Arsip | Serial Cinta RSS for this section

Perjalanan (1)


Hampir satu tahun aku meninggalkan kota ini, Jogja. Tempat dimana segala peristiwa menjadi nuansa penuh makna yang setiap orang ingin merasakan kembali hangatnya, nyamannya dan menariknya kota ini. Bekasi, Serang, Banjarmasin telah menjadi pelabuhan tinggalku selanjutnya setelah kota ini. Namun selalu ada ‘rasa’ untuk terus mengenang Jogja, atau paling tidak berinteraksi dengan kehidupan orang-orang yang masih tinggal di sana. Teman-temanku banyak yang masih tinggal di sana, entah untuk melanjutkan skripsinya, kerja atau masih harus berjuang merampungkan perjuangannya dalam  berlembar-lembar catatan skripsi.

Ada kerinduan, Ada harapan, Ada kenangan yang masih tersimpan dalam. Berbagai momentum-momentum berkesan yang pernah kulalui di sana membuatku ingin mengunjunginya kembali. Beberapa kali akupun singgah di sana, hanya sekedar melepas rindu.

==========

Perjalanan hidup setahun yang kualami selepas kehidupan kampus pun mulai menemui titik dimana kehadiran seorang pendamping menjadi sesuatu yang mulai kupikirkan. Istri. Ya… seorang yang akan menemaniku bersama untuk berproses terus menjadi baik dan menapaki tahapan selanjutnya dalam hidup ini. binaul usrah.

Teringat sebuah obrolan dimana dulu saat menjadi mahasiswa banyak teman-teman yang bercerita bagaimana perjalannya hingga menemukan sekeping hatinya dan berakhir dalam bingkai rumah tangga. Ada teman yang menyampaikan bahwa ia dijodohkan oleh orang tuanya, dipertemukan oleh MR nya, nembak langsung ke calon dengan diawali kode-kodean rahasia ataupun cinta lokasi saat KKN yang berakhir di pelaminan. Serta masih banyak lagi kisah teman-teman yang kemudian membuatku berpikir. Langkah apa yang harus kutempuh?

==========

2 Maret 2014.

Bismillah.. sent!

Assalamu’alaikum mas.. berikut biodata saya, mohon koreksi kalau ada yg tdk sesuai format :)”

kurang lebih begitulah isi pesan yang kusampaikan di badan email yang terkirim ke MR ku waktu itu. Singkat, hanya sebaris kalimat penuh harap akan terjawabnya segera emailku itu. Langsung ku sandingkan juga pesan singkat via whatsapp, hendak mengabari beliau bahwa email yang diminta sudah kukirimkan.

“Sudah saya kirim emailnya mas.”

“Oke akh Jupri, ana teruskan ke BK**S kampus. Semoga berkah dan diberkahi”

Sebetulnya, bisa saja aku kirimkan pesan lebih panjang, ...”semoga segera ada jawabannya. Hehe” . Tapi aku juga sadar bahwa sedang banyak juga yang berproses di sana, sehingga harus menunggu waktu yang tepat.

Hari berganti hari, minggu per minggu kian berlalu dan 4 bulan pun sudah kulewati dengan resah yang menderu. Dalam hati aku bertanya,“kok belum juga ada jawaban ya.”

Hampir 4 bulan itu aku tak mengontak MR, namun karena rasa penasaranku kian bertambah, kuberanikan diri untuk bertanya ke MR ku itu.“biasanya jawaban proposal itu berapa lama ya mas?”

Aku bertanya diplomatis, supaya tak terkesan mengejar-ngejar beliau. 

“punya antum sedang di syurokan.”

Padahal aku tak bertanya tentang emailku, tapi beliau menjawab langsung mengarah ke pertanyaan tersirat yang aku ajukan. hehe

============

bersambung…….

seperempat abad


hari ini, saya (konon katanya) memasuki usia yang ke-25.
sudah 24 tahun berlalu, melewati beragam kepingan puzzle kehidupan. di usia yang ke-24 kemarin Allah memberikan sebuah anugerah yang hingga saat ini masih terus dan akan terus ku syukuri. Sebuah anugerah terindah dipertemukan dengan seorang wanita shalihah, Shiva Ulya Azizah. Semoga berkah terus ya sayang. 🙂
24 Tahun (by: Ebith beat A)
24 tahun…………yaa robanna
Hamba di dunia……yaa robanna
Hamba banyak dosa…yaa robanna
Hamba mohon ampunMelupakan satu kewajiban kita
Didunia yang telah tertulisakan
Dalam agama dalam keluarga
Banyak tergiur oleh fantasy duniaRajin mencapai cita
Ada yang jadi artis yang jadi pejabat
Tapi kenapa kita suka lupa
Terhadap kewajiban kita semua
Yang jadi artis banyak
Yang tidak hafal hadist
Yang jadi pejabat banyak
Yang ninggalain sholat

Ga jadi malu tetap begitu
Padahal itu semua hanyalah
Tipu muslihat biar kita dilaknat
Banyak ninggalin sholat, puasa
Apalagi dzikir cuma sekelebat

Allah subahanahuwataa’la
Memerintahkan kepada kita
Semua makhluknya didunia
Berusaha mencukupi kebutuhan
Manafkahi keluarga dari zaman
Nabi adam mencari siti hawa
Dan rasulullah bergerak
Dibidang niaga namun sebenarnya
Kita jangan lupa terhadap
Kewajiban kita semua

Jangan lupa sholat
Jangan lupa zakat
Jangan lupa dzikir

Sekarang mari kita evaluasi diri
Apa kekurangan kita didunia
Kita perbaiki ya……. buat bekal
Nanti dialam kekal

Keputusan untuk mencintai


komik

Cinta kadang memerlukan jeda. Dengan waktu agar hadirkan rindu, dengan jarak agar kuatkan harap. Namun cinta tak kenal masa. Ketika ia sudah diputuskan untuk hadir membawa harapan dan menepis segala keraguan, ia tak boleh hilang, tak boleh mundur, tak boleh berkurang… bahkan dalam sepi sekalipun.

Syukur dan sabar…. adalah dua kata yang terpatri mengiringi perjalanan ini. Lima bulan meniti tapak-tapak kesungguhan untuk hadirkan sebuah keberanian. Keberanian untuk membuat satu komitmen. Mencintai. Keberanian untuk menanggung konsekuensi logis dari keputusan untuk mencintai itu. Keberanian yang dimulai dalam sebuah sebuah perjanjian yang kokoh (miitsaaqan ghaliiza) dihadapan semesta yang menjadi saksi. Dan setelah itu, hari demi hari akan dilalui sebagai realisasi atas komitmen yang telah diucapkan.

Betul apa kata Anis Matta dalam buku serial cintanya, Para pecinta sejati tak suka berjanji. Tapi begitu mereka memutuskan untuk mencintai. Mereka akan segera membuat rencana untuk memberi. Ketika kita sudah memutuskan untuk mencintai, maka cinta itu telah berubah. Dari sekedar rasa, kini menjadi tindakan nyata untuk memberi.

Banjarmasin.30.11.14

menanti satu purnama untuk merenda kisah bersama

Mohon Do’a Restu :)


 

shiva-jupri-08

aku tak kuasa menolak.. bila engkaulah yang telah dipilihkan Nya untukku.

Jupri Supriadi & Shiva Ulya Azizah

 

Merindu Jiwa


Jiwa-jiwa itu sedang merindu

Menjalani hari dengan selaksa harapan

Menghias waktu bercengkrama riang dengan sang karib

Sesekali sepi itu datang, sang jiwa kerontang merindu

 

Jiwa-jiwa itu sedang merindu

Sesekali ingin mengetuk-ngetuk pintu Lauh Mahfudz

Biar saja melodi waktu yang mengaturnya

Untuk sebuah pertemuan..berujung barakah

 

Jiwa-jiwa itu sedang merindu

Yang kini keduanya sedang sibuk menyamakan gontai

Alunannya tengah berdesir menuju hempasan suatu muara

Ia akan tergenapkan..jika sang jiwa telah mengiyakan amanah

 

Jiwa-jiwa itu sedang merindu,

merindu untuk tergenapkan

Untai doa tiada keluh mengalir..beharap..melukis asa

Tangan-tangan itu menengadah..mengiba kesempurnaan dien

 

Ia akan datang, pasti akan datang

Membawa cahaya bintang di jelaga hati

Mengukir pualam mega pada desah jiwa

 

Ia akan datang dan pasti akan datang

Diiringi kepakan sayap para malaikat suci yang mengangkasa pada Arasy

Memberitahu pada penduduk langit

Bahwa sang Fulan telah menemukan serpihan jiwa

Sang Khalik pun tersenyum, menghendaki derajat sang Fulan meninggi dihadapanNYA

Memberi ruang padanya untuk mengokohkan pilar-pilar bersyurga

 

sumber: http://kolikolifamily.blogspot.com/2013/08/merindu-jiwa.html

Kajian AQL Islamic Center: Ust. Bendri Jaisyurrahman @ajobendri


Temanya tak saya tuliskan di judul, langsung nikmati saja ilmunya dengan mendengarkannya.

Karena ia sebuah cinta


Karena ia sebuah cinta. ia senantiasa bergetar..
meskipun tak ada lagi yang mau mendengar.

Karena ia sebuah cinta. ia senantiasa melihat dan merasa..
meskipun tertatap buta dalam terang dan gulita.

Karena ia sebuah cinta. ia datang untuk menguji..
bukan untuk menyiksa dan menyakiti.

Karena ia sebuah cinta. ia senantiasa berusaha..
tak pernah ada kata memaksa, meski lelah datang mendera.

Karena ia sebuah cinta. ia senantiasa menarik..
meskipun tak ada satupun orang yang melirik.

Karena ia sebuah cinta. ia datang menghampiri dengan hati..
dengan cinta, kerja dan harmoni.

Karena ia sebuah cinta. ia selalu hadir dalam pancar sinar mata..
meskipun tak sempat terucap dalam kata..

Karena ia sebuah cinta. ia mencoba untuk selalu memenangi..
bukan hanya berjanji, setelah itu mengingkari.

Karena ia sebuah cinta. ia hadir karena ketentuan..
bukan karena permintaan.

Karena ia sebuah cinta. ia hadir dengan pengorbanan dan kesetiaan..
bukan dengan kekayaan dan kebendaan.

Karena ia sebuah cinta…

 

Catatan Akhir Pekan #1


Hmm.. ternyata bulan ini harus membagi waktu akhir pekan untuk agenda-agenda “reunian”. Ada banyak undangan yang datang, entah itu dari teman kampus, maupun teman-teman SMA. Meski, Sebagian besar dari mereka sudah tak pernah bertemu saya lagi hampir setahun bahkan sudah ada yang sejak lulus SMA belum pernah ketemuan lagi.

Pernikahan. Itulah undangan terbanyak yang datang kepada saya. (ya iyalah masa ada juga undangan khitanan yang nyasar). Ya kali aja ada undangan yang lain, undangan wisuda, undangan seminar apa kek. 🙂

Tapi bersyukur, ternyata mereka adalah orang-orang hebat yang sudah siap untuk memasuki jenjang kehidupan yang kalau kata Hasan Al Banna, memasuki tahap binaul usrah. Sedangkan kita, (eh saya ding) masih pada tahap islahun nafs.. itupun belum kelar-kelar 😦

Mereka sudah selesai pada tahap pertama dan siap mengemban amanah untuk menyempurnakan separuh lagi diennya. Begitu besar keutamaan menikah hingga Rasullah mengatakan bahwa menikah itu separuh agama. Woow.. berarti saya belum separuh-separuhnya acan 😦

Memang benar kata orang. Masa muda adalah masa dimana seseorang itu bagaikan raja, namun jika ia terlalu lama melewati masa muda dengan membujang, ia menjadi seorang hamba yang patut dikasihani. Begitupun sebaliknya, ketika seseorang menikah, ia seolah menjadi budak pada awal pernikahannnya, menjadi tidak bebas hidupnya. Namun lambat laut ia akan merasa diperlakukan bak raja atau ratu oleh pasangannya. Tidak lagi merasa kesepian dan kepedihan yang berlarut karena ada seseorang yang setia mendampingi dan menjadi sandaran hatinya.

