antara awal dan akhir


cdnoult blveiee taht I cloud aulaclty uesdnatrnrd waht I was rdaenieg. The phaeonmneal pweor of the hmuan mnid, aoccdrnig to a rscheearch at Cmaabrigde Uinervtisy, it doeosn’t mttaer in waht oredr the ltteers in a wrod are, the olny iprmoatnt tihng is taht the frist and lsat ltteer be in the rghit pclae. The rset can be a taotl mses and you can still raed it wouthit a porbelm.

Tihs is bcuseae the huamn mnid deos not raed the ervey lteter by itslef, but the wrod as a wlohe. Amzanig huh? Yaeh and I awlays tghuhot slpeling was ipmorantt! If you can raed tihs psas it on !!

Akhirnya, selesai juga ngetik kata-kata di atas, bayangkan untuk menulis kata-kata tersebut paling tidak bisa 3 kali lebih lambat dibanding tulisan normal pada awalnya.

Sebuah rangkaian kata yang diotak-atik sedemikian rupa sehingga keseluruhan kalimat tersebut itu bisa dibaca sempurna meski huruf-hurrufnya berurutan secara tidak lazim.

Namun, ada yang menarik dalam rangkaian kata-ata di atas. Betapapun hurufnya dibolak-balik, akan tetapi huruf awal dan akhirnya selalu diusahakan tetap seperti kata normalnya. Mengapa? karena awal dan akhir akan sangat menentukan bagaimana kita mengeja secara keseluruhan kata tersebut. Artinya, sepanjang kita mengetahui awal dan akhir katanya, hal tersebut akan relatif lebih mudah untuk dibaca meski huruf pertengahnnya berubah secara dinamis.

Dalam kehidupan ini, ada manusia yang tidak memikirkan akan kemana akhir yang akan ia tuju. Manusia terkadang lupa, bahwa keberadaannya di muka bumi ini pasti ada awal dan akhirnya. Ada awal bagaimana ia diambil janji setia kepada Sang Pencipta, sehingga ketika ruh itu ditanya “alastu bi rabbikum?”, lalu ruh itu menjawab “qaaluu balaa syahidnaa”.

Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)” (QS. Al-A’raf : 172)

Ketika kita menyadari kembali awal mula penciptaan kita sebagai manusia, maka rasa syukur itulah yang harus senantiasa terucap atas segala limpahan rahmat dan karuniaNya. Bahwa keberadaan kita di dunia ini mempunyai misi untuk menjalankan amanah sebagai khaliffah dan abdullah. Sehingga, fondasi dasar kepahaman akan amanah yang Allah berikan kepada manusia adalah untuk senantiasa meningkatkan kedekatan diri kita kepadaNya.

Selanjutnya, kita pun harus menyadari bahwa ada batas waktu yang telah Allah tetapkan untuk keberlangsungan hidup kita di dunia ini. Ada limit hingga yang menjadi titik akhir berakhirnya amanah manusia di muka bumi.

‘Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (Ali-Imran: 185)

Saat kita mampu memahami awal dan akhir hidup di dunia ini, insya Allah segala dinamisasi kehidupan akan dapat tetap terbaca sesulit apapun. Liku kehidupan adalah sesuatu yang harus dihadapi, karena hal tersebut adalah untuk menguji kita apakah kita mampu tetap bisa membaca esensi kehidupan ini.

Wallahu A’lam

Sleman, 5 April 2012

About jupri supriadi

unzhur maa qaalaa walaa tanzhur man qaalaa

One response to “antara awal dan akhir”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: