Penghambat menjadi hebat. ‘WhirlWind’


Oleh: Jamil Azzaini

Selalu sibuk mengerjakan banyak hal memang baik tetapi tidak akan menjadikanmu hebat. Sebagaimana ajakan kerja…kerja… kerja… memang terlihat aktif dan baik tetapi bila salah yang dikerjakan bisa menjerumuskan. Orang yang terjebak dalam kesibukan rutinitas harian, menurut Stephen R. Covey disebutnya whirlwind. Atau dengan makna lain, orang yang terjebak pada putaran puting beliung pekerjaan.

Orang yang terjebak dalam whirlwind akan membuat profesi, bisnis atau karirnya selamat saat ini tetapi akan musnah dikemudian hari. Oleh karena itu kita tidak boleh terjebak dalam whirlwind dan melupakan tujuan dan pekerjaan yang sangat penting bagi Anda. Ingatlah, apabila Anda fokus pada tujuan dan pekerjaan penting maka profesi, bisnis atau karir Anda selamat bahkan melesat di kemudian hari.

Apakah whirlwind tidak baik? Tentu sibuk dengan pekerjaan itu baik. Tetapi ingatlah pesan Jim Collins, “Musuhnya hebat itu adalah baik.” Terjebak dalam whirlwind memang akan membuat Anda baik saat ini tetapi akan tertinggal di masa depan. Dalam era sekarang, tidak cukup Anda hanya sekadar baik, Anda perlu menjadi hebat.

Lantas bagaimana agar Anda tidak terjebak dalam pusaran whirlwind? Pertama, fokuslah pada tujuan terpenting (tuting). Hampir semua kita tahu bahwa di dunia ini berlaku hukum pareto (80:20). 80 persen yang Anda peroleh berasal dari sumbangan 20 persen klien, mitra arau karyawan Anda. Semakin Anda fokus kepada yang sedikit justru hasilnya semakin besar.

Sayangnya, banyak orang yang terjebak whirlwind. Ingin terlihat sibuk dan banyak pekerjaan padahal hasilnya tidak signifikan dan kehidupannya stagnan. Yang lebih parah, ia stagnan tetapi tidak sadar bahwa dirinya stagnan karena sudah merasa sibuk setiap harinya. So, apa tuting Anda hingga akhir tahun ini?

Kedua, disiplinlah kepada aksi-pasti demi tercapainya tuting. Cobalah temukan apa aktivitas-aktivitas yang apabila Anda lakukan menjamin “pasti” bahwa tujuan itu tercapai. Contoh, apabila tuting Anda adalah menurunkan berat badan dari 80 ke 70, kira-kira apa aktivitas yang membuat berat badan itu pasti turun?

Bila jawabnya, kurangi makan nasi, gula dan gorengan. Maka disiplinlah untuk makan nasi misalnya menjadi hanya satu kali sehari. Disiplin untuk tidak minum manis dan menghindari makan gorengan.

Mengapa banyak orang yang punya tuting tetapi gagal mewujudkannya? Salah satunya karena mereka tidak disiplin fokus pada aksi-pasti. Nah pertanyaannya, bagaimana agar aktivitas kita tetap fokus pada tuting? Saya lanjutkan besok di website ini. Mau? Saya akan lanjutkan tulisannya apabila yang menulis komentar mau lebih dari 25 orang ya…

Salam SuksesMulia!

Sumber: jamilazzaini.com

Iklan

160 hari


tadi malam…. terakhir saya menyupirinya di kota ini.

tadi malam…. terakhir saya terpejamkan mata berada di sampingnya di kota ini.

tadi malam…. terakhir makan soto bersamanya di kota ini.

tadi pagi…. terakhir saya dibangunkan subuhnya di kota ini.

kota ini istimewa bukan karena seribu sungainya, bukan karena rawanya, bukan karena intan permatanya, bukan pula hiruk pikuk orang berjualan di atas airnya. kota ini istimewa karena ada dia. karena bersamanya. di kota ini.

kota yang menjadi tempat singgah pertama kami dalam rantauan.

28 Desember 2014 – 5 Juni 2015

Perjalanan (1)


Hampir satu tahun aku meninggalkan kota ini, Jogja. Tempat dimana segala peristiwa menjadi nuansa penuh makna yang setiap orang ingin merasakan kembali hangatnya, nyamannya dan menariknya kota ini. Bekasi, Serang, Banjarmasin telah menjadi pelabuhan tinggalku selanjutnya setelah kota ini. Namun selalu ada ‘rasa’ untuk terus mengenang Jogja, atau paling tidak berinteraksi dengan kehidupan orang-orang yang masih tinggal di sana. Teman-temanku banyak yang masih tinggal di sana, entah untuk melanjutkan skripsinya, kerja atau masih harus berjuang merampungkan perjuangannya dalam  berlembar-lembar catatan skripsi.

Ada kerinduan, Ada harapan, Ada kenangan yang masih tersimpan dalam. Berbagai momentum-momentum berkesan yang pernah kulalui di sana membuatku ingin mengunjunginya kembali. Beberapa kali akupun singgah di sana, hanya sekedar melepas rindu.

