Arsip | Tentang Dakwah RSS for this section

SPIRITUALITAS KADER | Seni Menciptakan Karakter Manusia bag-3


Selama ini yang sering disebut-sebut sebagai tujuan tarbiyah Islamiyah adalah menciptakan insan kaamil dan yang disebut al insanul-kamil adalah al-insaanul-mlaaikiyyun. Sementara dalam kenyataanya, tidak ada manusia yang menyerupai malaikat. Sebagian dari sifat malaikat memang ada di dalam diri manusia, namun sebagian sifat setan juga ada. Kedua unsur yang ada dalam diri manusia tersebut terus berusaha untuk saling mengalahkan.

Oleh karena itu, perlu kiranya ditegaskan bahwa output tarbiyah bukanlah insan kaamil melainkan al insaanush-shaalih yang sesuai dengan shalahiyatul Islam li kulli zamaanin wa makaanin. Aplikasi agama ini bisa adaptif terhadap ruang dan waktu, sedangkan orang yang shaalihun, adalah orang yang cocok untuk seluruh ruang dan waktu. Output tarbiyah Islamiyah haruslah juga manusia-manusia shalih yang cerdas untuk tempat dan zamannya.

Perbedaan antara al insaansh-shaalih dan al insaanul kaamil itu sangat mendasar, karena kebaikan tidak bisa berdiri sendiri. Kebaikan mempunyai makna manakala dinisbatkan kepada ruang dan waktunya. Demikian pula halnya dengan akhlak, yang juga tidak bisa berdiri sendiri, karena al akhlaaqul faadhilah atau akhlak-akhlak yang utama juga tidak bisa berdiri sendiri, dan baru mempunyai makna manakala dinisbatkan kepada ruang dan waktunya.

Sebagaimana Allah SWT melukiskan dua karakter orang beriman yang paradoksial:

“asyidda-u ‘alal kuffaar, ruhamaa-u bainahum.”

Sifat asyiddaa dengan ruhamaa lahir dari satu jiwa yang sama, tetapi tertuju kepada objek yang berbeda, dalam ruang dan waktunya yang berbeda, dan dalam konteks yang juga berbeda. JIwa yang sama melahirkan respon yang berbeda kepada obyek-obyek yang berbeda.

Oleh karena itu, sifat keras tidak bisa serta merta dibilang semata-mata baik atau sebaliknya buruk, melainkan harus dilihat sesuai dengan obyeknya dan konteks ruang dan waktunya. Ada saat seseorang harus bersikap keras, dan justru malah salah jika bersikap lembut. Sebaliknya pada saat seseorang harus bersikap lembut, maka akan salah jika bersikap keras. Artinya akhlak mengacu pada fungsi, sehingga seseorang tidak menjadi baik dengan sendirinya jika karakternya hanya satu, yakni lembut sepanjang masa. Atau sebaliknya, keras terus sepanjang masa. Manusia harus mengatur bagaimana memfungsikan seluruh karakter itu. Manusia beriman yang diinginkan sebagai produk tarbiyah harus mempunyai mekanisme instruksional di dalam dirinya yang akan membantu mengeluarkan sifat-sifat tersebut berdasarkan ruang dan waktunya, sehingga ketika obyeknya berbeda, maka penyikapannya pun berbeda.

 

 

~bersambung

sumber: buku “SPIRITUALITAS KADER” karya Anis Matta

Iklan

SPIRITUALITAS KADER | Seni Menciptakan Karakter Manusia bag-2


Proses manusia menerapkan nilai-nilai agama di dalam ruang dan waktunya bukan proses sekali jadi, melainkan membutuhkan waktu yang panjang. Pertama-tama dibutuhkan waktu untuk memahami konten panduan tersebut secara benar dan setelah memahaminya dibutuhkan pula waktu untuk memahami cara mengimplementasikannya sesuai dengan ruang dan waktu. Selanjutnya, pada saat pengimplementasiannya, dibutuhkan juga pemahaman tentang realitas ketika konten itu diterapkan dan setelah dipahami realitas pada saat melaksanakannya, mungkin ditemui fakta baru tentang keterbatasan-keterbatasan sebagai manusia. Di saat itulah disadari bahwa mungkin ada pemahaman yang salah tentang konten panduan tersebut, atau bisa juga benar cara memahaminya tetapi salah cara menerapkannya. Atau boleh jadi benar memahaminya dan benar juga cara mengimplementasikannya, tetapi konteks ruang dan dan waktunya tidak sesuai.

Oleh karena itu, istilah ‘amaliyatut tadayyun mengacu pada proses beragama yang berlangsung secara terus menerus. Di dalam Islam penilaian pada diri seseorang bukan hanya pada awal kehidupannya, pertengahannya, atau hanya akhirnya, melainkan dilihat secara total keseluruhannya, walaupun memang derajat yang paling menentukan adalah pada ujung kehidupan seseorang.

Ketika seseorang ditarbiyah dengan cara-cara Islam, maka berarti ia dibantu untuk memahami konten panduan dan cara melaksanakannya serta didorong untuk melaksanakannya. Bila kemudian di lapangan ketika berinteraksi ditemukan fakta bahwa orang tersebut memiliki kesalahan dan kekurangan, maka hal itu menunjukkan bahwa proses beragama itu (‘amaliyatut tadayyun) masih terus berlangsung terus menerus sepanjang hidup sebagai proses pembelajaran (‘amaliyatut ta’allum) juga sepanjang hidup. Oleh karena itu, agama Islam juga menyediakan satu konsep lain yang disebut perbaikan berkesinambungan (ishlaahul mustamir) melalui mekanisme taubat.

Taubat adalah konsep perbaikan berkesinambungan. Selama ini banyak yang salah memahami sehingga menganggap taubat hanya berupa pengakuan dosa. Padahal misalnya, seseorang yang baru saja shalat, juga mengucap istighfar, karena bisa saja pada saat shalat, hatinya tidak khusyu’. Oleh karena itu, walaupun seseorang sedang melakukan suatu amal yang bila dilihat secara fiqih, saqathal waajib, kewajiban selesai tertunaikan, tetap harus beristighfar atas ketidaksempurnaan amalnya. Apalagi Rasulullah SAW bersabda bahwa berapa banyak orang yang shalat, namun tidak mendapatkan dari shalatnya kecuali hanya sepersepuluhnya, maka konsep taubat juga bermakna penyempurnaan amal. ‘Amaliyatyt tadayyun (proses beragama) bukanlah proses sekali jadi, melainkan membutuhkan waktu sebagaimana proses pertumbuhan manusia di dalam rahim ibu juga bertahap. Hal itu pula hikmahnya mengapa nabi diangkat pada tingkat kematangan usia tertentu, yakni di puncak kematangannya.

“Dan tatkala dia cukup dewasa…” (Q.S. Yusuf:22)

Demikian pula manusia tumbuh dan berkembang, sehingga umur 1-20 tahun berbeda dengan umur 20-40 tahun, dan berbeda lagi dengan manusia dari 40 ke 60. Begitu juga ketika seseorang berusaha memahami teks Al Qur’an dan Sunnah yang akan berbeda di setiap fasenya. Sulit misalnya membacakan surat as-Sajadah ayat 16 kepada seorang remaja berusia 15 tahun, bahwa seolah-olah ia tidak boleh tidur.

“tatajaafa junuubuhum ‘anil madhooji'”

Hal itu akan sulit dimengerti oleh remaja tersebut , demikian pula ketika dibacakan ayat tentang makar sebagaimana dalam surat Ali-Imran ayat 54:

“wa makaruu wa makarAllah”

Sebab akumulai pengalaman hidup, bacaan dan pengetahuan, akan mempengaruhi cara seseorang memahami ayat-ayat tersebut. Demikian rumitnya proses ‘amaliyatut tadayyun, sehingga hanya dengan memahami proses beragama itulah, kita akan bisa memahami pula rumitnya ‘amaliyah tarbawiyah (proses tarbiyah) dan ‘amaliyatut takwin (proses pembinaan) yang diterapkan kepada seseorang agar mampu berinteraksi dengan ruang dan waktunya berdasarkan patokan-patokan nilai-nilai agamanya. Terlebih lagi pelakunya adalah manusia dan obyek pembinaanya pun manusia yang memiliki perbedaan-perbedaan, sehingga “output”pun menjadi berbeda-beda. Oleh karena itu, yang lebih perlu kita pahami dan sepakati adalah standar output seperti apa yang ingin dilahirkan oleh Islam melalui ‘amaliyah tarbawiyah tersebut.

