Dan ‘Atid pun menangis (bagian 1 dari 2)


Di malam yang sepi, di mana Fulanah sedang tidur,
Rakib dan Atid tetap terjaga untuk terus berzikir dan bermunajat kepada Allah seraya memanjatkan puja dan puji bagi Sang Pemilik alam semesta raya.
Di keheningan malam, hewan dan tumbuhan mendengarkan zikir mereka,
mengalun syahdu sambil menunduk, mengakui bahwa mereka hanyalah makhluk.
Hanya senyap yang tersisa,
di antara hingar bingar siang yang panas terasa.
Di antara zikir mereka, Rakib bergumam, “Wahai Atid, mengapa dulu kita diharuskan menyembah Adam, padahal mereka adalah orang-orang yang fasik?”
“Ah, hal itu karena hanya merekalah yang sanggup menjadi khalifah di muka bumi ini. Gunung pun menyerah ketika harus menjadi pemimpin. Hanya makhluk berakal sajalah yang patut menjadi pemimpin, Rakib!”
“Tapi aku tahu, engkau tidak buta Atid. Lihatlah catatanmu, penuh dengan catatan-catatan kejelekan yang Fulanah lakukan. Padahal, kita baru menukar dengan catatan yang baru saat Sya’ban menjelang dan dibersihkan oleh Allah kembali saat Syawal. Sekarang sudah Dzulhijjah dan kulihat tulisanmu lebih banyak daripada tulisanku. Aku percaya kalau janji Allah itu pasti benar tapi…” Rakib memutus perkataannya.
Atid pun terlihat bingung,”Iya, benar juga katamu tadi. Baiklah, bagaimana kalau esok hari kita buktikan bahwa janji Allah itu benar adanya. Kita buktikan, apakah manusia pantas menjadi sosok khalifah di bumi atau tidak. Sekarang lebih baik kita lanjutkan zikir kita yang terputus tadi.”
Pukul 00.00.
Gemerlap kota yang masih tersisa,
tidak menyurutkan semangat mereka untuk merasakan dekat dengan Allah.
Dekat dengan Sang Khalik, Sang Maha Pencipta yang Agung.
Sementara di samping mereka,
Fulanah tidur dengan pulas,
terbang dengan mimpinya,
melintasi waktu dan tempat,
melupakan realita yang menunggu di balik kelopak matanya yang terpejam.
Menunggu hingga azan Subuh menjelang…
Pukul 04.00
“Laa ilaaha illallah…”
“Teet… teet… teet…”
Bunyi bel asrama membangunkan Fulanah. Dengan terburu-buru, ia menuju kamar mandi dan berpakaian. Bergegas, menuju Masjid agar tidak mendapat poin.
Dan Rakib pun bertanya, “Inikah yang pantas menjadi khalifah, yang ketika bangun tidur tidak mengucap syukur kepada Allah dan berangkat menuju Masjid hanya karena poin, bukan karena mengharap ridha Allah semata?”
Atid terdiam. Ia tidak sanggup berkata apa-apa.
Di Masjid, saat pembacaan wirid.
Fulanah yang masih terkantuk-kantuk meraih kertas catatannya,
membaca catatan tersebut alih-alih memohon ampun kepada Allah,
karena akan ada TB pada jam pertama.
Sementara di samping kiri dan kanan,
semua orang khusyu’ menikmati setiap kata dari doa yang dipanjatkan.
Sambil berharap mendapatkan kemudahan yang Allah janjikan dalam hidup mereka.
Dan Rakib pun bertanya, “Inikah yang pantas menjadi khalifah, yang ketika waktu untuk mengingat Allah tersedia sekalipun, ia tetap menggunakannya untuk urusan duniawi?”
Atid terdiam, ia tidak sanggup berkata apa-apa.
Pukul 05.00
Semua orang sedang mengantre di kantin untuk mendapat sarapan.
Saling menyapa dengan cerah, secerah sambutan fajar pagi yang bersinar di ufuk timur.
Saling melempar senyum, saling melempar tawa bersama.
Begitupun dengan Fulanah.
Dengan riang ia dan teman-temannya duduk menghadapi meja panjang.
Mengoper bakul nasi, mengoper botol kecap.
Sembari mengobrol, bersenda gurau melempar bahan candaan.
Seakan-akan keadaan seperti itu akan berlangsung selamanya.
Tibalah saat di mana mereka selesai sarapan.
Teman-teman Fulanah terus mengobrol,
tanpa menyadari bahwa ada yang terjadi di sana.
Fulanah tidak menghabiskan makanannya.
Padahal sejak mengambil, ia tahu itu adalah makanan yang ia tidak sukai.
Namun ia tetap mengambilnya.
Entah apa yang ia pikirkan, hanya Allah yang tahu.
Dan Rakib pun bertanya, “Inikah yang pantas menjadi khalifah, yang menyia-nyiakan pemberian Allah, padahal di luar sana berjuta-juta orang memohon, menangis kelaparan demi sesuap nasi?”