==========

Perjalanan hidup setahun yang kualami selepas kehidupan kampus pun mulai menemui titik dimana kehadiran seorang pendamping menjadi sesuatu yang mulai kupikirkan. Istri. Ya… seorang yang akan menemaniku bersama untuk berproses terus menjadi baik dan menapaki tahapan selanjutnya dalam hidup ini. binaul usrah.

Teringat sebuah obrolan dimana dulu saat menjadi mahasiswa banyak teman-teman yang bercerita bagaimana perjalannya hingga menemukan sekeping hatinya dan berakhir dalam bingkai rumah tangga. Ada teman yang menyampaikan bahwa ia dijodohkan oleh orang tuanya, dipertemukan oleh MR nya, nembak langsung ke calon dengan diawali kode-kodean rahasia ataupun cinta lokasi saat KKN yang berakhir di pelaminan. Serta masih banyak lagi kisah teman-teman yang kemudian membuatku berpikir. Langkah apa yang harus kutempuh?

==========

2 Maret 2014.

Bismillah.. sent!

Assalamu’alaikum mas.. berikut biodata saya, mohon koreksi kalau ada yg tdk sesuai format :)”

kurang lebih begitulah isi pesan yang kusampaikan di badan email yang terkirim ke MR ku waktu itu. Singkat, hanya sebaris kalimat penuh harap akan terjawabnya segera emailku itu. Langsung ku sandingkan juga pesan singkat via whatsapp, hendak mengabari beliau bahwa email yang diminta sudah kukirimkan.

“Sudah saya kirim emailnya mas.”

“Oke akh Jupri, ana teruskan ke BK**S kampus. Semoga berkah dan diberkahi”

Sebetulnya, bisa saja aku kirimkan pesan lebih panjang, ...”semoga segera ada jawabannya. Hehe” . Tapi aku juga sadar bahwa sedang banyak juga yang berproses di sana, sehingga harus menunggu waktu yang tepat.

Hari berganti hari, minggu per minggu kian berlalu dan 4 bulan pun sudah kulewati dengan resah yang menderu. Dalam hati aku bertanya,“kok belum juga ada jawaban ya.”

Hampir 4 bulan itu aku tak mengontak MR, namun karena rasa penasaranku kian bertambah, kuberanikan diri untuk bertanya ke MR ku itu.“biasanya jawaban proposal itu berapa lama ya mas?”

Aku bertanya diplomatis, supaya tak terkesan mengejar-ngejar beliau. 

“punya antum sedang di syurokan.”

Padahal aku tak bertanya tentang emailku, tapi beliau menjawab langsung mengarah ke pertanyaan tersirat yang aku ajukan. hehe

============

bersambung…….

seperempat abad


hari ini, saya (konon katanya) memasuki usia yang ke-25.
sudah 24 tahun berlalu, melewati beragam kepingan puzzle kehidupan. di usia yang ke-24 kemarin Allah memberikan sebuah anugerah yang hingga saat ini masih terus dan akan terus ku syukuri. Sebuah anugerah terindah dipertemukan dengan seorang wanita shalihah, Shiva Ulya Azizah. Semoga berkah terus ya sayang. 🙂
24 Tahun (by: Ebith beat A)
24 tahun…………yaa robanna
Hamba di dunia……yaa robanna
Hamba banyak dosa…yaa robanna
Hamba mohon ampunMelupakan satu kewajiban kita
Didunia yang telah tertulisakan
Dalam agama dalam keluarga
Banyak tergiur oleh fantasy duniaRajin mencapai cita
Ada yang jadi artis yang jadi pejabat
Tapi kenapa kita suka lupa
Terhadap kewajiban kita semua
Yang jadi artis banyak
Yang tidak hafal hadist
Yang jadi pejabat banyak
Yang ninggalain sholat

Ga jadi malu tetap begitu
Padahal itu semua hanyalah
Tipu muslihat biar kita dilaknat
Banyak ninggalin sholat, puasa
Apalagi dzikir cuma sekelebat

Allah subahanahuwataa’la
Memerintahkan kepada kita
Semua makhluknya didunia
Berusaha mencukupi kebutuhan
Manafkahi keluarga dari zaman
Nabi adam mencari siti hawa
Dan rasulullah bergerak
Dibidang niaga namun sebenarnya
Kita jangan lupa terhadap
Kewajiban kita semua

Jangan lupa sholat
Jangan lupa zakat
Jangan lupa dzikir

Sekarang mari kita evaluasi diri
Apa kekurangan kita didunia
Kita perbaiki ya……. buat bekal
Nanti dialam kekal

Keputusan untuk mencintai


komik

Cinta kadang memerlukan jeda. Dengan waktu agar hadirkan rindu, dengan jarak agar kuatkan harap. Namun cinta tak kenal masa. Ketika ia sudah diputuskan untuk hadir membawa harapan dan menepis segala keraguan, ia tak boleh hilang, tak boleh mundur, tak boleh berkurang… bahkan dalam sepi sekalipun.

Syukur dan sabar…. adalah dua kata yang terpatri mengiringi perjalanan ini. Lima bulan meniti tapak-tapak kesungguhan untuk hadirkan sebuah keberanian. Keberanian untuk membuat satu komitmen. Mencintai. Keberanian untuk menanggung konsekuensi logis dari keputusan untuk mencintai itu. Keberanian yang dimulai dalam sebuah sebuah perjanjian yang kokoh (miitsaaqan ghaliiza) dihadapan semesta yang menjadi saksi. Dan setelah itu, hari demi hari akan dilalui sebagai realisasi atas komitmen yang telah diucapkan.

Betul apa kata Anis Matta dalam buku serial cintanya, Para pecinta sejati tak suka berjanji. Tapi begitu mereka memutuskan untuk mencintai. Mereka akan segera membuat rencana untuk memberi. Ketika kita sudah memutuskan untuk mencintai, maka cinta itu telah berubah. Dari sekedar rasa, kini menjadi tindakan nyata untuk memberi.

Banjarmasin.30.11.14

menanti satu purnama untuk merenda kisah bersama

Mohon Do’a Restu :)


 

shiva-jupri-08

aku tak kuasa menolak.. bila engkaulah yang telah dipilihkan Nya untukku.

Jupri Supriadi & Shiva Ulya Azizah

 

Keluarga Bahagia Itu Sederhana Saja


Oleh Ust. Abdullah Haidir, Lc.

Keluarga mesra itu sederhana saja; Kalau suami tanpa beban dapat bilang sama istrinya, “Bu pijitin bapak dong.. pegel neh kerja seharian.” Sementara sang istri di lain waktu juga dapat dengan ringan bilang, “Pak, pijitan ibu dong, pegel neh seharian bersihin rumah…”

Keluarga rukun itu sederhana saja; Kalau suami tanpa beban dapat melihat akun FB, Twitter atau HP istrinya tanpa istri merasa dicurigai dan istri dengan ringan dapat melihat akun FB, Twitter atau HP suaminya tanpa suami merasa dimata-matai….

Keluarga hangat itu sederhana saja; Kalau suami dan istri dapat ngobrol panjang lebar berduaan dengan tema apa saja, dapat diselingi joke ringan sampai bercanda hingga ‘tonjok-tonjokan’….

Keluarga damai itu sederhana saja; Kalau suami dengan tulus memuji masakan istrinya yang sedap sedangkan di lain waktu dengan ringan dapat menegur makanannya yang kurang garam…. Sementara istri tidak terlalu khawatir jika makanan yang dia sediakan membuat suaminya marah, atau bahkan dengan ringan suatu saat dia mengatakan, “Pak, hari ini ibu tidak masak, kita beli saja yak…”

Keluarga akrab itu sederhana saja; Kalau suami senang berkunjung ke rumah orang tua istri dan istri riang jika berkunjung ke rumah orang tua suami. Kalau suami senang membantu keluarga istrinya dan istri dengan suka hati membantu keluarga suaminya…

Keluarga terbuka itu sederhana saja; Kalau istri dengan mudah dapat mengetahui isi kantong dan jumlah uang yang terdapat dalam rekening suami, sedangkan suami dengan mudah mengetahui dan memenuhi kebutuhan istri untuk keperluan diri dan urusan rumahtangganya…

Keluarga cinta ilmu itu sederhana saja, jika suami senang istrinya suka mengaji dan suka hati mengantarkannya ke pengajian walau melelahkan, sedangkan istri tidak menggerutu jika suami pulang malam karena menghadiri pengajian atau mereka datang bersama-sama ke pengajian..

Keluarga damai itu sederhana saja; Kalau suami dapat memahami jika sewaktu-waktu sang istri tidak dapat menunaikan kewajiban yang menjadi haknya dan istripun mau mengerti kalau sewaktu-waktu sang suami tidak dapat memenuhi kebutuhan yang diperlukan istrinya…

Keluarga akur itu sederhana saja; Jika istri dengan mudah dapat mengetahui posisi suami dan apa yang dia kerjakan tanpa suami merasa ‘dibuntuti’ sedangkan istri merasa selalu perlu izin suami jika ingin pergi tanpa merasa dikuasai…

Keluarga tenang itu sederhana saja, kalau marahnya suami kepada istri tidak berujung sumpah serapah dan tidak melupakan kewajibannya terhadap istri dan marahnya istri terhadap suami tidak berujung kata-kata keji dan tidak mengabaikan kewajibanya terhadap suami.

Keluarga aktif itu sederhana saja, jika suami merasa tenang dengan lingkungan pergaulan dan aktifitas istri di luar rumah karena sudah dia ketahui positifnya sedangkan istri juga merasa tenang dengan lingkungan pergaulan dan akifitas suami di luar rumah karena sudah disadari kedudukan dan manfaatnya. . ..

sumber: http://manhajuna.com/keluarga-bahagia-itu-sederhana-saja/