~~bersambung

sumber: buku “SPIRITUALITAS KADER” karya Anis Matta

Banjarmasin.05.10.14

19.15 WITA

 
 

SPIRITUALITAS KADER | Seni Menciptakan Karakter Manusia bag-1


Muhammad Quthb menulis buku yang memberikan landasan filosofi teoritis dan penerapan konsep tarbiyah. yakni Manhajut-tarbiyah Islamiyah. Buku ini terbagi dalam dua jilid, jilid pertama berisikan tentang teori dan jilid kedua tentang aplikasinya. Muhammad Quthb mendefinisikan tarbiyah dalam satu kalimat yang sederhana, namun mewakili mafahim tarbiyah yang benar.

at-Tarbiyah hiya fannush shinaa’atil insaan. Tarbiyah adalah seni menciptakan manusia.

Setelah Allah SWT menciptakan manusia dalam bentuknya yang utuh dengan semua jasadnya, maka tugas tarbiyah adalah “menciptakan ulang” manusia tersebut di atas bentukan dasar fitrah saat ia lahir. Oleh karena itu beliau mengatakan “at-Tarbiyah hiya fannush shinaa’atil insaan”, atau seni menciptakan manusia. Bila kita tambahkan degan shifatul Islam, sehingga menjadi tarbiyah Islamiyah, maka tarbiyah Islamiyah adalah seni menciptakan manusia dengan cara-cara yang Islami.

Bagaimanakah cara menciptakan manusida dengan cara Islam? Pertama-tama, kembali kepada definisi Islam, yang kemudian diintergrasikan dengan makna tarbiyah itu sendiri. Islam adalah sistem hidup yang diturunkan Allah SWT bagi manusia dengan bumi sebagai ruang hidupnya dan rentang masa kerja yang disebut sebagai umur dalam skala individu sebagaimana disebutkan dalam al-Qur’an:

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati…” [Q.S. Ali ‘Imraan:185]

Selain itu juga ada akumulasi umur individu-individu dalam satu komunitas yang membentuk umur umat dan jika umur umat digabung menjadi satu, maka akan menjadi umur peradaban.

“Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu…” [Q.S. al-A’raf:34]

Oleh karena itu, ada tiga unsur yang saling berinteraksi yakni ruang berupa bumi, waktu atau zaman dan manusia sebagai pelaku di dalam ruang dan waktu tersebut. Agar manusia mampu berinteraksi dengan sesama manusia dan dengan alam ruang dan waktu tertentu, maka ia memerlukan panduan berupa agama. Interaksi manusia di dalam ruang dan waktu tertentu dengan menggunakan ajaran agama disebut at-tafaa’ul ad-diiniy (interaksi relijius), yakni manusia yang meyakini nilai-nilai agama kemudian menerapkannya satu persatu di dalam kerangka ruang dan waktunya.

Hal yang paling penting adalah terjadinya proses interaksi antara nilai-nilai yang diyakini atau agama dengan manusia yang menjadi pelaku dalam ruang dan waktu tertentu. Bila dilakukan kilas balik, maka ketika Allah SWT menciptakan Adam dan Hawa, agama yang diturunkan kepada Adam dan Hawa pun disesuaikan dengan kebutuhan dua orang tersebut. Tentu saja pada waktu itu belum ada ajaran agama tentang negara. Kemudian ketika Adam dan Hawa mulai membentuk keluarga, maka ajaran agama yang turun disesuaikan dengan kebutuhan struktur sosial manusia sebagai keluarga. Selanjutnya ketika keluarga ini berkembang menjadi kabilah dan mulai merambah ke wilayah-wilayah lain di muka bumi ini, maka agama yang diturunkanNya juga disesuaikan dengan kebutuhan kabilah. Demikian pula ketika kabilah berkembang lebih besar lagu sehingga menjadi bangsa, maka agama yang diturunkanNya pun disesuaikan pula dengan kebutuhan skala negara.

Oleh karena itu, diperlukan banyak nabi dan rasul untuk membawa ajaran-ajaran agama yang disesuaikan dengan pertumbuhan manusia, agar agama sebagai penduai sesuai dengan kebutuhan manusia dalam menjalani hidup dan berinteraksi di dalam ruang dan waktunya itu. Dalam satu riwayat disebutkan bahwa jumlah nabi dan rasul itu sekitar 125.000 orang dan di riwayat lain disebutkan sekitar 350.000 nabi dan rasul, hingga akhirnya Allah SWT menghentikan mata rantai kenabian itu pada diri Nabi Muhammad SAW sebagai nabi terakhir. Selanjutnya manusia dianggap sudah bisa berinteraksi tanpa perantara nabi dan langsung menggunakan al-Qur’an sebagai panduan.

 

~~bersambung

sumber: buku “SPIRITUALITAS KADER” karya Anis Matta

Banjarmasin.03.10.14

00.18 WITA

Media #2: Pencitraan Dakwah


Suatu kejahatan bisa dicitrakan sebagai sosok pahlawan karena bangunan media. Sebaliknya, para pelaku kebaikan bisa dicitrakan sebagai sosok pecundang karena opini media. Sangat banyak pelajaran dan hikmah yang bisa diambil dari para aktivis dakwah, namun seringkali tenggelam tidak banyak diketahui publik, karena tidak adanya unsur publisitas. [Cahyadi Takariawan]

 

Muncul pertanyaan, apakah publisitas bertentangan dengan makna keikhlasan? Apakah amal yang ikhlas harus selalu disembunyikan? Al Qur’an memberikan gambaran dua kondisi shadaqah (sedekah), yang keduanya bernilai baik dan lebih baik. Tidak ada yang dicela atau disalahkan. Perhatikan ungkapan ayat berikut:

Jika kamu menampakkan sedekah(mu), maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu. Dan Allah akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu; dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan” (Al Baqarah : 271).

Dari ayat di atas, kita mendapatkan beberapa pelajaran fiqih dakwah sebagai berikut:

1.   Dibolehkannya menampakkan amal

Al Qur’an menyatakan, “Jika kamu menampakkan sedekah(mu), maka itu adalah baik sekali”. Suatu sedekah atau pemberian kepada orang-orang yang memerlukan dengan menampakkan atau mempublikasikan adalah suatu tindakan yang dibolehkan, tidak dilarang. Bahkan dikatakan sebagai “baik sekali”, bukan saja baik. Dalam hal ini, sedekah yang ditampakkan bukanlah sesuatu yang tercela atau dilarang.

Al Qur’an juga menyebut umat Nabi Saw sebagai sebaik-baik umat yang dihadirkan untuk seluruh manusia:

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah” (Ali Imran: 110).

Kebaikan ini akan memiliki makna yang memberikan banyak dorongan motivasi dan inspirasi bagi masyarakat luas, jika ditampakkan, bukan disembunyikan.

2.   Menyembunyikan amal karena menghindari riya’

Ada kalanya sedekah harus disembunyikan, jika dengan menampakkan akan menimbulkan riya dan menyakiti perasaan orang-orang yang mendapatkan bagian sedekah tersebut. Al Qur’an menyatakan, “Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu”.

Riya’ adalah berkembangnya motivasi semata-mata ingin mendapat pujian dari manusia atas apa yang dilakukannya. Namun menyembunyikan amal tidak identik dengan ikhlas, karena ikhlas bukanlah soal teknis menampakkan atau menyembunyikan. Ikhlas adalah dorongan yang kuat dalam jiwa, yang menjadi sumber motivasi dalam melakukan sebuah amal atau dalam meninggalkan amal tersebut.

Sebagian ulama salaf menyatakan, “Beramal karena manusia itu syirik, sedangkan meninggalkan amal karena manusia itu riya”. Ini menandakan bahwa ikhlas itu bermakna dorongan yang menyebabkan melakukan atau meninggalkan suatu amal semata-mata karena Allah, apakah amal itu ditampakkan atau disembunyikan.

3.   Keharusan bekerja dengan ikhlas

Semua aktivitas yang kita lakukan hendaknya didasari dengan niat yang ikhlas karena mengharap ridha dan pahala dari Allah, bukan dari manusia. Cukuplah kita yakin, bahwa semua yang kita lakukan berada dalam pengawasan dan pengetahuan Allah, sebagimana firmanNya, “dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan”.