Atid terdiam, ia tidak sanggup berkata apa-apa.
Pukul 06.45
Sampailah Fulanah di apel pagi.
Lagi-lagi sapaan riang menyambut udara pagi.
Bertanya tentang PR, berbagi cerita,
apa saja.
Danton menyuruh mereka untuk berdoa,
agar hari itu mereka dirahmati oleh Allah.
Dan doa pun berlangsung dengan khidmat.
Namun ada satu yang mengganggu.
Fulanah tertawa cekikikan bersama teman-temannya.
Tidak besar namun cukup menyebalkan.
Saat ada teman yang mendiamkan,
mereka malah tertawa dan melanjutkan bercerita.
Dan Rakib pun bertanya, “Inikah yang pantas menjadi khalifah, yang harusnya mengemban amanah sebagai khalifah untuk seluruh makhluk di muka bumi namun untuk menjadi teladan bagi teman-temannya saja ia tidak mampu? Ia malah mencontohkan hal yang buruk! Bercanda di mana teman-teman yang lain sedang menghadap Allah! Allah, Atid! Bukan orang tuanya, bukan gurunya, bukan temannya, bukan siapa-siapa! Allah, Atid! Menghadap Sang Pencipta mereka dan Sang Pemilik tubuh mereka! Mengapa ia begitu sombong, Atid? Mengapa?
Atid pun terdiam, ia tidak sanggup berkata apa-apa.
Pukul 09.00
Kala guru menerangkan pelajaran,
semua sibuk menyimak.
Tak ada suara, tak ada canda tawa.
Mendengarkan ilmu yang diberikan oleh guru,
demi berjihad di jalan Allah,
demi memajukan Islam dan mengembalikan kejayaannya seperti zaman dahulu.
Fulanah pun demikian.
Ia menyimak, mencatat,
dan menguap sesekali apabila setan datang menggoda.
Kemudian guru tersebut keluar karena ada sesuatu.
Dan Fulanah berbicara,
sungguh kasar bicaranya tentang guru tersebut.
Sambil menjulukinya dengan sebutan yang tidak pantas bagi seorang guru,
kembali ia tertawa bersama dengan teman-temannya.
Ia tidak sadar,
sungguh ia tidak menyadarinya,
bahwa Rakib dan Atid selalu setia mengawalnya hingga liang lahat.
Dan Rakib pun bertanya, “Inikah yang pantas menjadi khalifah, yang tidak menghormati gurunya sendiri padahal guru tersebut adalah pintu ilmu baginya? Ia menjadi tahu karena adanya guru. Padahal Sayyidina Ali bin Abi Thalib yang begitu hebatnya mau menjadi budak bagi seseorang yang mengajarinya satu huruf. Ia adalah orang yang merugi karena tidak memuliakan guru! Bukankah begitu, wahai temanku Atid?”
Atid terdiam, ia tidak sanggup berkata apa-apa.
Pukul 09.45
Bel istirahat berbunyi.
Tanda melepas lelah dan penat setelah belajar.
Fulanah pergi ke luar kelas untuk jajan,
tentu saja seperti teman-teman yang lain.
Oh, ternyata ia lupa membawa dompet.
Kemudian ia berkeliling,
mencari temannya yang mempunyai uang lebih untuk ia pinjami.
Ketika ia menemukannya dan mengutarakan maksudnya,
kening sang teman berkerut.
Maksudnya apa?
Bukankah kemarin Fulanah baru meminjam uang yang cukup besar pula?
Lalu, sembari lalu Fulanah berkata,
bahwa ia lupa dan ia meminta maaf untuk itu.
Tapi ia harus meminjam uang lagi saat ini,
karena ia lapar sekaligus akan menggantinya dengan hutang yang lalu.
Temannya dengan setengah ikhlas akhirnya meminjamkan.
Ia mendesah dan membuka dompetnya.
Kalau orang sudah berjanji seperti itu, mau dibilang apa lagi?
Dan di antara kerumunan orang yang sedang jajan,
Di antara canda tawa yang tiada putus,
Dua makhluk ciptaan Allah dari cahaya itu tetap berzikir,
sembari berzikir mereka tetap melaksanakan tugas mereka.
Dan Rakib pun bertanya, “Inikah yang pantas menjadi khalifah, yang lupa akan janjinya sendiri dan menyusahkan orang lain padahal orang lain sangat membutuhkan janjinya tersebut? Inikah orang yang pantas menjadi khalifah padahal sedari pagi ia lupa menyapa Allah? Inikah makhluk itu, Atid? Inikah makhluk itu? Engkau harus jawab pertanyaanku, Atid!”
Atid terdiam, ia tidak sanggup berkata apa-apa.
(…to be continued)

(Ini adalah edisi terakhir Qawat di semester ganjil ini, so nantikan edisi selnjutnya dari Qawat di semester depan ya!)

Insan Cendekia Serpong, 2006

About jupri supriadi

unzhur maa qaalaa walaa tanzhur man qaalaa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: