarlah untuk menjadi mereka.

Ada yang bilang kalau mau melihat bentuk rumah kita, ya harus keluar sejenak melihat seperti apa sih bentuk rumah kita saat ini. Apakah cat rumahnya masih mengkilat, apakah temboknya sudah mulai berlumut atau apakah halaman depannya penuh dengan sampah bertebaran? Karena bila hanya melihat rumah kita dari dalam, bisa jadi kita hanya memperbagus dalamnya saja, tapi menurut tetangga, rumah kita menyeramkan tak terurus dan hanya menjadi sumber masalah bagi lingkungan sekitarnya. Bukankah dakwah itu pada hakikatnya memberikan ketenangan dan kebermanfaatan?.