Syaikh Hasan Al Bana menegaskan, “Yang  dimaksud dengan ikhlas ialah seorang muslim menunjukkan segala perkataan, amal  dan jihadnya semata-mata mencari ridha Allah dan  ganjaran baik-Nya, tidak memandang keuntungan duniawi, kedudukan, pangkat, gelar, dan semacamnya. Karena itu ia akan menjadi manusia pembela cita-cita  dan  aqidah, bukan  kepentingan  (interest)  pribadi.”

4.   Menampakkan amal tidak menghilangkan keikhlasan

Kebolehan menampakkan sedekah ini menandakan, amal yang ditampakkan tidak berarti menghilangkan nilai keikhlasan atau merusakkannya. Yang membuat rusaknya amal adalah sikap riya dan mengharap keridhaan manusia dengan jalan memamerkan berbagai aktivitas kebaikan. Berbangga-bangga dengan pujian manusia dan melalaikan hakikat niat yang tulus ikhlas mengharap ridha Allah.

Sebagaimana telah dinyatakan di depan, bahwa menyembunyikan amal itu tidak identik dengan ikhlas, maka menampakkan amal juga tidak identik dengan riya atau tidak ikhlas. Dengan demikian, jika publisitas adalah upaya untuk memberikan informasi yang positif, memberikan inspirasi kebaikan, memberikan motivasi beramal salih, dan memberikan pencitraan positif bagi dakwah, maka hal itu adalah sebuah keharusan.

 

sumber: hasanalbanna.com

Kader Imun dan Kader Steril : bag 2


Kader Imun dan Kader Steril

Seorang al-ustadz pernah menyampaikan bahwa “Proses Tarbiyah ini harus bisa menghasilkan kader yang imun bukan sekedar kader yang steril, karena Meningkatkan Imunitas itu sama pentingnya dengan menjaga sterilitas.

Dalam konteks pembinaan, kader yang steril adalah kader yang sudah terbiasa dengan lingkungan yang sudah terjaga, terisolasi dan jauh dari pengaruh lingkungan buruk.  Sedangkan kader yang imun adalah kader yang sudah dipersiapkan untuk bisa menjaga dan membentengi diri dari pengaruh lingkungan luar.Ia membangun ‘daya tahan’ terhadap perubahan konsisi lingkungannya. Kader yang imun sudah terbina untuk tetap terjaga dalam kondisi dan situasi seperti apapun, hatta ketika berada pada kondisi terburuk sekalipun. Sehingga ketika ia sudah keluar dari masa ‘karantina’ atau masa sterilisasi, ia tak mudah terkontaminasi dengan keadaan sekitar

Dakwah kampus misalnya, sering kita mendengar bahwa ada aktivis dakwah kampus yang semasa kuliahnya sangat begitu aktif dalam aktivitas dakwah bahkan menjadi salahsatu penggeraknya, namun ketika sudah lulus kuliah dan berada dalam dunia kerja, seakan militansi yang selama ini ada luntur seketika. Tak ada lagi heroisme yang dulu ada, saat di kampus merasa begitu haus akan ilmu, berjalan mengunjungi satu majlis ke majlis lainnya di kampus. Namun, setelah lingkungan barunya tidak menyediakan fasilitas serupa, semangat menuntut ilmupun dengan sendirinya semakin memudar. Enggan mendatangi majlis ilmu dengan alasan kerja atau keluarga. Seorang ikhwan misalnya, bila yang dibangun semasa di kampus hanya pada tataran sterilisasi diri dari pergaulan maka akan terjadi shock culture dan bisa jadi membawanya pada kondisi kefuturan. Atau pada diri akhwat, bila tak meningkatkan imunitas saat masa-masa penanaman ideology di kampus aka nada kemuungkinan misalnya, semakin memperkecil atau memendekkan jilbab yang dipakainya.

Oleh karenanya, penting dibangun sebuah imunitas dalam diri seorang aktivis dakwah, agar kapan dan dimanapun ia berada, ia tetap bisa mewarnai lingkungan, bukan terwarnai oleh lingkungannya. Yakhtalitu walakin yatamayyazun. Seorang kader bisa mewarnai bukan terwarnai. Kadang ada diantara kita yang sudah terlanjur merasa nyaman dengan lingkungannya, sehingga ketika memasuki dunia baru yang mungkin bertolak belakang, ia tak mampu menjaga keistiqomahannya seperti dalam lingkungan yang homogen tadi.

Akan tetapi, jangan sampai kita cukup berhenti dalam lingkungan steril itu. Karena, mau tidak mau, suatu saat kita pasti akan dihadapkan pada sebuah lingkungan dimana tingkat heterogenitasnya tinggi. Orang-orang dengan berbagai karakter dan worldview yang berbeda akan membaur membentuk suatu komunitas baru yang mungkin termasuk kita di dalamnya.

Wallahu A’lam bish showwab

Sleman, 1 Juni 2012

Jum’at Mubarak

Media #1: Dakwah via Twitter


udah pada tau kan kalau kemarin itu pengumuman SNMPTN jalur undangan? Udah tau juga kan berapa yang diterima di UGM lewat jalur itu?

Hah, belum pada tau, hadeeeeh.

wis, kita lewatin aja bahasan ini itu. krn saya juga sebenernya gatau jumlah pastinya berapa. he2..

Tapi ada satu hal menarik dari semenjak sore kemarin sampai hari ini ngeliatin TL yang berseliweran di akun twitter. Sadarkah kita bahwa jumlah ribuan maba yang diterima oleh UGM kemarin itu adalah ladang-ladang dakwah yang siap untuk dibuka???

Mereka sedang butuh-butuhnya info tentang UGM, tentang kos-kosan, tentang sekelumit jogja yang mungkin banyak diantara mahasiswa baru belum pernah menginjakkan kakinya di tanah mataram ini.

Apa hubungannya mahasiswa baru dengan dakwah dan juga twitter? Ya jelas, mereka adalah iron stock yang tersedia untuk melanjutkan estafet dakwah ini. Bukankah orang-orang tua di kampus sebentar lagi akan pergi. Lalu akan tergantikan oleh tunas-tunas dakwah yang baru.

Saya di sini cuma mau menyampaikan bagaimana perspektif dakwah dalam media nya saja. Meskipun pengalamannya sedikit di sini. Tapi tak ada salahnya yang sedikit itu bisa saling melengkapi. Dan saya jug gak ngebahas akun pribadi saya yang followernya segitu-gitu aja. Tapi klo urusan dakwah ada akun lain yang lebih bermanfaat 🙂

gini ya, sederhana saja: misalkan ada akun (pribadi/lembaga) yang tiap hari kultwit. ampe lebih dari lima seri hashtag tiap harinya dengan tema berbeda. Tapi followernya cuma SATU (ini sih ekstrim kirinya, he2). Nah, loh. gimana mau menyampaikan kebenaran dan gagasan briliannya klo followernya aja sedikit.

Analogi lain, buat apa ada radio dakwah atau TV dakwah atau Majalah-majalah dakwah?? Salah satu ekses yang diharapka kan adalah makin banyak orang yang tershibgah oleh dakwah Islam.

Asumsi saya, klo qt udah bahas follower atau bahasa kerennya jamaah. berarti bab niatnya udah beres. Dalam artian fokus utama kita sebenarnya bukan untuk menambah follower atau menambah jamaah yang mengikuti kita. Tapi “tsawabitnya’ tetap terjaga. Kata ustadz Solihun pas kajian manhaj tadi sore beliau mengatakan bahwa. Maqasid Asy-Syariah itu sifatnya Tsawabit sedangkan metode, sarana dan turuna-turunan tujuannya adalah mutaghayyirat. Yang bisa disesuaikan dengan kondisi di lapangan.

Analogi lain, Khatib, klo gak pake mic bisa aja sih. Toh zaman nabi dulu juga gak ada mic. Nah, tapi kan mic itu digunakan supaya orang-orang yang ada dimasjid itu ngedengerin semua. Apalagi seperti di istiqlal, sampe ujung-ujung masjid yang jaraknya puluhan meter juga masih ada ada jamaah. Dan mempebesar ruang kemungkinan tersyiarkannya dakwah adalah sebuah keniscayaan.