Dalam sebuah riwayat, Rasulullah bersabda, “Ada 3 golongan yang pasti ditolong Allah, yaitu budak mukatab (budak yang ingin memerdekakan diri dengan cara bekerja keras) yang ingin melunasi hutangnya, orang yang menikah demi menjaga diri dari perbuatan maksiat, dan para pejuang di jalan Allah. “ (HR. Tirmidzi, Masa’i dan Ibnu Majah)

Alangkah agung hadits di atas yang telah menyetarakan pernikahan dengan berjuang di jalan Allah dan memerdekakan budak. Nah, terus bagi mereka yang belum mampu atau belum siap (mereka??? :D) silahkan baca hadits berikut ini:

Wahai Kaum muda, barangsiapa diantara kalian punya kemampuan untuk menikah maka menikahlah. Karena hal itu dapat menundukkan pandangan dan menjaga kehormatan kalian. Sedangkan barangsiapa belum mampu maka hendaknya ia berpuasa, dan puasa itu adalah perisai baginya. (HR. Bukhari Muslim)

Yup, begitulah cara Allah menjaga hambanya agar tidak terjerumus pada kemaksiatan. Bagi mereka yang belum yakin sesegera mungkin maka dianjurkan untuk berpuasa. Bukankah puasa itu indah pada saat berbuka nanti? 🙂

Kenapa kita harus menjaga diri?

Karena seseorang yang mampu menjaga kesucian sampai memasuki jenjang pernikahan akan menghormati istrinya sebagai teman hidupnya, sebagai ibu dari anak-anaknya. Ia akan melihat cinta sebagai anugerah yang abadi. Di lain pihak, sang istri memandang kesucian ini sebagai tanda keikhlasan sehingga ia selalu bergantung dan setia kepada suaminya hingga akhir hayat.

Terakhir, sebuah penutup dari Ibnu mas’ud: sekalipun usiaku tinggal 10 hari, aku lebih suka menikah agar diriku tidak membujang ketika bertemu Allah. #uhukkk

Kota Sarang Pejuang

Bekasi, 17 Agustus 2013

Merdeka!!!!

Pesan Terakhir Untuk Rembulan


Rembulannya begitu indah. Ia meninggi di atas sana. Kata para astronot butuh waktu berbulan-bulan untuk bisa menjejakkan kaki di sana. Paling tidak harus bisa melewati lapisan atmosfer super panas dan bertarung dalam perjalanan menghindari serpihan-serpihan meteor yang sewaktu-waktu bisa mengancam.

Tapi, kini kulihat rembulan indah itu ada di sebuah sudut kolam, sama indahnya. Dan kupikir, aku tak seperti astronot penjelajah bulan yang harus mempersiapkan ini-itu untuk bisa mendekatinya. Ternyata rembulan itu datang meghampiri. Lama-lama ia semakin tampak indah, ditemani sekawanan gemintang yang kerlip cahayanya mengelilingi sang rembulan. Aku hampiri, rembulan itu mulai bergetar. Semakin dekat, kucoba menyentuhnya di atas riak permukaan. Getarannya semakin besar. Cintakah ia?

Dan, tiba-tiba ketika aku mulai menyentuhnya, sang rembulan bergetar hebat, gelombang air kemudian merusak bentuknya, tak lagi bulat, tak lagi indah. Bentukya tak lagi berarturan. Marahakan ia?….

Ternyata keinginanku untuk mendekati sang rembulan ternyata justru merusak dirinya. Lalu kubiarkan ia kembali ke wujud semula. Menjadi bulat, indah dan bersinar kembali menghiasi permukaan kolam.

“Sejak saat itu, kuputuskan untuk mencintai rembulan dari kejauhan saja, tanpa mendekatinya. Biarlah ia tetap bersinar dan tak terluka oleh kehadiran kita. Biarlah kita merindunya, ia akan selalu datang menyapa menghiasi langit bumi dikala gulitanya.”

Bayangan? itu semu. Tak perlu kita perlu berharap pada segala sesuatu yang semu dan fana. Ia akan hilang seketika. Mencintai bayangan berarti mencintai ke-semu-an, dan berharap pada sesuatu yang tak pasti. Karenanya, meminta, mencinta, berharap dan mendekatlah pada Yang Maha Abadi.

 

 

Kemang, 7 Syawwal 1434 H