Artinya, bukan berarti orientasi dakwah kita pada follower. Tapi follower itu hanyalah sarana yang kita gunakan untuk memperluas cakupan kebaikan yang tersebar. Contoh misalnya akun pak @tifsembiring yang merupakan akun politisi nomor satu terbanyak followernya di Indonesia, ketika mengeluarkan statement yang isinya kebaikan atau me RT sebuah hadits, bayangkan 400 ribuan orang bisa membaca dalam satu waktu. Dan yang membacanya bukan hanya aktifis dakwah yang memang sehari-harinya akrab dengan hadits atau ayat-ayatu alqur’an. Tapi lihat followernya pak tif ini. Gak cuma aktifis dakwah, para politisi dari partai lain, akademisi, mahasiswa, pebisnis, buruh, karyawan dan dari segala macam kelas masyarakat ikut membaca twitnya.

Coba bandingkan ekstrim kiri dan kanannya. Seorang yang kicauannya bejibun tiap hari tapi yang memfollow cuma satu dengan seorang yang cuma sekali ngetwit tapi followernya 400 ribu. Lagi-lagi saya ulang. Dan penting untuk diulang-ulang terus BAHWA bab niat sudah beres dalam hal ini.

Penting untuk diingat kembali, bahwa tugas kita sebagai seorang yang ‘katanya’ aktifis adalah memperbesar ruang kemungkinan orang-orang yang tersentuh oleh dakwah. sehingga indahnya ber Islam itu gak cuma dirasakan oleh kalangan tertentu saja. Saya khawatirnya mereka yang selama ini antipati dengan dakwah itu disebabkan karena mereka belum tau bagaiman Islam mengatur dengan begitu terperinci dalam segala aspek kehidupan ini. Dan itu menjadi tugas para aktifis untuk lebih kreatif dalam memodifikasi sarana yang di gunakan. Ingat kreatif dalam memodifikasi SARANA, bukan memodifikasi TUJUAN.

Pahala kebaikan itu kan, seperti MLM. Makin banyak yang mengikuti, makan kitapun akan mendapat pahala kebaikan itu. Hatta, sampai kita sudah  meninggalpun pahala itu akan terus mengalir. Saat kata-kata kita mampu mengubah 1 orang itu adalah sebuah amal baik.  Saat kata-kata kita mampu menginspirasi 10 orang itu juga baik. Saat kata-kata kita mampu menggerakkan 1000 orang itu jauh lebih baik. Dan, ruang kemungkinan untuk tersebarnya kebaikan juga jauh lebih luas. Dan begitulah amal jariyah, 1000 orang akan mampu menginspirasi seribu orang lagi dan begitu seterusnya. Sehingga pesan-pesan kebaikan akan tersebar merata kepada mereka yang selama ini belum tersentuh dakwah. Jadi misalkan ada satu dua orang yang futur, dan gak meneruskan aktifitas kebaikannya itu, masih jauh lebih banyak orang yang istiqomah dalam ibadahnya.

Terakhir deh, karena sy juga udah ngantuk. Masalah hidayah itu, bukan domain manusia untuk memberikannya. Manusia hanya bertugas menyampaikan dan mengenalkan Islam kepada objek dakwahnya. Perkara orang itu kemudian tergerak untuk bergabung dalam jamaah dakwah itu bukan menjadi domain manusia. Kan dakwah itu salah satu untuk menguji siapa sih diantara hamba-hambNya yang serius dan istiqomah mengajarkan kebaikan pada orang lain. Nah, jadi dalam hal berkicau di twitter, poin terakhir ini jug perlu diperhatikan.

Jogja, 27 Mei 2012

Pukul 20.30 WIB

Refleksi: Allah Mendidik Kami dengan Jalan ini


 

Pentingnya memahami kaidah pertengahan…

Sungguh terasa saat kita berbaur dengan berbagai macam warna. Saat perjuangan itu mulai membesar, Allah berikan masalah untuk menyaring & menyeleksi siapa di antara para pejuang yang tetap bertahan. Saat saringan itu mulai menampakkan hasilnya, Allah akan buka kembali berbagai kemudahan bagi perjuangan itu, jika mereka layak mendapatkannya. Saringan itu berupa bibit-bibit kekecewaan, ide yg tak terpakai, terpaan berita buruk, hingga harta & tahta. Tidak ada ujian yang terlalu mudah.

Tahun ‘99, kita telah menyaksikan ujian itu. Banyak yang bergelimpangan, terlempar ke luar karena tekanan yang begitu kencang pada perjuangan ini. Semangat yang begitu tinggi, harapan yang amat besar, benar-benar membuat syok jiwa-jiwa yang tak siap menerima kecilnya dukungan saat itu. Sebagiannya pun berlarian, bertanya-tanya kepada dirinya sendiri. Inikah jalan itu? Jalan yg diyakini itu? Ini terlalu berat…

Namun perlahan tapi pasti, keyakinan itu mulai tampil. Kita tidak berjuang sendiri dan berjuang tidak untuk diri kita sendiri saja. Ada yang berkata “bukan ini jalannya!” karena tak ingin menahan beban yang sama di kemudian hari. Namun ada yang tetap tersenyum dalam duka. Dan seleksi Allah pun berlaku. Tertatih-tatih, langkah-langkah perjuangan harus tetap dilakukan, meski sebagiannya memilih jalan berbeda. Kami sadar, jalan berbeda itu belum tentu salah. Namun inilah yang telah kami pilih. Tiada kata mundur, apalagi bubar. Tetap maju.

Belajar dari pengalaman, begitulah tauladan Rasul. Ternyata, saat itu, tidak banyak yang mengenal kami, dan apa yg ingin kami berikan tuk negeri. Tidak ada jalan lain, perjuangan harus menggunakan kelebihan sang pejuang. Maka, turunlah ribuan dari kami memperkenalkan gerakan ini. Kami pun mengetuk jutaan pintu, berkelana dari satu gunung ke yang lain, masuk pedalaman, menyeberangi perairan. Memperkenalkan diri. Kami keluarkan isi kantong untuk menghidupi perjuangan ini. Berusaha tabah atas beraneka sambutan masyarakat yang ingin kami perjuangkan. Tiada keharusan bagi siapa pun untuk menerima apa yang kami sampaikan, namun kami mengharuskan diri untuk menyampaikannya. Dengan berbagai resikonya.

Saat itu, optimisme itu begitu menggairahkan. Menyeruak, ingin sekali kami berikan apa yang kami punya untk negeri. Sebagiannya pun berlarian, bertanya-tanya kepada dirinya sendiri. Inikah jalan itu? Jalan yang diyakini itu? Ini terlalu berat…

Kami sadar, kami masih tampak sebagai anak kecil yang manis, polos dan lugu tanpa beban. Biarlah semua anggapan itu. Yang penting berjuang. Perlahan kami berjalan, tersaruk-saruk & berulang kali menabrak tembok. Belajar dengan tergagap-gagap, sungguh banyak jebakan tertebar di dalam. Setelah kesulitan, ada kemudahan…

Allah gerakkan kami melompat cukup jauh. Mengokohkan wujud, bersiap untuk semakin mewarnai. Dan kembali Allah terapkan seleksinya atas perjuangan ini. Berbagai masalah yang tak terbayangkan muncul tiba-tiba, mengejutkan semua orang. Makin tinggi pohon, makin kencang terpaannya. Kami tidak mengaku tinggi, namun terpaan itu makin kencang terasa. Anak kecil manis yang lugu itu mulai tumbuh dewasa. Ia mulai belajar bersikap. Dan sebagian orang mulai menganggapnya berbahaya. Para pimpinan kami, adalah beliau-beliau yang telah bertahun-tahun lamanya mengorbankan banyak hal untuk perjuangan. Kami mencintai mereka semua. Mudah menyalahkan saat tidak berada di dalam. Tapi ketika hati-hati itu berpadu dalam doa, sungguh rasa syukur itu takkan terlupa selamanya.

Cerita belum berakhir, yang masuk akan makin banyak, yang tersaring juga akan ada. Semoga kita diberi kebaikan, di mana pun kita berada. Partai hanyalah sarana. Dengan atau tanpanya, perjuangan tetap berjalan. Politik adalah pilihan yang telah diambil. Sekarang, waktunya berjuang!

 

oleh: admin @PKSJerman